JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------
Happy reading ❤️
Sehun sedang berada di dalam kamarnya. Sebuah kamar VIP yang mewah, bergaya klasik dengan sentuhan elegan. Ornamen emas menghiasi tepian furnitur gelap, sementara lantainya berlapis karpet tebal berwarna marun tua. Bathtub besar disudut ruangan menghadap langsung ke laut, menyuguhkan pemandangan malam yang dingin dan tenang.
Cahaya remang dari lampu meja menjadi satu-satunya penerangan di dalam ruangan, memantulkan bayangan samar pada permukaan furnitur mahal. Suasana sunyi, nyaris hampa, seolah waktu ikut melambat.
Sehun duduk di atas sofa, tubuhnya sedikit membungkuk. Di hadapannya tergeletak selembar kertas yang telah lusuh, bagian-bagian pinggirnya mulai robek karena terlalu sering dibolak-balik. Jemari Sehun mengetuk-ngetuk pelan tepinya, kebiasaan kecil yang muncul ketika pikirannya sedang kalut.
Matanya kembali menelusuri barisan tulisan di kertas itu, untuk entah keberapa kalinya. Meski telah ia baca berulang kali, tidak satu pun dari kata-kata itu mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terus memenuhi kepalanya. Pertanyaan yang menumpuk, menggantung, dan tak kunjung menemukan ujung.
Di depannya, Chanyeol berdiri tegak, hampir seperti patung penjaga yang tak bergerak. Ia menunggu, diam, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun, meskipun raut wajahnya jelas memperlihatkan ketidaknyamanan akan keheningan yang semakin lama semakin menekan.
Akhirnya, suara kertas yang terlempar memecah keheningan. Sehun melemparkan berkas itu dengan geram. Pandangannya menusuk, penuh ketidakpuasan pada Chanyeol.
"Apakah hanya ini?" suaranya seperti es, dingin, namun penuh tekanan. "Hanya ini yang bisa kau dapatkan tentang Lisa?"
Chanyeol terdiam, ragu, sebelum akhirnya menjawab dengan tenang. "Benar, Tuan. Itu semua yang bisa saya dapatkan. Semua dokumen, catatan akademik, rekam medis, semuanya bersih."
Sehun mendengus keras, menyandarkan tubuhnya dengan penuh kekesalan ke kursi. Suaranya berat, penuh frustrasi. Ini adalah penyelidikan kedua, dan hasilnya tetap nihil. Semuanya bersih, tidak ada yang mencurigakan, seolah seseorang dengan sengaja berusaha menutupi jejak gadis itu, menyembunyikan setiap kebenaran yang seharusnya ia temukan.
Keheningan kembali meliputi ruangan, dan Sehun menghela napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak. Tanpa menatap, ia berkata, "Kau boleh pergi."
Chanyeol mengangguk, menanggapi perintah itu dengan sikap hormat. Namun, saat hendak berbalik, Sehun menghentikannya dengan satu kata yang tajam, mengiringi udara yang telah terkumpul dengan energi dingin.
"Tunggu," katanya, suara Sehun menurunkan suhu ruangan, "Pergilah ke paviliun dan nikmati pestanya."
Chanyeol terlihat ragu, ingin berkata sesuatu, namun hanya bisa terdiam. "Tapi, Tuan—"
"Itu perintah." Nada suaranya menjadi tak terbantahkan, keras dan dingin, seperti keputusan yang telah ditetapkan tanpa ruang untuk penolakan.
Chanyeol hanya bisa mengangguk hormat dan melangkah mundur dengan langkah terukur, menutup pintu perlahan di belakangnya. Begitu kesunyian kembali meliputi ruangan, Sehun menutup matanya dan meremas pelipisnya dengan dua jari, mencoba menghilangkan ketegangan yang terus menggerogoti pikirannya. Semua ini seperti sebuah permainan catur yang sudah diatur sejak awal, dan ia dipaksa untuk memainkannya, tanpa tahu siapa lawannya.
Tatapannya beralih pada secarik foto Lisa yang terselip di berkas di atas meja. Senyum polos yang dulu tampak manis di matanya, kini terasa berbeda, seolah senyuman itu telah dilatih sejak lama. Ekspresi wajahnya nyaris tanpa cela, namun justru karena itulah terasa ganjil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Seduction
RomansaLisa, putri dari seorang bos mafia, terpaksa menerima misi berbahaya demi kebebasannya, mencuri Blue Diamond milik Ooh Sehun, CEO muda yang dingin dan kejam. Demi menyusup ke dalam hidupnya, ia menyamar sebagai sekretaris culun yang tak mencolok. Na...
