JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------
Happy reading ❤️
Langkah kaki mereka menyusuri lorong. Pagi itu terasa sunyi dari biasanya, seolah waktu sengaja memperlambat langkahnya untuk memberi ruang pada dua hati yang belum selesai berdialog.
Lisa mengenakan kemeja milik Sehun, putih bersih, dengan wangi samar parfum maskulin yang asing namun anehnya menenangkan. Kemeja itu sedikit kebesaran di tubuhnya, hingga ia harus menggulung lengan bajunya sampai siku. Rok hitam dari semalam masih melekat pas di tubuhnya, membuat penampilannya terlihat seperti potongan gambar dari mimpi yang tak disengaja.
Di dalam lift, keduanya berdiri berdampingan, tapi tak saling memandang. Hanya diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ada jeda aneh di antara mereka, bukan canggung… lebih seperti sesuatu yang belum bisa mereka sebut dengan nama.
Lisa menatap lantai lift, mencoba menenangkan degup jantungnya yang tak kunjung normal sejak pagi. Ia bisa merasakan Sehun di sampingnya, kehadirannya terlalu dekat untuk diabaikan.
Ketika lift berdentang dan pintu mulai terbuka, tiba-tiba Sehun menahan pergerakannya dengan sentuhan ringan di punggungnya. Lisa terperanjat, dan sebelum sempat bertanya, pria itu sudah mendekatkan wajahnya ke telinga Lisa.
"Jangan lupa," bisiknya pelan, suara itu dalam dan nyaris seperti mantra. "Jangan bersembunyi lagi, rubah kecil."
Lisa membeku di tempatnya. Suaranya begitu dekat, begitu pribadi, membuat kulitnya merinding, dan jantungnya berdebar tak karuan.
Sehun tersenyum kecil, nakal tapi penuh arti, lalu melangkah keluar dari lift lebih dulu tanpa menoleh.
Lisa masih berdiri di sana, masih dengan detak jantung yang belum ia kuasai… dan bisikan itu, yang kini terus bergema di telinganya.
Setibanya di ruangannya, Lisa belum sempat menaruh tas ketika pintu diketuk dengan tergesa. Rose masuk, wajahnya pucat dan napasnya memburu.
“Lisa, kita harus ke ruang rapat sekarang. Ini darurat,” ucapnya cepat.
Tanpa banyak tanya, Lisa mengikuti Rose menyusuri lorong panjang. Ketika mereka tiba, beberapa karyawan sudah berkumpul dengan wajah tegang. Suasana di dalam ruangan pekat, seperti udara sebelum badai. Belum lama mereka duduk, pintu terbuka lebar.
Sehun masuk.
Wajahnya gelap dan dingin. Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum ia berjalan cepat ke kursinya dan melempar berkas ke atas meja. Bunyinya keras dan mengejutkan semua orang.
"Jelaskan," suaranya tajam seperti pisau, tanpa basa-basi.
Ruangan mendadak senyap.
Mr. Pablo, sang manajer proyek, berdiri gugup. "Kami… kami mendapati kebocoran data pada proyek besar yang sedang berjalan. Informasi itu jatuh ke tangan luar, dan sekarang nilai investasi kita anjlok, kerugian diperkirakan mencapai miliaran dolar."
Sehun mengebrak meja. Suara dentumannya memecah kesunyian, membuat semua orang nyaris melompat dari kursi. Lisa ikut tersentak. Baru kali ini ia melihat pria itu benar-benar marah, bukan marah biasa, tapi amarah yang meledak dalam diam bertahun-tahun.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" suaranya rendah namun mengancam. "Dan siapa yang bertanggung jawab?"
Semua kepala secara perlahan menoleh pada satu orang.
Lisa.
Ia membeku. Dadanya terasa sesak. "Benar… aku yang memimpin proyek itu," katanya, suaranya bergetar, "tapi bukan aku yang membocorkan data itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Seduction
RomansaLisa, putri dari seorang bos mafia, terpaksa menerima misi berbahaya demi kebebasannya, mencuri Blue Diamond milik Ooh Sehun, CEO muda yang dingin dan kejam. Demi menyusup ke dalam hidupnya, ia menyamar sebagai sekretaris culun yang tak mencolok. Na...
