Chapter 13 - Mengujiku

444 41 16
                                        

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------

Happy reading ❤️

Lisa mengambil baju cadangan yang diberikan Sehun, lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Begitu air hangat menyentuh kulitnya, ia menghela napas panjang, membiarkan tubuhnya rileks untuk pertama kalinya sejak semalam.

Matanya terpejam, pikirannya perlahan melayang kembali ke kejadian yang terus menghantuinya.

Sehun…

Pria itu bukan hanya menyebalkan, tapi juga penuh teka-teki. Dan semalam, dia melakukan sesuatu yang benar-benar di luar dugaan—memberikan pistol padanya.

Jemarinya mengepal di bawah pancuran air. Itu bukan sekadar tantangan atau lelucon. Tidak ada orang yang sembarangan memberikan senjata api kecuali mereka memiliki alasan kuat.

Apakah Sehun sedang mengujinya? Atau… apakah dia mulai mencurigainya?

Lisa menggigit bibirnya, pikirannya berputar cepat. Jika Sehun benar-benar menaruh curiga, maka ini bisa menjadi masalah besar.

Aku tidak boleh lengah.

Ia menatap refleksi samar dirinya di cermin yang mulai tertutup uap. Matanya, yang biasanya penuh kehati-hatian, kini menatap balik dengan sorot yang lebih tajam, lebih waspada.
Lisa membuka matanya perlahan, membiarkan air mengalir di wajahnya. Penyamarannya tidak boleh terbongkar—itu adalah prioritas utama.

Lisa menghela napas panjang. Pikirannya harus tetap jernih. Selama ini, dia sudah memainkan perannya dengan baik sebagai sekretaris biasa—dia tidak boleh membuat kesalahan sekarang.

Setelah selesai mandi, Lisa mengenakan baju cadangan yang diberikan Sehun—kemeja oversized putih dan celana longgar krem. Pakaian yang cukup nyaman, tapi tetap memberi kesan profesional. Ia mengeringkan rambutnya sekadarnya sebelum keluar dari kamar mandi.

Sehun sudah menunggu di meja makan dengan secangkir kopi di tangannya. Pria itu melirik ke arahnya, matanya menelusuri Lisa dari atas ke bawah sebelum tersenyum tipis.

"Pakaian itu cocok untukmu," katanya santai.

Lisa menatapnya datar. "Saya tidak butuh pujian Anda."

Sehun terkekeh, lalu kembali menyeruput kopinya. "Duduklah. Aku sudah memesan sarapan."

Lisa mendesah pelan, lalu menarik kursi dan duduk. Di atas meja, sudah tersedia roti panggang, omelet, dan jus jeruk.

"Kita turun setelah ini?" tanyanya, berharap pria itu tidak akan membuat masalah lagi.

Sehun menaruh cangkir kopinya dengan tenang, lalu menatap Lisa dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Tentu saja. Setelah sarapan, kita akan kembali ke kantor. Tapi...”

Lisa sudah menduga akan ada tambahan. “Tapi apa?”

Sehun menyandarkan tubuhnya ke kursi, jari-jarinya mengetuk permukaan meja dengan ritme lambat. “Aku ingin tahu satu hal, Lisa.”

Lisa menegakkan punggungnya secara refleks. “Apa?”

Sehun menatapnya lekat, seolah mencoba membaca setiap ekspresi halus di wajahnya. Lisa berusaha tetap tenang, meskipun jantungnya berdegup kencang.

Lalu, dengan nada serius yang nyaris menegangkan, Sehun bertanya, “Apa kau biasanya tidur berdengkur?”

Lisa yang masih dalam mode waspada langsung tersedak, tidak percaya dengan pertanyaan absurd itu. Sia-sia saja tadi dia merasa tegang dan waspada. Dengan refleks, dia mengayunkan pukulan ringan ke lengan Sehun, membuat pria itu terkekeh puas.Sehun menatapnya lekat, seolah mencoba membaca setiap reaksi kecil di wajahnya. Lisa mencoba terlihat biasa, walaupun jantungnya sekarang berdegup kencang.

Red Seduction Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang