JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------
Happy reading ❤️
Setiap putaran tarian mereka menyatu dengan desiran angin malam yang menyusup dari celah balkon, membawa aroma laut yang samar namun memabukkan. Awalnya, ada kekakuan yang terselip di antara Lisa dan Sehun, seolah masing-masing mencoba menegaskan ruang diri. Gerakan Lisa sedikit tertahan, benaknya dipenuhi gema misi yang harus ia laksanakan. Namun, dalam dekapan Sehun, perlahan batasan itu mengikis. Pria itu, yang seharusnya menjadi target dalam misi rahasianya, kini menjelma menjadi gravitasi yang menariknya, membuatnya ingin berlabuh. Bahaya tetap mengintai, Lisa tahu itu, tetapi entah bagaimana, kebersamaan mereka membungkam logikanya, menyisakan satu perasaan asing yang mulai berakar dalam dadanya.
"Apakah kau sering melakukan ini?" Suara Lisa nyaris tenggelam dalam alunan musik lembut, sebuah pertanyaan yang lebih menyerupai pernyataan.
Sehun menunduk sedikit, menyamakan tinggi wajah mereka, matanya mencari jawaban di mata Lisa. "Melakukan apa?" Senyum tipis tersungging di bibirnya, seolah ia menangkap makna tersembunyi dari pertanyaan Lisa.
"Makan malam romantis... dansa dadakan seperti ini..."
Tawa ringan meluncur dari bibir pria itu, rendah dan sedikit serak, membelai telinga Lisa. "Tidak. Kau adalah yang pertama, membuatku rela membuang waktu untuk hal-hal 'tidak penting' seperti ini."
Lisa hanya mengangguk kecil, membiarkan jawabannya menggantung di udara. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, getaran aneh perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia menegakkan tubuh, menatap pria itu lurus-lurus. Tatapan mereka bertemu, dan dalam sekejap, dunia terasa hening, hanya suara detak jantung mereka yang berpacu cepat, seolah berbagi irama yang sama.
Jemari Sehun terangkat, menyentuh pipi Lisa dengan hati-hati, seolah ia takut sentuhannya akan merusak sesuatu yang rapuh. Lisa tak menolak. Ia malah memejamkan mata, menyerahkan diri pada keintiman yang tak bisa lagi dihindari. Ia tahu ke mana semua ini akan berujung.
Ciuman itu datang perlahan. Ringan. Lembut. Seperti hujan pertama setelah kemarau panjang, menyegarkan dan menghapus segala kekeringan di dalam dadanya. Namun, seperti hujan yang tak bisa ditahan, hasrat mereka pun tumbuh, liar dan menggebu. Sehun menciumnya lebih dalam, lebih menuntut, membenamkan Lisa dalam pusaran gairah yang memabukkan.
Dalam kabut hasrat yang mengaburkan segalanya, Sehun mengangkat tubuh Lisa dengan mudah, membaringkannya di ranjang. Gerakannya tetap lembut, nyaris penuh hormat, meski napasnya sudah memburu. Bibirnya berpindah ke leher Lisa, menelusuri kulit yang terasa lebih hangat dari sebelumnya. Setiap ciumannya meninggalkan jejak samar, merah muda, tanda kepemilikan yang hanya mereka berdua pahami.
Lisa menggeliat kecil, napasnya terengah, tercekik oleh hasratnya sendiri. Jemarinya menyentuh dada Sehun, lalu bergerak membuka satu demi satu kancing kemejanya. Pakaian berserakan di lantai, rambut kusut, napas memburu, dunia di luar tak lagi berarti. Hanya mereka, di sini, sekarang. Dalam hati Lisa, perasaan goyah mulai merayap, ia tahu ini bagian dari peran simpanannya untuk mendekati blue diamond, tetapi sentuhan Sehun membuat misinya terasa semakin jauh, seperti mimpi yang mulai pudar.
Namun, tepat saat tangan Sehun mulai menelusuri pinggang Lisa, pergolakan batinnya meledak. Ia menarik napas dalam, melepaskan ciumannya perlahan, dan mengangkat wajahnya untuk menatap mata Lisa yang setengah terpejam. Ada badai di matanya, hasrat yang menggebu bertarung sengit melawan kenyataan pahit yang mengikatnya. ‘Aku menginginkan Lisa seutuhnya,’ Sehun membatin. ‘Bukan sebagai simpanan yang tersembunyi di balik pertunangan konyol ini. Jika ini dilanjutkan, ia akan terjebak sebagai bayanganku, sementara aku belum bebas.’
