Chapter 28 - Dasar Mesum

454 33 0
                                        

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------

Happy reading ❤️

Begitu pintu kamar mandi tertutup di belakangnya, Sehun segera meraih jubah mandi dan membalut tubuhnya yang masih basah. Namun, ia tak langsung keluar. Ia berdiri cukup lama di depan cermin, mencoba menenangkan pikirannya yang masih berdenyut kacau akibat kejadian barusan. Ujung telinganya memerah, malu, dan ia beberapa kali mengumpat pada diri sendiri.

Setelah merasa cukup tenang, ia melangkah keluar, menyeka rambutnya dengan handuk kecil sambil berjalan menuju tempat tidur.

Namun langkahnya terhenti.
Tempat tidur itu, kosong.

Selimut berantakan, sprei kusut, tapi tak ada Lisa di sana. Hanya aroma samar yang tersisa, harum tubuh wanita itu yang lembut, dengan sentuhan manis yang halus. Sehun terdiam. Wajahnya berubah dingin, tatapannya menusuk ke dalam kekosongan. Jemarinya meremas sprei dengan kuat, berusaha menahan gejolak emosi yang berputar liar dalam dadanya.

Ia menarik napas panjang, kemudian perlahan menghembuskannya.

"Dasar rubah kecil..." gumamnya, nyaris tak terdengar. "Lagi-lagi kau kabur."

Sehun menyeringai kecil. Tatapannya tajam, terarah pada jendela yang terbuka lebar. Angin laut berhembus lembut, menyapu tirai yang berkibar perlahan, menciptakan suasana yang tenang, bertolak belakang dengan badai yang mengendap dalam benaknya.

"Lihat saja, Lisa..." bisiknya pelan, penuh arti. "Aku akan membuatmu menyesal telah lari dariku."

Senyumnya mengembang, licik dan tenang, seperti pemburu yang tahu bahwa buruannya takkan bisa lari terlalu jauh.

*****

Paviliun sudah ramai saat Lisa tiba. Tawa ringan mengalun di udara, mengisi ruang dengan kebahagiaan semu. Rose ada di antara mereka, senyumnya cerah seperti mentari pagi. Di hadapannya, Chanyeol duduk tenang, memerhatikan Rose yang tengah berbicara. Namun begitu mata Rose menangkap sosok yang baru datang, ia segera melambai, suaranya lantang dan riang.

"Lisa! Di sini!" panggilnya sambil melambai antusias.

Lisa melangkah pelan. Dress putih sederhana yang membalut tubuhnya tertiup angin pagi, menimbulkan kesan anggun tanpa usaha. Rambutnya dikuncir seadanya, beberapa helaian jatuh membingkai wajah polosnya. Riasan tipis menghias wajahnya, menambah kesan elegan yang alami.

Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan kekacauan di pikirannya. Kejadian di kamar Sehun masih melekat kuat, meninggalkan rasa getir yang menusuk di balik ketenangan wajahnya. Setiap langkah terasa berat, seperti melangkah ke medan pertempuran.

Tapi belum sempat ia sampai ke meja, langkahnya terhenti.

Dari arah berlawanan, pria itu muncul, Sehun, dengan penampilan santai tapi tetap mencolok. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung rapi, celana hitam yang menempel sempurna di lekuk tubuhnya yang tinggi, serta jam tangan perak berkilauan terkena cahaya. Rambutnya masih agak lembap, membuatnya terlihat... segar.

Tatapan mereka bertemu. Sekilas. Tapi cukup untuk membuat dada Lisa mencelos. Matanya, entah kenapa, langsung jatuh ke bawah. Ke bagian tubuh Sehun yang tertutup celana itu. Seketika bayangan pagi tadi muncul begitu saja di kepalanya.

Wajah Lisa memerah. Panas. Ia cepat-cepat memalingkan pandangan dan menunduk, seolah lantai lebih menarik dari apa pun di dunia ini.

Sehun melihatnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, licik, penuh arti. Ia tahu. Tentu saja dia tahu.

Red Seduction Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang