Chapter 15 - Terluka

394 45 6
                                        

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------

Happy reading ❤️

Waktu makan siang telah usai, dan suara tegas Sehun menggema di kantin, memerintahkan semua orang untuk kembali bekerja. Lisa, yang masih berpura-pura kakinya sakit, melihat ini sebagai kesempatan emas. Dengan bantuan Rose, ia berharap bisa keluar dari ruangan ini sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

"Aku akan membantumu ke ruang istirahat," ujar Rose, mencoba menopang tubuh Lisa dengan penuh perhatian.

Namun, sebelum mereka sempat pergi, langkah Sehun mendekat, menghentikan mereka begitu saja.

"Rose, kembali ke tempatmu," ucapnya dengan nada yang tak bisa dibantah.

Lisa terkejut, menoleh ke arah Rose dengan tatapan memohon agar gadis itu tidak meninggalkannya sendirian. Tapi alih-alih membantu, Rose malah menyeringai jahil, mengedipkan mata sebelum memberikan acungan jempol.

Lalu, dia pergi begitu saja.

Lisa mengumpat dalam hati.

Sekarang, hanya ada dirinya dan Sehun di dalam kantin yang mendadak terasa terlalu luas, namun juga terlalu sempit di saat yang bersamaan. Bahkan para staf kantin sudah menghilang, seakan mereka tahu lebih baik untuk tidak berada di sini ketika Sehun mengambil alih keadaan.

Lisa menelan ludah, berdiri canggung di tempatnya. Ia berusaha mengontrol napasnya agar tetap stabil.

"Kalau tidak ada yang dibutuhkan, saya akan pergi dulu," katanya cepat, berharap bisa segera keluar.

Sehun tidak langsung menjawab. Matanya turun ke arah kaki Lisa, memperhatikan langkah tertatih nya dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.

"Lain kali, jangan gunakan tubuhmu untuk melawan."

Lisa tersentak, reflek mundur. Tapi ia lupa ada meja di belakangnya. Punggungnya menabrak permukaan kayu, menjebaknya di antara benda dingin itu dan tubuh Sehun yang semakin mendekat. Napasnya tercekat sesaat, lalu ia buru-buru mengangkat dagu, mencoba menyembunyikan kegelisahannya di balik ekspresi polos. "Maksud Anda pak?"

Sehun melangkah mendekat. Gerakannya santai, seolah tidak tergesa-gesa, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Lisa merasa semakin terperangkap.

Lisa mundur, mencoba menciptakan jarak. Tapi ia lupa—di belakangnya ada meja.

Dalam sekejap, ia tersudut.

Sehun kini berdiri hanya beberapa inci darinya, cukup dekat hingga Lisa bisa merasakan hawa tubuhnya.

"Kau yakin tidak mengerti?" bisiknya pelan, nada suaranya nyaris seperti tantangan.

Lisa menegakkan bahu, berusaha mempertahankan ekspresi netral meskipun jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. "Saya tidak tahu apa yang anda bicarakan Pak."

Sehun tidak menjawab. Ia hanya menatapnya, seolah menguji seberapa jauh Lisa bisa bertahan.

Lisa mencoba mendorong dada pria itu agar menjauh, tapi ia bahkan tidak bergerak sedikit pun.

Dalam satu gerakan cepat, Sehun meraih pinggangnya dan mengangkatnya dengan mudah, mendudukkannya di atas meja.

Lisa tersentak, tangannya refleks mencengkeram bahunya. "Apa yang kau—"

Sehun menatapnya lekat. Matanya menyelidik, tajam, seakan menunggu apakah Lisa akan berontak atau memilih diam.

Lisa menolak tunduk begitu saja. Ia mencoba melawan, tetapi pria itu menahan kedua pergelangan tangannya dengan satu tangan, membuatnya tak bisa bergerak.

Red Seduction Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang