JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------
Happy reading ❤️
Chanyeol terdiam. Ia tahu persis, begitu Sehun mulai bicara dengan metafora, artinya ada sesuatu yang lebih dalam tengah bergulir dalam pikirannya. Sesuatu yang tidak bisa disentuh dengan logika biasa.
"Kalau... kalau dia tidak ingin pintunya dibuka?" tanyanya pelan, nyaris seperti bisikan.
Sehun menoleh. Tatapannya tajam, namun tenang, seperti laut dalam yang menyimpan badai di dasarnya.
"Maka aku akan duduk di depan pintu itu," ucapnya lirih, "Hingga dia cukup penasaran untuk membukanya sendiri."
Chanyeol mengernyit, mencoba memahami. "Kenapa tidak tuan dobrak saja pintunya? Bukankah lebih cepat dan lebih mudah."
Sehun terkekeh pelan, nada suaranya seperti seseorang yang tahu terlalu banyak untuk diganggu dengan hal sederhana semacam itu.
"Karena kalau kau mendobraknya, pintu itu akan retak," katanya tenang, nyaris seperti gumaman. "Dan yang retak, Chanyeol... tak pernah benar-benar kembali utuh. Bahkan setelah diperbaiki, bekasnya tetap tinggal. Seperti luka yang tak pernah benar-benar sembuh."
Ia bangkit perlahan, menepuk pundak Chanyeol sekali, lembut namun bermakna.
"Itulah sebabnya," lanjutnya sambil berjalan menjauh, "Kau harus segera punya pasangan. Supaya kau mengerti... beberapa pintu hanya bisa dibuka dengan kesabaran, bukan kekuatan."
*****
Lisa melangkah perlahan melewati jembatan kayu menuju kamarnya. Suara langkahnya berpadu dengan hembusan angin malam, menyisakan jejak kegelisahan yang belum juga surut. Begitu pintu tertutup di belakangnya, keheningan langsung menyergap, dingin, asing, dan tidak bersahabat.
Ia bersandar pada daun pintu, menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak, seperti menahan sesuatu yang tak bisa diluapkan.
"Apa yang barusan terjadi..." gumamnya, nyaris tak terdengar.
Bayangan Sehun masih jelas di benaknya, tatapan mata itu, suara pelan yang berbisik di dekat telinga, sentuhan singkat yang masih membekas di kulitnya. Lisa menggigit bibir bawahnya, mencoba mengusir rasa campur aduk yang menyerangnya. Seharusnya ia menjauh. Seharusnya ia marah. Tapi tubuhnya tidak bergerak. Yang tertinggal justru aroma samar yang membuat pikirannya terperangkap.
Lalu terdengar ketukan.
Lisa terlonjak ringan, jantungnya menegang. Ia buru-buru mengintip dari celah jendela. Bukan Sehun. Itu Rose.
Lisa membuka pintu perlahan. Rose berdiri di ambang, seperti seseorang yang tak yakin apakah ia diterima atau ditolak. Wajahnya canggung, namun matanya jujur, penuh dengan tanya, penyesalan, dan sesuatu yang mirip dengan rasa bersalah.
Lisa tak berkata apa-apa, hanya memberi jalan. Rose melangkah masuk dengan hati-hati, seperti seseorang yang tengah menapaki lantai rapuh. Ia menutup pintu di belakangnya perlahan, dan seketika ruangan itu berubah hening, bukan hening yang damai, tapi sunyi yang penuh ketegangan, seperti udara sebelum petir menggelegar.
"Aku tidak bermaksud mengejutkanmu," ucap Rose akhirnya. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan yang takut terdengar. "Dan aku... aku minta maaf. Karena sudah membuatmu jadi tontonan seperti itu."
Lisa masih diam. Ia hanya menunduk, memandangi tangannya sendiri yang saling menggenggam erat, seolah itu bisa menahan dirinya agar tidak runtuh. Napasnya mulai teratur, tapi dadanya tetap terasa sesak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Seduction
RomansaLisa, putri dari seorang bos mafia, terpaksa menerima misi berbahaya demi kebebasannya, mencuri Blue Diamond milik Ooh Sehun, CEO muda yang dingin dan kejam. Demi menyusup ke dalam hidupnya, ia menyamar sebagai sekretaris culun yang tak mencolok. Na...
