JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------
Happy reading ❤️
Para karyawan pria mulai bergerak, membawa bahan-bahan dan peralatan ke meja di sebelah dapur utama. Gelak tawa dan candaan kecil mulai mengisi udara, namun perhatian Sehun tidak teralihkan. Dari tempatnya berdiri, matanya terus tertuju pada satu sosok, Lisa, yang masih sibuk berbicara dengan Rose, seolah dunia di sekitarnya tidak ada.
Mata Sehun menyipit. Lalu tanpa suara, ia memanggil Chanyeol. Saat pria jangkung itu mendekat, Sehun sedikit mencondongkan tubuh, menyuarakan perintahnya pelan namun tegas.
"Pisahkan mereka. Bawa Rose ke tempat lain. Aku tidak ingin ada yang mengganggu."
Chanyeol menatapnya sejenak, membaca keseriusan di wajah sang bos, lalu mengangguk patuh. Tak ada tanya. Tak perlu alasan.
Dengan langkah mantap, Chanyeol menghampiri Rose, wajahnya dibuat setenang mungkin. "Rose, aku butuh bantuanmu sebentar. Boleh ke meja sebelah? Aku tidak yakin cara bikin adonan pancake ini."
Rose sedikit terkejut, ini pertama kalinya asisten Mr. Ooh mengajaknya berbicara. Ia merasa senang sambil tersenyum lebar. "Tentu! Ayo."
Lisa hanya sempat melirik sekilas saat Rose berpindah, terlalu sibuk mengaduk adonan di mangkuk besar di depannya. Tapi dadanya mulai terasa ganjil ketika keheningan aneh menggantikan percakapan mereka tadi.
Saat itulah sebuah bayangan besar muncul di sisi kanannya. Sebelum ia sempat berpaling, tangan lain ikut masuk ke dalam mangkuk, menguleni adonan bersamanya.
Lisa tersentak kecil, menoleh cepat dan mendapati Sehun sudah berdiri di sebelahnya. Terlalu dekat. Tatapan pria itu menempel padanya, seperti tak pernah benar-benar pergi sejak dari pantai tadi.
"Se—Sehun?" Lisa bergumam, nyaris tercekat.
Pria itu tersenyum samar, sudut bibirnya terangkat dalam lengkungan tipis yang nyaris genit dan seperti biasa, cukup untuk membuat jantung Lisa kacau tak karuan. "Kau tahu," bisiknya pelan, matanya menelusuri gerakan tangannya, "Aku selalu terpesona dengan betapa cakapnya kau dalam banyak hal..."
Ia mendekat sedikit, suaranya nyaris seperti godaan. "Tapi sayang sekali... sepertinya memasak bukan salah satunya."
Lisa mendongak cepat, menatap tajam ke arahnya. "Aku hanya belum terbiasa dengan alat-alat di sini," elaknya, berusaha mempertahankan harga diri yang mulai terkikis.
Namun Sehun justru tertawa pelan. Pandangannya jatuh pada mangkuk di depan Lisa. "Ini?" katanya sambil menunjuk adonan yang menggumpal tak karuan. "Kau mau menyajikan ini ke manusia? Atau sedang membuat racun untuk tikus?"
Lisa mendesis pelan, kesal. Tapi sebelum sempat melontarkan protes, Sehun sudah mengambil mangkuk baru. Dengan santai, dia menakar tepung, memecah telur, menambahkan bahan lain dengan gerakan tenang dan telaten.
Lisa terdiam, matanya mengikuti setiap gerak tangan Sehun yang cekatan. Tak ada keraguan, tak ada gerakan sia-sia. Untuk sesaat, ia lupa untuk kesal. Pria yang biasanya hanya dikenal lewat tatapan tajam dan ucapan dingin itu, kini tampak... berbeda.
"Sejak kapan kau bisa memasak?" gumam Lisa, masih menatapnya.
Sehun tidak menjawab, hanya melirik sekilas dan tersenyum kecil. "Banyak hal yang kau belum tahu tentangku," bisiknya tenang.
Lisa menggigit bibir, cepat-cepat mengalihkan pandangan. Tapi dalam hati, ia tak bisa menyangkal, untuk sesaat, ia benar-benar kagum.
Lisa masih memperhatikan Sehun, matanya menyiratkan rasa penasaran seperti anak kecil yang baru menemukan hal menarik di dunia yang tak dikenalnya. Ia bahkan lupa untuk pura-pura tidak peduli. Ada sesuatu dari cara Sehun bekerja, tenang, presisi, dan penuh percaya diri, yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Seduction
RomanceLisa, putri dari seorang bos mafia, terpaksa menerima misi berbahaya demi kebebasannya, mencuri Blue Diamond milik Ooh Sehun, CEO muda yang dingin dan kejam. Demi menyusup ke dalam hidupnya, ia menyamar sebagai sekretaris culun yang tak mencolok. Na...