Sehun mengutuk dirinya karena hampir kalah oleh hasratnya sendiri, tetapi ia berusaha menguatkan tekadnya. Ia harus menyelesaikan semuanya dulu, memutuskan pertunangan itu, membersihkan jalannya, sebelum benar-benar memiliki Lisa. Dengan begitu, hubungan mereka tak akan ternoda oleh rahasia atau paksaan.
“Sial...” gerutunya pelan, suaranya serak, hampir seperti keluhan pada dirinya sendiri. Tubuhnya masih menindih Lisa, tetapi gerakannya kini ragu, jemarinya berhenti di tepi kulitnya, seolah ragu untuk melangkah lebih jauh.
Lisa membuka mata, napasnya tersengal, ia merasakan perasaannya yang semakin dalam. Ia memang menerima peran simpanan untuk mendekati Sehun, tetapi tatapan Sehun membuat hatinya bergetar, membuat misinya terasa seperti pengkhianatan. "Sehun?" bisiknya, suaranya lembut tapi penuh tanya, tangannya bertumpu di dada Sehun, mencari pegangan di tengah badai batinnya sendiri. Bagian dirinya ingin melanjutkan, untuk mempercepat akses ke diamond itu, tetapi sisi dirinya yang lain merasa lega atas jeda ini, meski ia tak mau mengakuinya.
Sehun menunduk, dahinya menyentuh dahi Lisa sebentar, napas mereka saling bercampur dalam jarak yang begitu dekat. ‘Aku tak bisa membiarkanmu menjadi simpanan,’ gumamnya dalam hati lagi. ‘Aku ingin malam saat tubuh kita bersatu menjadi sesuatu yang indah, penuh makna, setelah aku menyelesaikan pertunangan ini, setelah kau benar-benar milikku sepenuhnya.’ Dengan berat, Sehun bergeser sedikit, menarik Lisa ke dalam pelukannya. “Tidak malam ini,” katanya pelan, suaranya tegas tapi lembut, jemarinya menyisir rambut Lisa dengan gerakan menenangkan. “Aku... ingin ini benar. Tunggu aku sebentar lagi, sampai semuanya selesai.”
Lisa mengangguk kecil, bersandar di dada Sehun, mendengar detak jantung pria itu yang perlahan mereda. Hatinya bergejolak, campuran frustrasi karena misinya tertunda, tetapi juga kehangatan aneh yang membuat tekadnya pada blue diamond mulai retak. Ia masih ingin menyelesaikan misinya itu, tetapi pelukan ini membuatnya bertanya-tanya, untuk pertama kalinya, apakah diamond benar-benar layak pengorbanan perasaannya.
Sehun menahan napas, nyaris tersenyum getir atas ironi itu. "Ini membuatku gila," bisiknya, nada frustrasinya bercampur kelembutan yang tak disengaja. Ia tetap diam, membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka. Besok, ia akan mulai menyelesaikan semuanya agar bisa memiliki Lisa seutuhnya, tanpa bayang-bayang simpanan.
•••
Keesokan paginya, Lisa terbangun perlahan, matahari pagi menyusup melalui tirai tipis, membawa cahaya lembut yang kontras dengan dingin yang merayap di kulitnya. Tubuhnya terasa berat, sisa kehangatan malam sebelumnya masih menempel samar di seprai kusut, tetapi sisi ranjang di sebelahnya kosong, dingin, tak tersentuh. Tak ada suara napas ritmis Sehun, tak ada sentuhan lembut yang biasa membangunkannya dalam mimpi setengah sadar. Hanya keheningan yang menggantung, seperti hembusan angin laut yang tiba-tiba berhenti.
