Chapter 8 - Ketahuan

4.8K 266 28
                                        

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------

Happy reading ❤️

Lisa menelan ludah, tubuhnya masih membeku di tempat. Jantungnya berdegup kencang, sementara tatapannya bertemu dengan sorot mata terkejut Jungkook yang berdiri di ambang pintu.

Pria itu memandangi mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan—seperti gabungan keterkejutan, kebingungan, dan sesuatu yang lain yang lebih dalam, lebih gelap. Lisa bisa merasakan panas menjalar ke seluruh wajahnya, terutama mengingat keadaan dirinya yang berantakan: rambut kusut, napas masih tersengal, dan posisinya yang terlalu dekat dengan Sehun.

Sehun, di sisi lain, tampak begitu santai. Ia bersandar dengan angkuh di sofa, menyilangkan kaki dengan sikap penuh kemenangan. Senyum kecil yang menghiasi wajahnya membuat darah Lisa semakin berdesir—antara marah dan malu.

"Aku datang di waktu yang salah, ya?" Jungkook akhirnya angkat bicara. Nada suaranya terdengar setengah geli, setengah curiga. Satu alisnya terangkat, memperjelas ekspresi ingin tahunya.

Lisa tersentak dari keterkejutannya. Panik, ia buru-buru berdiri dan merapikan pakaiannya. "Tidak! Ini bukan seperti yang anda pikirkan!" suaranya meninggi, penuh urgensi.

Namun Sehun hanya terkekeh pelan. "Salah paham?" ulangnya dengan nada menggoda. "Aku rasa tidak, Sayang."

Lisa melotot ke arahnya. Rahangnya mengatup rapat, menahan dorongan untuk meninju pria itu di wajah. "Pak Sehun!" desisnya tajam, memperingatkan.

Jungkook menatap mereka bergantian, lalu menghela napas pendek. Matanya bertahan sedikit lebih lama pada Lisa, seakan menunggu penjelasan lebih masuk akal. Tapi sebelum Lisa bisa berkata sesuatu, pria itu sudah berbalik dan melangkah pergi.

Pintu tertutup di belakangnya.

Lisa memejamkan mata sejenak, menahan diri agar tidak merutuki keadaan dengan suara keras. Ini buruk. Sangat buruk.

Ketika ia hendak pergi, jemari kokoh Sehun tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya, menghentikan langkahnya.

"Eits, siapa yang menyuruhmu pergi?" suara Sehun terdengar dalam dan tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Lisa bergidik.

Ia menoleh, berusaha mempertahankan ekspresi setenang mungkin. "Maaf, Pak Sehun. Saya harus bekerja. Masih banyak file yang harus saya periksa," ucapnya sopan, berharap Sehun akan melepasnya begitu saja.

Sayangnya, harapan itu pupus dalam sekejap.

Alih-alih melepaskan, Sehun menariknya dengan lembut namun cukup kuat untuk membuat Lisa kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, ia jatuh ke pangkuan pria itu. Jantungnya nyaris melompat keluar dari dadanya.

"Pak Sehun!" Lisa berusaha bangkit, tetapi Sehun sudah lebih dulu melingkarkan lengannya di pinggangnya, menahannya tetap di tempat.

Napasnya memburu, terutama ketika ia merasakan dagu pria itu bertumpu di ceruk lehernya.

"Kau mau apa? Lepaskan aku!" Lisa meronta, berusaha melepaskan diri.

Namun Sehun justru berbisik di telinganya dengan nada rendah yang berbahaya.

"Jangan bergerak, Sayang… atau apa yang kau takutkan bisa saja terjadi."

Lisa membeku. Ada sesuatu dalam suara pria itu yang membuatnya enggan mengambil risiko.

Sehun tersenyum kecil, seolah puas melihat reaksinya. "Aku tidak menyuruhmu pergi. Kenapa terburu-buru?" bisiknya, suaranya lembut tapi penuh dominasi.

Lisa menelan ludah, merasakan sensasi aneh menjalar dari tengkuk hingga ujung kakinya. Ia harus segera keluar dari sini.

Red Seduction Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang