JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------
Happy reading ❤️
Lisa terduduk di atas ranjang, napasnya masih belum stabil. Dadanya naik-turun tak beraturan, seolah paru-parunya sedang berlomba dengan detak jantungnya yang liar. Kedua tangannya menggenggam erat sprei, seakan hanya kain itu yang mampu menahan badai dalam dirinya.
Perlahan, ia membaringkan tubuhnya. Helaan napasnya berat, gusar, seperti ingin mengusir pikiran-pikiran yang berseliweran tak tahu arah.
"Sepertinya aku tidak akan bisa tidur malam ini…" gumamnya pelan, hampir seperti bisikan kepada dirinya sendiri.
Namun kenyataannya berbeda. Tak lama setelah itu, tubuh dan jiwanya menyerah. Ia terlelap dalam tidur yang dalam, bukan karena tenang, melainkan karena tubuh dan pikirannya yang kelelahan.
Pagi menyusup perlahan dengan warna jingga yang malu-malu membelah langit timur. Debur ombak tetap setia menyapa pantai, dan angin laut menyelinap ke sela-sela dedaunan, membawa kesejukan yang nyaris meluruhkan kantuk. Villa itu kembali hidup. Suara-suara mulai mengisi ruang. Tawa Rose yang renyah dari lounge area, denting cangkir beradu, langkah kaki para pelayan yang bergegas memulai hari.
Lisa duduk di beranda, ditemani secangkir kopi yang uapnya menari di udara. Namun uap itu tak cukup kuat untuk menghangatkan kekosongan dalam dirinya. Tatapannya mengambang ke laut, tapi pikirannya jauh tertinggal semalam. Setiap hembusan angin terasa seperti langkah Sehun. Setiap bayangan yang melintas di balik kaca seperti sosoknya yang muncul tiba-tiba, tanpa permisi, meninggalkan jejak di benaknya.
"Hey, pagi," sapa Rose dari balik pintu kaca. Rambutnya masih sedikit acak, kaus putih kebesaran yang dikenakannya menambah kesan santai. Ia menyipitkan mata melihat Lisa. "Kau terlihat... tidak baik."
Lisa hanya menanggapi dengan senyum tipis, seperti awan yang menutupi sinar mentari. "Hanya… ada sesuatu yang menggangguku."
Rose tidak memaksa. Ia tahu, ada hal-hal yang tak bisa dipaksa keluar sebelum waktunya. Maka ia hanya duduk di sebelah Lisa, lalu mengalihkan pembicaraan ke topik hangat yang sudah menjadi bisik-bisik diantara para karyawan sejak pagi.
Setelah sesaat, Rose membuka percakapan, seperti pagi-pagi biasanya. "Oh, ya. Apa kau sudah dengar katanya Mr. Ooh akan datang sore ini?"
Lisa menoleh, mengangkat alis pelan. "Bukankah dia sudah di sini semalam?"
Rose memandangnya dengan dahi mengerut. "Apa maksudmu? Mr. Ooh masih di India sampai tadi malam. Dia sedang mengurus kerja sama besar. Aku bahkan baru lihat fotonya di berita pagi ini."
Lisa tercenung. "Tapi... dia datang ke kam—" ucapannya terhenti. Terlambat.
Rose sudah membaca maksud tersembunyi dari ucapan yang terpotong itu. Ia segera membuka ponsel dan menunjukkan artikel terbaru, dimana Sehun sedang berjabat tangan dengan mitra bisnis di Mumbai. Di pojok kanan atas, tanggal kemarin tertera jelas.
Lisa menatap layar itu seperti menatap kenyataan yang sulit diterima. Ia tak bisa berkata-kata.
Jika Sehun ada di India kemarin… lalu siapa yang datang ke kamarnya semalam? Apakah semua itu hanya mimpi? Tapi terasa terlalu nyata, sentuhannya, tatapannya, bahkan ketegangan yang tertinggal di udara.
Lisa menunduk, berusaha mencerna. Apa benar itu hanya bunga tidur? Tapi mengapa ia bisa memimpikannya?
Pikirannya riuh. Dirinya mulai mempertanyakan batas antara kenyataan dan ilusi. Mungkinkah ia memimpikannya karena... rindu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Seduction
RomanceLisa, putri dari seorang bos mafia, terpaksa menerima misi berbahaya demi kebebasannya, mencuri Blue Diamond milik Ooh Sehun, CEO muda yang dingin dan kejam. Demi menyusup ke dalam hidupnya, ia menyamar sebagai sekretaris culun yang tak mencolok. Na...
