JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------
Happy reading ❤️
Di atas atap gedung perusahaan, senja bergelayut malas di langit yang memerah. Asap rokok mengepul, menyatu dengan udara yang berat. Bella berdiri membelakangi matahari, bersandar di pagar pembatas, wajahnya keruh seperti awan badai. Dua batang rokok telah habis di genggamannya, puntungnya hangus menyisakan amarah yang belum juga padam.
"Jalang itu," desisnya, napasnya bergetar oleh kemarahan. "Pasti dia menggoda Mr. Ooh."
Dua temannya saling pandang, ragu untuk bicara. Salah satunya mencoba meredakan suasana, tapi Bella menepisnya kasar, matanya menyala penuh dendam. Kemudian, suara lain menyusul, melontarkan hinaan pada Lisa, mereka menyebutnya jalang, wanita tak tahu malu yang harus diberi pelajaran. Bella yang sejak tadi diam, mendengar itu dengan mata yang membulat. Kata-kata itu seperti minyak yang dituangkan ke bara yang telah menyala dalam dirinya.
Seketika, hatinya mengeras. Ia merasa mendapat dukungan, pembenaran untuk kebenciannya. Maka ia berjanji pada dirinya sendiri: Lisa harus merasakan bagaimana rasanya dihina. Dilecehkan. Dipermalukan.
Sementara itu, di lantai bawah, Lisa duduk termenung di kursinya, tatapannya kosong mengarah pada layar monitor yang belum juga menyala. Jari-jarinya mengetuk permukaan meja dengan ritme tak beraturan, seolah berharap bunyi-bunyi kecil itu bisa menenangkan pikirannya yang kalut. Namun pikirannya telah terlanjur terkunci pada satu nama, Sehun.
Sialan.
Ia mengepalkan tangan di pangkuannya, mencoba menyangkal gejolak yang mendadak muncul entah dari mana. Kejadian tadi seharusnya tak berarti apa-apa. Hanya bagian dari permainan absurd yang kerap Sehun lakukan. Godaan yang biasa. Sentuhan singkat. Tatapan ambigu. Namun entah kenapa, kali ini terasa berbeda. Terlalu dalam. Terlalu nyata.
Lisa bangkit dengan kasar dari kursinya, tubuhnya dibakar kegelisahan. Ia berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya yang sepi, langkah-langkahnya bergema di antara dinding dingin. Lalu, langkahnya terhenti di depan cermin kecil yang menempel di dinding. Ia menatap bayangannya sendiri—mata yang memerah, bibir yang digigit resah.
"Apa kau benar-benar mulai tertarik pada pria menyebalkan itu, Lisa?" gumamnya pada pantulan di cermin. Nada suaranya sinis, tapi matanya goyah. "Jangan konyol."
Namun tak ada jawaban. Bahkan dari dirinya sendiri. Sama seperti yang pernah ia rasakan.
Lisa membuka pintu ruangannya perlahan. Udara di dalam masih terasa hangat, namun ada yang berubah. Ada kehadiran lain di sana.
Rose duduk di sofa kecil di pojok ruangan, tubuhnya menyandar santai namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan kekhawatiran. Begitu Lisa masuk, ia segera bangkit.
"Kau ke mana saja?" tanya Rose, suaranya pelan, tapi nadanya menuntut.
Lisa terdiam sejenak, lalu menutup pintu di belakangnya tanpa menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, seolah kelelahan menghadapi dirinya sendiri.
Rose berjalan mendekat, mengamati Lisa dari kepala hingga kaki. "Wajahmu kusut. Kau tampak seperti baru saja bertengkar dengan dunia."
Lisa melemparkan senyum hambar, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi kerja. "Aku hanya… lelah."
"Karena pekerjaan? Atau karena Mr. Ooh?"
Lisa menoleh cepat, menatap Rose tajam. Tapi Rose tak gentar. Ia tahu temannya terlalu pintar untuk berbohong, tapi terlalu keras kepala untuk mengaku.
"Aku tahu dia melakukan sesuatu padamu hari ini. Semua orang di lantai dua membicarakannya, Lisa."
Lisa mengerjapkan mata. "Apa maksudmu ‘semua orang’?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Seduction
RomansaLisa, putri dari seorang bos mafia, terpaksa menerima misi berbahaya demi kebebasannya, mencuri Blue Diamond milik Ooh Sehun, CEO muda yang dingin dan kejam. Demi menyusup ke dalam hidupnya, ia menyamar sebagai sekretaris culun yang tak mencolok. Na...