Ia duduk perlahan, menarik selimut hingga ke dada, jemarinya meraba-raba bantal di sampingnya seolah mencari jejak yang tersisa. Aroma Sehun masih samar di udara, campuran kayu dan garam laut, tetapi itu tak cukup untuk mengusir kekosongan yang mulai merayap ke dadanya. ‘Dia pergi begitu saja,’ pikirnya, suara batinnya campur aduk antara kecewa yang tak terduga dan lega yang dipaksakan. Sebagai mata-mata yang menyamar sebagai sekretaris dan kini simpanan, ia seharusnya tak peduli, kepergian ini justru peluang untuk fokus pada blue diamond, harta warisan yang jadi target misinya. Tetapi, goyah perasaannya semalam membuatnya gelisah, seperti benang yang mulai kusut. Apakah ini bagian dari permainan Sehun, atau ia benar-benar hanya 'simpanan' sementara yang bisa ditinggalkan tanpa pamit?
Ketukan pelan di pintu memecah lamunannya, membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Lisa bangkit dengan langkah hati-hati, merapikan gaun tidur yang kusut, dan membuka pintu. Di ambang berdiri Chanyeol, jas gelapnya rapi seperti biasa, ekspresinya tenang, tetapi mata tajamnya menyiratkan urgensi tersembunyi.
“Maaf mengejutkanmu,” ucapnya singkat, suaranya datar tapi sopan. “Tuan Ooh harus kembali lebih dulu. Ada urusan mendesak yang tak bisa ditunda.”
Lisa menatapnya sesaat, tangannya masih memegang gagang pintu seperti penyangga. Ada sesuatu yang mengerut di dadanya, bukan kemarahan penuh, tetapi campuran kehilangan samar dan ketajaman misi yang kembali muncul. “Dia... tak bilang apa-apa padaku,” katanya pelan, suaranya stabil, tetapi ada getar halus yang tak bisa ia sembunyikan, seperti menguji apakah Chanyeol tahu lebih banyak.
Chanyeol mengangguk kecil, tak tergoyahkan. “Tuan Oh menitipkan ini untukmu.” Ia mengulurkan kotak kecil berlapis beludru hitam, diikuti secarik kertas tipis yang terlipat rapi.
Lisa menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar, sensasi dingin beludru kontras dengan panas di pipinya. Ia membuka kertas itu lebih dulu, tatapannya menyusuri tulisan tangan Sehun yang rapi dan tegas, setiap huruf seperti bisikan yang tertunda.
Sweetheart,
Maaf karena aku pergi tanpa pamit. Kau terlihat begitu tenang dalam tidurmu… aku tidak tega membangunkanmu. Ada hal yang harus kuselesaikan secepatnya. Kumohon, tunggulah sebentar saja. Segalanya akan segera jelas.
—S.
Kata-kata itu singkat, tetapi menggetarkan, sebuah janji yang diselimuti misteri, membuat goyah perasaannya semakin dalam. ‘Tunggu sebentar?’ gumamnya dalam hati, ‘Sementara aku yang harus buru-buru dapatkan diamond itu sebelum semuanya runtuh.’ Ia membuka kotak beludru dengan hati-hati, dan di dalamnya, kalung Serpenti Viper berkilau, desain rumit seperti ular yang melingkar, simbol pelindung atau penggoda, mirip permainan mereka berdua.
Lisa menatapnya lama, jemarinya menyentuh liontin dingin itu, memantulkan cahaya pagi di matanya. Apakah ini hadiah untuk simpanan setia, atau isyarat lebih dalam yang bisa ia gunakan untuk mendekati blue diamond? Hatinya berdebar, campur antara harapan yang tak diinginkan dan tekad misinya yang mulai retak. Sehun telah pergi, meninggalkan jejak yang tak bisa diabaikan, Lisa menggenggam kalung itu erat, sensasi logam dingin mengingatkannya, ia masih mata-mata, dan diamond itu harus ia dapatkan, bagaimana pun perasaannya.
Bersambung....
Gimana sayangku? Makin seru kan.
Yuk follow, vote dan coment yang banyak, biar author makin semangat updatenya 😚
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Seduction
RomanceLisa, putri dari seorang bos mafia, terpaksa menerima misi berbahaya demi kebebasannya, mencuri Blue Diamond milik Ooh Sehun, CEO muda yang dingin dan kejam. Demi menyusup ke dalam hidupnya, ia menyamar sebagai sekretaris culun yang tak mencolok. Na...
