JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------
Happy reading ❤️
Lisa berjalan cepat keluar dari ruangan Sehun, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Napasnya terasa berat—bukan karena kelelahan, tapi karena emosi yang menggelegak di dadanya.
Sehun ingin menyebarkan rumor? Membiarkan orang-orang berpikir ada sesuatu di antara mereka? Itu gila!
Semakin ia memikirkannya, semakin panas kepalanya. Langkahnya kian cepat, dan tanpa sadar, ia mendorong pintu toilet dengan kasar. Begitu berada di dalam, Lisa langsung berdiri di depan cermin. Kedua tangannya bertumpu pada wastafel saat ia menatap refleksi dirinya—wajahnya masih memerah, bukan karena malu, tapi karena amarah yang berusaha ia tekan.
Jika Sehun berpikir dia bisa mempermainkannya sesuka hati, maka dia salah besar.
Lisa menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Namun, sebuah ide berbahaya mulai menyelinap ke dalam pikirannya. Jika Sehun ingin bermain, maka ia juga bisa masuk dalam permainan ini. Tapi bukan sebagai bidak, melainkan sebagai lawan yang bisa menjatuhkannya kapan saja.
Tiba-tiba, suara familiar terdengar dari luar.
"Lisa?"
Lisa buru-buru merapikan ekspresinya sebelum pintu toilet terbuka, dan Rose muncul dengan tatapan penuh selidik.
"Apa yang terjadi? Wajahmu merah sekali," tanya Rose, menyipitkan mata curiga. "Jangan bilang Tuan Sehun baru saja mengajakmu berkencan atau semacamnya?"
Lisa tersentak. "A-aku tidak…" jawabnya tergagap, refleks menutupi wajahnya dengan tangan.
Sial. Itu hanya akan membuat Rose semakin curiga!
Benar saja—Rose langsung bersinar penuh semangat. Ia menggenggam kedua lengan Lisa dengan antusias. 'Oh, Tuhan! Aku tahu ada sesuatu yang terjadi! Kau tidak perlu malu, aku mendukungmu!"
Lisa membuka mulutnya, ingin menyangkal, tetapi ragu. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa Sehun hanya ingin memanfaatkannya sebagai alat untuk membuat tunangannya cemburu?
Lisa menggigit bibirnya. "Tapi dia sudah memiliki tunangan, aku—"
Rose langsung memotongnya. "Oh, ayolah! Itu bukan masalah!"
Lisa mengerutkan kening. "Maksudmu?"
Rose mendesah panjang, lalu bersandar ke wastafel. "Bukan rahasia lagi kalau Tuan Sehun tidak benar-benar menyukai tunangannya. Semua orang di kantor ini tahu, Lisa. Pertunangan mereka hanya kesepakatan bisnis. Dan yang lebih penting—wanita itu gila."
Lisa menatap Rose dengan mata membesar. "Apa maksudmu?"
Rose menyilangkan tangan di dada. "Emma, tunangan Tuan Sehun, bukan hanya menyebalkan. Dia seorang psikopat, Lisa. Dia sering mengancam staf perempuan yang bekerja dekat dengan Sehun. Makanya, tidak ada satu pun sekretaris yang bertahan lama di posisi ini. Kau tahu kau adalah sekretaris keberapa?"
Lisa menelan ludah. "Keberapa?"
Rose menatapnya lekat sebelum menjawab, "Ke-10."
Lisa terdiam, otaknya memproses informasi itu dengan cepat. Ke-10?
Pantas saja saat ia pertama kali melamar pekerjaan ini dan berpakaian seperti ‘kutu buku’, Emma langsung menerimanya tanpa banyak pertanyaan. Mungkin wanita itu tidak menganggapnya sebagai ancaman.
Rose melanjutkan, "Tapi kau tidak perlu takut. Jika Tuan Sehun benar-benar menyukaimu, Emma tidak akan bisa menyentuhmu. Semua orang di kantor ini membenci wanita itu, kecuali Bella dan beberapa orang penjilat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Seduction
RomanceLisa, putri dari seorang bos mafia, terpaksa menerima misi berbahaya demi kebebasannya, mencuri Blue Diamond milik Ooh Sehun, CEO muda yang dingin dan kejam. Demi menyusup ke dalam hidupnya, ia menyamar sebagai sekretaris culun yang tak mencolok. Na...
