JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------
Happy reading ❤️
Mobil berhenti tepat di depan gedung perusahaan, lampu-lampu kota mulai menyala perlahan, mengukir siluet temaram pada dinding kaca. Lisa meraih tasnya tanpa menoleh, hendak membuka pintu ketika suara Sehun menahannya.
"Aku pikir... kita bisa makan malam bersama. Sekadar melepas penat."
Suara itu lembut, tak memaksa, tapi cukup untuk menghentikan gerak Lisa sesaat. Hanya sesaat.
"Aku masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan," jawabnya cepat, nyaris terlalu cepat.
Sebelum Sehun sempat merespons, Lisa telah membuka pintu dan keluar, meninggalkannya dalam diam.
Sehun hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh, langkahnya cepat, seperti sedang lari dari sesuatu. Dan untuk pertama kalinya, ia tak tahu harus berbuat apa. Lisa biasanya tak seperti ini, ia tak pernah menghindar, apalagi membungkus dirinya dalam sikap dingin seperti barusan. Ada sesuatu yang berubah… tapi ia belum tahu apa.
Lisa masuk ke dalam lobi perusahaan dengan langkah tetap, namun hatinya bergetar. Begitu tiba di meja kerjanya, ia menjatuhkan tubuh ke kursi dan menghela napas panjang. Rasa sesak menyeruak, menciptakan kekacauan yang tak mampu dijelaskan.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganku?" gumamnya pelan, nyaris seperti geraman.
Tangannya naik, menggulung rambutnya dan mengikatnya ke atas. Gerakannya cepat, seperti ingin mengusir kegelisahan yang menempel di tengkuk. Matanya lalu menatap tumpukan map di meja, pekerjaan yang sejak tadi menunggunya.
"Bagus," bisiknya lirih, setengah sinis.
Untuk pertama kalinya, ia bersyukur tenggelam dalam pekerjaan. Ia membuka map pertama dengan kasar, jari-jarinya mulai menari di atas berkas, mencoba melupakan perasaan aneh yang tumbuh di dadanya—rasa yang terlalu asing, terlalu berbahaya.
Fokus. Itu yang ia butuhkan.
Bukan makan malam. Bukan sorot mata Sehun.
Dan jelas… bukan perhatian yang ia tak tahu harus diapakan.
Di lantai atas yang telah sepi, cahaya redup dari lampu ruangan menyelinap di balik tirai kaca. Sehun berdiri diam di koridor, separuh wajahnya tersembunyi dalam bayangan. Dari kejauhan, matanya tak lepas memandangi ruang kerja Lisa.
Gadis itu terlihat tenggelam dalam pekerjaannya, alisnya berkerut, jemarinya sibuk membalik halaman demi halaman. Ia tampak begitu fokus, namun bagi Sehun, itu bukan fokus biasa, melainkan pelarian. Sebuah cara untuk menenggelamkan sesuatu yang tak ingin dihadapi.
Dan itulah yang membuat Sehun tak tenang.
Lisa berubah. Ia bukan hanya menjaga jarak, tapi juga seperti menghindar dan itu bukan hal yang biasa dari seorang Lisa yang selalu lugas dan cekatan. Sehun telah berulang kali mencoba menjangkaunya, namun selalu gagal.
Beberapa hari terakhir, ia memanggil Lisa ke ruangannya, namun yang datang selalu orang lain.
Hari itu pun sama.
Saat ia meminta kopi, yang datang justru office boy dengan wajah gugup dan tangan yang hampir gemetar.
Ketika ia meminta Lisa untuk mengantar berkas penting, asisten lain yang muncul, memberi alasan singkat, "Lisa sedang ada urusan di luar, Pak."
Namun Sehun tahu, itu bukan hanya karena pekerjaan.
Sudah seminggu berlalu sejak hari itu, sejak Lisa menolak ajakan makan malamnya dan menghilang di balik rutinitas yang dibuatnya sendiri. Dan kini, rasa penasarannya berubah menjadi kegelisahan. Batas kesabaran mulai menipis.
Malam mulai menua, satu per satu lampu kantor padam, menyisakan hanya beberapa titik cahaya di ujung lorong. Sehun berdiri di sana, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, napasnya tertahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Seduction
RomanceLisa, putri dari seorang bos mafia, terpaksa menerima misi berbahaya demi kebebasannya, mencuri Blue Diamond milik Ooh Sehun, CEO muda yang dingin dan kejam. Demi menyusup ke dalam hidupnya, ia menyamar sebagai sekretaris culun yang tak mencolok. Na...
