Chapter 29 - Berdansa

398 41 5
                                        

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------

Happy reading ❤️

Lisa terus berlari di sepanjang pasir, menoleh ke belakang sambil tertawa dan mengejek Sehun dengan kata-kata spontan.

"Kau tak akan bisa menangkap ku, mesum!" serunya riang.

"Berhenti!" seru Sehun sambil tertawa, napasnya memburu.

Ombak datang menggulung, mengenai kaki mereka. Air laut membasahi ujung gaun Lisa dan celana Sehun. Tapi tak ada yang peduli.

Hingga akhirnya Sehun berhasil meraih pundaknya. Namun, ombak tiba-tiba menyapu kaki mereka. Lisa oleng, kehilangan keseimbangan. Sehun segera menarik tubuhnya, memeluknya erat untuk menjaga agar tidak jatuh.

Tapi malah tubuh mereka ikut terjatuh bersama, ke pasir yang basah.

Napas Lisa tercekat. Dadanya bertumpu pada dada Sehun. Tubuh mereka terlalu dekat. Terlalu panas. Terlalu nyata.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sehun, suaranya rendah dan serak.

Lisa mengangguk pelan, tapi matanya terpaku pada kemeja putih Sehun yang basah dan menempel ketat di tubuhnya. Bahan tipis itu nyaris menerawang, menampakkan dada bidang yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. Ia langsung memalingkan wajah, pipinya merona hebat.

Lisa hendak bangkit, berusaha mengalihkan pandangan dan menjaga jarak, tapi gerakan Sehun lebih cepat. Dalam sekejap, ia membalikkan posisi mereka, membuat Lisa terbaring di atas pasir, dengan tubuh Sehun menumpu di atasnya.

"Hey!" Lisa berseru tertahan. "Kau-"

"Aku tidak menyentuhmu," potong Sehun, matanya menatap langsung ke dalam matanya.

Lisa mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"

"Malam itu... saat kau mabuk," katanya pelan. "Aku memang yang membawamu ke kamar. Tapi aku tidak melewati batas. Aku tidak melakukan apa pun padamu."

Lisa terdiam. Kenangan itu kabur, hanya samar. Tapi ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya, pakaian yang ia kenakan ketika bangun. Bukan miliknya.

"Kalau begitu," bisiknya, "kenapa aku memakai bajumu? Ke mana bajuku?"

"Kau muntah dan mengotori pakaianmu. Aku memanggil staf wanita untuk membantumu. Aku bersumpah, aku tidak melihat apa pun. Aku menunggu di luar kamar sampai selesai." Ia menghela napas panjang, suaranya tulus. "Kau bisa bertanya sendiri pada stafnya kalau tidak percaya."

Lisa terdiam. Kata-kata Sehun masuk akal. Jika memang ada yang terjadi malam itu, tubuhnya pasti akan mengingatnya. Tapi tidak ada. Hanya satu yang tertinggal, bekas merah samar di pergelangan tangannya. Dan itu ... mungkin saja gigitan nyamuk.
Selain mulutnya yang sering tak punya rem, Sehun memang tak pernah menyentuhnya secara tidak pantas. Bahkan ketika ia bisa saja melakukannya.

"Baiklah," katanya akhirnya, suaranya lirih. "Aku akan percaya."

Sehun tampak lega. Dalam satu gerakan lembut, ia menunduk dan mencium bibir Lisa.

Lisa terbelalak, tapi kali ini ia tidak menolak. Tidak ada gigitan atau tamparan. Sebaliknya, ia memejamkan mata, menerima ciuman itu seperti melepas beban dari dadanya. Ciuman itu perlahan, tapi hangat, seolah mereka sudah saling mengenal jauh lebih dalam dari yang terlihat. Seolah, dalam diam dan konflik, ada sesuatu yang mulai tumbuh di antara mereka.

Angin laut berhembus tenang. Debur ombak menjadi latar bagi dua hati yang mulai menghangat.

Sehun menarik diri perlahan, masih menatap wajah Lisa yang merah merona.
"Lain kali, kalau aku benar-benar ingin menyentuhmu... aku akan pastikan kau sadar."

Red Seduction Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang