JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------
Happy reading ❤️
Di dalam kamar, Lisa duduk di tepi ranjang, wajahnya masih membara oleh perasaan yang tak terungkapkan. Tubuhnya terasa kaku, seolah terperangkap dalam pusaran emosi yang tak berhenti berputar. Ia menggenggam dadanya, mencoba menenangkan degup liar yang membuat napasnya terasa berat, seperti dunia berguncang terlalu cepat di sekelilingnya.
Kenapa tatapan Sehun terasa begitu tajam, menusuk hingga ke relung terdalam dirinya?
Kenapa hanya dengan satu gerakan kecil darinya, seluruh dunia Lisa seakan terguncang tanpa kendali?
Pelan, Lisa menundukkan kepala, membenamkan wajahnya dalam bantal. Suara desahannya samar, nyaris tenggelam dalam kesunyian malam. Semua ini... perasaan ini... seolah membelenggunya dalam kekacauan yang tak mampu ia pecahkan. Ia tahu betul, ia tidak boleh membiarkan dirinya terjebak. Sehun bukan pria biasa. Pria itu adalah teka-teki berbahaya, penuh tipu muslihat yang dirangkai sehalus benang laba-laba—siap menjerat siapa pun yang lengah.
Namun tetap saja, setiap detik bersamanya terasa memabukkan, membangkitkan sisi diri Lisa yang selama ini tersembunyi dalam kedalaman jiwanya.
"Aku gila," bisiknya, hampir tak terdengar, suara itu tercekat di tenggorokannya.
Mungkin memang benar. Meskipun seluruh tanda bahaya berkibar hebat di pikirannya, hatinya tetap berdegup untuk pria itu. Betapa menjengkelkannya, betapa melelahkannya.
Dengan gerakan lemah, Lisa menarik selimut, membungkus tubuhnya seolah mencari perlindungan. Tapi tidur yang ia dambakan tidak kunjung datang. Malam terus bergulir panjang, penuh bayangan Sehun yang menari-nari di benaknya.
Keesokan harinya, Lisa tiba di kantor dengan langkah berat. Matanya sembab, kantuk membebani setiap gerakannya. Tanpa banyak berpikir, ia melangkah ke pantry, menyeduh kopi hitam tanpa gula, satu-satunya penyelamat di pagi yang suram ini. Setiap tegukan terasa pahit, tapi justru kepahitan itulah yang membuat pikirannya sedikit lebih tajam, lebih sadar.
Namun, bayangan Sehun tetap membayangi, mengendap dalam sudut pikirannya. Setiap kali ia memejamkan mata, kenangan tentang tatapan pria itu kembali menyerbu. Bahkan dalam tidurnya, ciuman-ciuman yang hanya ada dalam mimpi menghantui tanpa ampun.
Rose masuk ke pantry beberapa saat kemudian. Begitu melihat Lisa, langkahnya terhenti. Wajah Lisa yang pucat dan mata panda yang jelas terlihat membuatnya mengerutkan kening khawatir.
"Kau baik-baik saja?" tanya Rose, suaranya lembut, penuh keprihatinan.
Lisa hanya mengangkat jempol tanpa semangat, melemparkan senyum tipis yang lebih mirip kepasrahan. Tanpa menunggu komentar lebih lanjut, ia berbalik meninggalkan pantry, membiarkan Rose yang masih menatap punggungnya dengan cemas.
Sampai di meja kerja, Lisa meletakkan kopinya dan duduk, membiarkan tubuhnya yang lelah bersandar di kursi. Ia kembali meneguk kopinya, pahitnya menyelinap melewati lidah, membangkitkan sedikit tenaga dalam dirinya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan sebelum Rose kembali muncul, kali ini dengan ekspresi yang sama sekali berbeda. Wajahnya berseri-seri, langkahnya cepat menuju meja Lisa, seolah membawa berita besar.
Lisa menatapnya dengan alis terangkat. Apa lagi sekarang?
"Kau sudah lihat buletin perusahaan?" seru Rose tanpa bisa menyembunyikan kegembiraannya.
Lisa mengerjap bingung. Ia belum sempat menyentuh ponselnya sejak semalam. Melihat kebingungan di wajah sahabatnya, Rose mengambil inisiatif, meraih ponsel Lisa di meja, membukanya, dan menunjukkannya tanpa basa-basi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Seduction
RomanceLisa, putri dari seorang bos mafia, terpaksa menerima misi berbahaya demi kebebasannya, mencuri Blue Diamond milik Ooh Sehun, CEO muda yang dingin dan kejam. Demi menyusup ke dalam hidupnya, ia menyamar sebagai sekretaris culun yang tak mencolok. Na...
