Jaehyuk melempar bukunya dengan kesal.
"Maksud kamu, kakak kurang bertanggung jawab?"
Adiknya. Yoon Sienna.
"Emang kan? Aku sering kekurangan uang, kak. Harus selalu ngemis ke kakak buat minta ini itu" Sienna tidak mau kalau.
Mengemis?
Dari banyak kata, adiknya memilih kata itu?
Jaehyuk mengendurkan dasinya, "Kamu pikir uang kakak cuma buat kamu?"
"Kebutuhan rumah siapa yang tanggung? Kebutuhan keluarga baru ibu siapa? Biaya rumah sakit ayah siapa?"
"Sekolahmu, siapa yang tanggung?"
"Siapa yang tanggung semua itu?" tanya Jaehyuk.
Ia sudah mulai kesal. Selama ini ia mencoba menjadi anak laki-laki sulung yang bisa menjadi penopang keluarganya.
Tapi kenapa seperti tidak pernah terlihat?
Sienna diam, ia malah memalingkan wajahnya.
Jaehyuk semakin kesal dengan respon adiknya yang seolah tidak menghargainya.
"Kakak tau anak seusia kamu lagi gencar beli ini itu"
"Tapi kakak mohon, manage uang kamu. Kakak selalu usahain-"
"Usahain gimana? Aku udah sabar semenjak awal SMA dan masih harus hemat ini hemat itulah" berontak Sienna.
Bahkan Jaehyuk sudah mengorbankan semuanya. Jauh lebih buruk dan lebih berat.
Tapi kenapa dia yang harus selalu mengkasihani penderitaan semua orang?
Lalu bagaimana dengannya?
Siapa yang akan mengasihinya?
Setidaknya, siapa yang akan membiarkannya bernafas tanpa harus merasa lehernya terus tercekik dengan tuntutan dunia yang tidak ada habisnya?
Siapa?
Jaehyuk lelah. Ia ingin marah, namun itu juga tidak ada gunanya. Yang ada adalah kelakukan Sienna yang akan menjadi tidak terkendali.
Jaehyuk juga yang akan terkena imbasnya dan harus mengurusnya lagi. Jaehyuk tidak memiliki banyak tenaga.
Jaehyuk yang sudah sangat tidak bisa mengontrol emosi lebih memilih pergi.
Ia keluar dari rumahnya. Mencari udara segar.
.
.
.
3 jam kemudian.
Jaehyuk menghela nafasnya.
Ia melihat jam tangannya.
Pukul 11 malam.
Sedari ia sampai disini, Jaehyuk sama sekali tidak membuka ponselnya.
Bahkan ketika,
Park Jeongwoo calling...
Jaehyuk hanya meliriknya.
Harusnya malam ini, ia kembali menemui Jeongwoo. Sesuai janjinya pagi tadi. Tapi,
Jaehyuk terlalu lelah. Ia tidak punya tenaga.
Baik secara fisik maupun mentalnya.
Sampai,
"Kenapa ngga diangkat?"
Jaehyuk menoleh,
Terlihat Jeongwoo yang datang dengan wajah penuh keringat dan,
