JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------
Happy reading ❤️
Sehun menatap Lisa tanpa berkedip, seolah mengukir setiap garis wajah gadis itu ke dalam ingatannya, sebuah kenangan yang enggan ia lepaskan.
Dalam keheningan yang rapuh, hanya desah napas mereka yang terdengar, panas, berat, bertabrakan di antara udara yang tiba-tiba terasa terlalu sempit.
Waktu seolah membeku, membungkus mereka dalam dunia kecil, dunia di mana hanya mereka berdua yang ada.
Namun, dentingan ketukan di pintu memecahkan gelembung rapuh itu.
Suara berat Chanyeol memanggil dari luar, mengingatkan Sehun tentang makan malam yang telah dijadwalkan bersama ayahnya.
Tersentak, Lisa buru-buru mendorong dada Sehun, menciptakan jarak di antara mereka. Tanpa sempat menoleh, ia berucap cepat, suaranya bergetar, "Aku ... aku harus pergi," lalu melangkah keluar, wajahnya semerah senja yang baru saja jatuh ke bumi.
Sehun tetap diam di tempatnya, membiarkan gadis itu melarikan diri, sementara sebuah senyuman kecil bermain di sudut bibirnya, sebuah tanda bahwa jejak Lisa telah terpatri lebih dalam dari yang bisa ia ungkapkan.
Di luar ruangan, Lisa hampir menabrak Chanyeol yang berdiri di ambang pintu.
Mata mereka bertemu sekilas, Chanyeol hendak membuka mulut, tapi Lisa lebih cepat menunduk dan berlari pergi, meninggalkan aroma manis dan kehebohan kecil di belakangnya.
Tak jauh dari sana, Rose yang baru saja keluar dari toilet, melihat Lisa berlari terburu-buru dan segera mengejarnya.
Saat tiba di meja kerja Lisa, Rose membeku sejenak, matanya membulat saat melihat rona merah terang di wajah sahabatnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Rose, suaranya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Lisa tersentak. Panik, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, seolah berusaha menyembunyikan gejolak yang membakar pipinya.
Rose melangkah lebih dekat, senyumnya mengembang penuh arti, lalu membisik, "Apa Mr. Ooh melakukan sesuatu padamu?"
Mendengar itu, tangan Lisa refleks terangkat ke bibirnya, seakan ingin memastikan bahwa sentuhan yang belum sempat terjadi itu bukan sekadar bayangan.
Mata Rose membelalak. Dengan suara setengah berteriak, ia berseru, "KALIAN BERCIUMAN?!"
Lisa buru-buru menutup mulut Rose dengan panik, hampir putus asa menahan agar dunia tidak mengetahui gejolak kecil di hatinya.
Napasnya masih memburu, tubuhnya seolah diselimuti bara yang belum padam.
Rose berdiri sambil menyilangkan tangan di dada, menatap Lisa dengan senyum nakal yang nyaris tak tertahankan.
"Jadi... benar, kan?" bisik Rose antusias. "Kalian berciuman?"
Lisa hanya menggigit bibir bawahnya, tak mampu berkata-kata. Pipinya yang membara sudah cukup menjadi jawaban yang tidak perlu diucapkan.
Tertawa kecil, Rose menggenggam kedua tangan Lisa.
"Astaga, Lisa! Kau harus menceritakan semuanya!" desaknya, hampir berteriak sebelum Lisa buru-buru kembali membungkam mulutnya.
"Diamlah," bisik Lisa tergesa, matanya melirik ke pintu. "Nanti ada yang dengar."
Rose mengangguk cepat, walau semangat di matanya sama sekali tidak surut.
Lisa menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berlari liar.
Dengan suara lirih, hampir tak terdengar, Lisa berkata, "Kami tidak benar-benar berciuman... hanya sekilas, oke?"
Mata Rose membulat semakin besar. "Sekilas? Oh Tuhan... kau membuat Mr. Ooh kehilangan kendali?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Seduction
RomansaLisa, putri dari seorang bos mafia, terpaksa menerima misi berbahaya demi kebebasannya, mencuri Blue Diamond milik Ooh Sehun, CEO muda yang dingin dan kejam. Demi menyusup ke dalam hidupnya, ia menyamar sebagai sekretaris culun yang tak mencolok. Na...
