Chapter 20 - Ciuman pertama

457 39 18
                                        

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN COMENT NYA.
TERIMAKASIH
-------------------------------------------------------

Happy reading ❤️

Lisa melirik sekilas ke arah Bella, yang tengah duduk dengan wajah penuh kepuasan. Wanita itu tersenyum tipis, seperti menyaksikan panggung tragedi yang telah ia tulis sendiri. Dunia seolah sedang membentangkan karpet merah menuju kehancuran Lisa dan Bella berada di barisan paling depan untuk menontonnya.

Namun Lisa tak bereaksi. Ia menunduk, jemarinya menyapu layar ponsel, kemudian meletakkannya di meja. Layar itu menyala, memperlihatkan satu file, siap untuk diputar.

Dari seberang ruangan, Sehun memperhatikan dalam diam. Hanya alisnya yang bergerak sedikit, seolah mencermati sesuatu yang tak terlihat orang lain.

Lisa mengangkat wajahnya. Suaranya tenang, tapi bergetar dengan kekuatan yang sulit diabaikan.

"Jika saya diadili dengan bukti digital,” ucapnya, "Maka izinkan saya menyampaikan pembelaan dengan bukti yang sama."

Tatapannya lurus menembus mata Sehun. Lalu, ia menekan tombol play.

Terdengar tawa. Ringan, tajam, dan mencibir. Lalu suara wanita itu berkata.

"Benar. Aku yang membocorkan semuanya… dan kau tahu hal terbaiknya? Tidak ada bukti."

Ruangan seketika membeku. Rekaman itu menggema seperti palu godam menghantam keheningan. Semua mata kini beralih pada Bella.

Senyum Bella runtuh. Wajahnya membeku, dingin dan kosong, seperti patung yang retak dari dalam.

"Itu... itu palsu," ia tergagap. "Suara itu bukan milikku." Ia mencoba mengendalikan ekspresinya, tapi Lisa tahu, di balik topeng itu, ketakutan mulai menjalar seperti kabut hitam.

"Oh?" Lisa menyeringai kecil. "Benarkah?"

Ia melirik ke arah Rose dan memberi isyarat halus. Rose berdiri, hendak mematikan lampu. Tapi Bella bergerak lebih cepat, menghalangi, seperti serigala yang sadar jebakannya terbalik arah.

"Hanya rekaman suara. Itu tak bisa dijadikan bukti!" desisnya, panik mulai menyusup ke dalam nadanya. Ia masih mengira permainan ini bisa ia menangkan. Ia tidak tahu badai besar sedang menunggu di ujung langkahnya.

"Kau benar," bisik Lisa, nyaris terdengar seperti ejekan. "Karena itu, aku menyiapkan bukti lain."

Lisa menekan tombol di laptop. Bersamaan dengan itu, Rose memadamkan lampu.

Layar proyektor menyala. Sebuah video mulai diputar, terlihat jelas Bella duduk di depan komputer, dengan teliti mengirim data proyek ke pihak lawan. Setiap klik, setiap gerakan, direkam tanpa cela.

Bella terdiam. Wajahnya kehilangan warna. Ia menerjang ke arah Lisa, membanting laptopnya dengan putus asa. Proyektor padam. Video berhenti.

Namun semuanya sudah terlambat.

Kebenaran telah dilihat. Tak ada yang bisa ditarik kembali.

Sehun tak berkata sepatah kata pun. Ia hanya mengangkat tangan, dan dua petugas keamanan segera masuk. Mereka menggiring Bella yang tak lagi bisa berdalih.

Saat melewati Lisa, wanita itu menghentikannya. Mendekat perlahan, lalu berbisik tepat di telinganya:

"Jika kau ingin menjadi antagonis," katanya, "Gunakan sedikit otak kecilmu. Jangan pakai trik murahan seperti ini."

Senyumnya menusuk. Bella menggertakkan gigi, namun belum sempat membalas, tubuhnya sudah dibawa menjauh.

Namun sebelum langkah mereka menghilang sepenuhnya… layar kembali menyala.

Red Seduction Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang