JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-
------------------------------------------------------
Happy reading ❤️
"Hai, Lisa! Bagaimana pertemuanmu dengan Direktur Sehun?"
Suara Rose mengandung nada menggoda, membuat Lisa hanya menatapnya dengan ekspresi datar.
"Biasa saja."
Rose membelalakkan mata. "Kau bercanda, kan?"
Lisa mengangkat bahu acuh tak acuh. "Memangnya kenapa?"
Rose mendesah dramatis lalu bersandar di meja. "Lisa, semua wanita di kantor ini tergila-gila padanya. Dia kaya, tampan, dan... karismanya itu sulit ditolak."
Lisa menyipitkan mata, nadanya sinis. "Termasuk kau?"
Rose hanya tersenyum tanpa menjawab, tapi Lisa cukup peka untuk menangkap maknanya.
Namun sebelum Rose sempat menanggapi, suara langkah kaki bergema di ruangan.
"Dilarang bergosip di sini."
Suara bariton yang dalam dan dingin itu membuat ruangan terasa membeku. Lisa dan Rose sontak menoleh.
Di sana, berdiri seorang pria dengan jas mahal yang membalut tubuh tegapnya. Mata hitamnya tajam, ekspresinya tanpa emosi.
Sehun.
Rose langsung menunduk gugup. "Maaf, Pak," ucapnya cepat.
Lisa? Ia tetap berdiri tegak, menatap pria itu tanpa gentar. "Maaf Pak," ucapnya datar.
Rose menahan napas. Apa Lisa sudah gila?
Tatapan Sehun tetap terkunci pada Lisa, seakan sedang menilai sesuatu. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, ia berbalik dan berjalan menuju ruangannya.
Rose baru saja menghela napas lega ketika Sehun berhenti di ambang pintu dan menoleh lagi.
"Kau," ujarnya, menunjuk Lisa dengan dagunya. "Ke ruanganku. Sekarang."
Lisa mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Brengsek.
Setelah mengetuk pintu, Lisa masuk ke dalam ruangan Sehun.
"Kenapa saya dipanggil, Pak?" tanyanya, berusaha terdengar sopan meskipun emosinya mendidih.
Sehun tidak langsung menjawab. Dia tetap fokus pada dokumen di tangannya, membolak-balik halaman tanpa sedikit pun mengalihkan perhatian padanya.
"Kita ada rapat dengan klien di Hotel XXX," ucapnya akhirnya.
Lisa menahan napas. "Sekarang, Pak?"
Sehun akhirnya mengangkat kepala. Bibirnya melengkung tipis, tapi tatapannya dingin. "Tidak. Tahun depan."
Lisa mengepalkan tangan, menahan dorongan untuk melempar sesuatu ke arahnya. "Baik, Pak."
Sehun bangkit dari kursinya, berjalan melewatinya. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu.
Dia menoleh sedikit, suaranya rendah namun tajam. "Kenapa kau berdiri di sampingku?"
Lisa mengerutkan kening. "Bapak bilang kita akan pergi ke rapat..."
Sehun melipat tangannya di dada. "Berdiri di belakangku. Dan di mana tasku?"
Lisa menggertakkan giginya. Brengsek. Sombong sekali!
"Saya akan mengambilnya," ucapnya, mencoba menahan emosinya.
Lisa berlari ke ruangannya, mengambil tas Sehun, lalu kembali ke lift. Namun, saat sampai di sana, pria itu sudah menghilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Seduction
RomanceLisa, putri dari seorang bos mafia, terpaksa menerima misi berbahaya demi kebebasannya, mencuri Blue Diamond milik Ooh Sehun, CEO muda yang dingin dan kejam. Demi menyusup ke dalam hidupnya, ia menyamar sebagai sekretaris culun yang tak mencolok. Na...
