Sumilir 21

38.8K 3.2K 151
                                        

"Habis boyongan kambing terus...?
Ya, boyongan sapilah. Masa sapine ditinggal."

-Areksa Mahendra-

🌾

Aku mau curhat dikit. Setelah libur panjang, aku akhirnya balik kos dan meninggalkan segala inspirasiku di desa. Jadi, maaf kalau ke depannya agak lambat updatenya.

Tapi aku kos tuh cuma Senin sampai Jumat. Masih ada Sabtu Minggu di rumah💚

Jadi, aku usahakan yaa😇

🌾

"Ra, temenku ada yang curhat. Katanya, dia tiba-tiba mau dideketin sama cowok, dong. Kek bener-bener cowoknya itu ngomong langsung sama temenku kalau dia mau deketin. Aku dengernya aja syok, Ra. Apalagi temenku itu ya." Nindya membuka percakapan itu saat ia teringat akan satu hal.

Yura menyimak dengan tenang. Kali ini mereka sedang menghamburkan uang di sebuah lapangan yang setiap sore menjadi tempat bermain masyarakat umum.

"Terus?" Yura menyuap satu cimol berbumbunya. Ia tidak tampak penasaran tapi juga tidak cuek.

"Temenku bingung katanya. Mau diterima atau enggak."

"Cowoknya langsung nembak?" Nindya menggeleng.

"Sekarang mereka kayak apa? PDKT?"

"Enggak, Ra. Deket enggak, jauh juga enggak." Minuman dingin di tangan Nindya sudah mulai habis akibat ia terus bercerita ditambah dengan bakso bakar yang ia beli tadi terlalu pedas baginya. Sepertinya ia akan mencoba membeli bakso bakar di dekat bengkel Mas Hadi sendiri. Dari segi rasa dan juga tingkat pedasnya sangat pas untuknya.

Yura mengangguk, terus menyantap cimolnya sambil menatap jauh ke arah sekelompok remaja laki-laki yang sedang bermain sepak bola di tengah lapangan. Rumput

"Ra..."

"Kenapa?" Yura menoleh.

"Gimanaaa?"

"Apanya?" Yura kebingungan.

"Dengerin nggak sih, tadi? Temenku itu lhoo..."

"Denger aku. Terus gimana lagi? Emang itu kisah Mbak Nindya? Enggak kan? Atau... jangan-jangan cowoknya gebetan Mbak Nindya yaa?" Yura menggunakan tusuk cimolnya untuk menunjuk Nindya.

"Ngawur!" Nindya menyentil dahi sepupunya itu.

"Temen Mbak Nin udah punya gebetan?" Tanya Yura setelah selesai meringis dan mengusap dahinya.

Nindya mengernyitkan keningnya, "belum."

"Terus kenapa harus bingung? Cowoknya bukan kriminal kan?"

"Astaga... Enggak, Ra."

"Ya udah, biarin mereka deket, Mbak. Ngapain Mbak Nin ikut mikirin hubungan mereka? Mending Mbak Nindya buruan cari pacar juga, biar bisa nangkis omongan tetangga yang jodohin Mbak Nin sama Mas Areksa."

"Kenapa jadi aku?!" Nindya menyalak layaknya anjing yang terinjak ekornya.

"Lah, daripada Mbak Nindya ngurusin proses pendekatan temen sendiri? Lagian Ageman segede itu masa nggak ada sebarang kain perca atau karung paket yang naksir Mbak Nin?" Secara tidak langsung, Yura menilai jika dirinya sepadan dengan baran-barang penunggu gudang.

"Makin ngelantur ya, Ra, kamu? Emang bener kata Budhe tadi, kamu sesetres itu mau kelulusan."

Nindya menerawang ke depan, mengingat apa yang membuat mereka akhirnya terdampar di tepi lapangan tempat orang berkumpul untuk sekedar jajan atau mengumbar anak mereka di rumput untuk berlari-lari sambil disuapi nasi dengan kulit ayam bagian leher an kepala.

Sumilir [Selesai | Lengkap]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang