JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------
Happy reading ❤️
Keesokan paginya, Lisa terbangun oleh dering ponsel yang nyaring memecah sunyi. Dengan mata setengah terbuka dan kepala yang masih berat, ia meraih ponselnya dari meja. "Halo...?" gumamnya pelan.
Namun suara di seberang membuat kantuknya lenyap seketika.
"Lisa, kau di mana?" Suara Sehun terdengar tegas, nyaris cemas. "Kenapa belum datang?"
Lisa menegakkan tubuhnya. Matanya langsung melirik ke jam dinding, pukul sepuluh. Napasnya tercekat.
"Astaga… maaf, aku tertidur," ucapnya buru-buru.
"Kau punya sepuluh menit," balas Sehun sebelum telepon terputus.
Tanpa pikir panjang, Lisa bangkit dari sofa. Kepalanya masih sedikit pening, tapi detak panik membuat tubuhnya bergerak cepat. Saat hendak mengambil jaketnya, ia baru menyadari Rose masih tertidur di sudut sofa, berselimut setengah terbuka, wajahnya tenang seperti anak kecil.
"Rose… bangun," bisiknya, mengguncang bahu sahabatnya pelan.
Namun Rose hanya mengerang pelan dan kembali membalikkan badan. Lisa mencoba sekali lagi, tapi tetap tak ada hasil. Ia menatap jam sekali lagi, waktu terus melaju tanpa ampun.
"Aku akan bilang kau sakit," gumamnya pelan, lalu menuliskan catatan singkat di selembar kertas sebelum akhirnya menyambar jaket dan keluar rumah.
Lisa berlari menembus pagi yang masih sepi, angin dingin memukul wajahnya. Untungnya, rumah Rose tak terlalu jauh dari kantor. Nafasnya terengah, tapi langkahnya tak berhenti.
Dalam benaknya, suara Sehun terngiang, tegas, tidak sabar, namun entah kenapa hari ini terdengar sedikit lebih peduli. Lisa menggigit bibirnya, berharap keterlambatannya tak mengubah segalanya.
Langkahnya tak berhenti sampai kantor mulai terlihat dari kejauhan, dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia berharap waktu bisa sedikit berkompromi.
Begitu mencapai kantor, Lisa mendorong pintu masuk dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi pelipisnya, bercampur dengan udara pagi yang masih menggigit. Lorong tampak lengang, hanya gema langkahnya yang terdengar menabrak dinding-dinding beton di bawah cahaya lampu neon yang redup.
Ia mempercepat langkah. Setibanya di ruangan Sehun, pria itu sudah berdiri di sana, tegak di depan mejanya, tangan terlipat di dada, matanya tajam menatap pintu seolah telah menunggunya sejak lama.
Lisa mengatur napasnya, lalu menunduk sedikit. "Maaf… aku terlambat. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Sehun tak langsung menjawab. Tatapannya mengamati Lisa dari ujung kepala hingga kaki—wajah lelah, seragam yang kusut, dan aroma samar alkohol yang menyertai hembusan napasnya. Perlahan, ia melangkah maju, menutup jarak hingga hanya satu langkah memisahkan mereka.
"Di mana kau semalam?" tanyanya, suaranya rendah namun mengguncang.
Lisa terdiam, terkejut saat kedua lengannya digenggam erat. Cengkeraman itu bukan menyakitkan, tapi cukup kuat untuk membuat jantungnya berpacu.
"Aku tanya, Lisa. Jangan buat aku mengulangnya." Kali ini suaranya lebih tegas, lebih dingin. Tatapannya menyelidik, penuh amarah yang ditahan.
Lisa mencoba memahami, kenapa Sehun marah? Karena ia terlambat? Atau karena… sesuatu yang lain?
"A-aku… aku bersama Rose. Kami hanya minum sebentar dan tertidur di rumahnya," jawab Lisa tergesa, sorot matanya panik, napasnya belum sepenuhnya tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Seduction
RomanceLisa, putri dari seorang bos mafia, terpaksa menerima misi berbahaya demi kebebasannya, mencuri Blue Diamond milik Ooh Sehun, CEO muda yang dingin dan kejam. Demi menyusup ke dalam hidupnya, ia menyamar sebagai sekretaris culun yang tak mencolok. Na...
