Chapter 23 - Menyelinap

245 44 6
                                        

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------

Happy reading ❤️

Malam pertama, di pulau Maladewa. Suasana di villa begitu hening, hanya debutan air laut dan suara angin yang terdengar. Semua orang telah terlelap, kelelahan membungkus tubuh mereka seperti selimut berat.
Lisa pun tak terkecuali, tertidur nyenyak di atas ranjang, napasnya teratur, wajahnya teduh di bawah cahaya bulan yang menerobos dari sela tirai.

Tanpa suara, pintu kamar berderit perlahan.
Seorang pria melangkah masuk, gerakannya tenang, nyaris tanpa jejak.
Langkahnya mendekat ke sisi ranjang, berhenti tepat di hadapan Lisa yang tertidur.

Dalam diam, ia menatap wajah Lisa dengan sorot mata tajam namun lembut.
Matanya menyusuri setiap lekuk wajah gadis itu, seperti ingin mengikatnya dalam benak, menciptakan sebuah versi yang tak bisa pergi, versi yang hanya bisa ia miliki, selamanya.

Tangannya terangkat perlahan, jemarinya hampir menyentuh pipi Lisa yang halus, namun sebelum sentuhan itu terjadi, Lisa membuka matanya.

Dalam sepersekian detik, tubuhnya bergerak spontan.
Kakinya menendang keras ke arah bahu pria itu, menghantamnya hingga terpental mundur dan jatuh membentur lantai dengan suara berat.

Dengan cepat, Lisa meraih pena logam di atas nakas.
Dalam satu gerakan terlatih, ia mengacungkan ujung tajam pena tersebut ke arah leher pria itu, matanya menyala penuh kewaspadaan.

"Siapa kau?" Suaranya rendah, dingin, dan mengancam.

Pria itu tertawa kecil, pelan, nyaris sinis. "Refleks bagus, sayang," ucapnya akhirnya, suara baritonnya terdengar seperti ejekan yang dibungkus kerinduan.

Lisa terpaku. Matanya menyipit, mencoba menelaah wajah dihadapannya dalam gelap.
Dengan tangan gemetar, ia menjangkau sakelar lampu tidur.

Klik.

Cahaya hangat memenuhi ruangan, menyapu kegelapan, mengungkapkan siapa sosok di hadapannya.
Matanya membelalak.

"Sehun...?" bisiknya pelan, antara terkejut, marah, dan tak percaya.

Pria itu tersenyum samar. Ia tetap duduk, hanya sedikit menegakkan bahu, seolah tak peduli ujung pena yang menusuk kulit lehernya. Matanya menatap Lisa dengan ketenangan yang ganjil, seakan ia tahu sesuatu yang tidak Lisa tahu. Sorot matanya teduh, tapi ada bara tersembunyi di baliknya. Sesuatu yang dalam. Gelap. Tak terdefinisi.

"Sudah lama, Lisa," ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan.

Pena di tangan Lisa jatuh, menggelinding pelan di lantai sebelum akhirnya berhenti di bawah tempat tidur. Dadanya naik turun, bukan hanya karena kaget, tapi karena sesuatu yang lain. Lebih dalam. Lebih menakutkan.

Ketakutan bahwa ia akan menyadari siapa dirinya sebenarnya.

Ia bukan gadis biasa. Dan pria itu, jika diberi celah sedikit saja, akan membaca segalanya. Matanya terlalu tajam. Terlalu terlatih. Terlalu berbahaya.

Lisa berdiri perlahan, menjaga agar napasnya tetap stabil. "Apa yang kau lakukan di sini, Sehun? Di kamarku. Tengah malam."

Sehun masih duduk, satu lutut tertekuk, sikapnya santai seperti seseorang yang merasa berada di tempat yang tepat.

"Aku merindukanmu," jawabnya ringan. "Kupikir... melihatmu secara langsung bisa sedikit menyembuhkan." Ia tersenyum, senyum yang tampaknya menggoda, tapi di baliknya ada tatapan yang terlalu dalam, terlalu menusuk. Tatapan yang membuat kulit Lisa terasa gatal, seolah-olah dilucuti perlahan dari luar dan dalam.

Red Seduction Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang