END

1.6K 150 38
                                        

Hari terus berlalu.

Tanpa sadar, banyak hal yang sudah terjadi.

Dari segala drama kehidupan Jaehyuk dan Jeongwoo. Dari masalah keluarga, pekerjaan, pendidikan, semuanya.

Bahkan sampai terberat sekalipun.

Cuma keduanya mencoba menjalani semuanya dengan sebaik mungkin.

Tanpa harus meninggalkan satu sama lain dititik terendahnya.

Saat ini memasuki libur semester. Jeongwoo akan memasuki semester 6. Sangat cepat.

Jaehyuk yang tengah duduk disofa kamar Jeongwoo menatap layar ponsel dengan mengangguk pelan sesekali.

"Nilaimu naik. Joki ya?"

Jeongwoo yang tengah memakai pakaiannya langsung menoleh, "Jangan sampai aku murka terus menelan seluruh isi bumi ya "

Jaehyuk terkekeh pelan. Ia sedang melihat nilai semester milik Jeongwoo.

Bagus. Memang ada C tapi setidaknya itu hanya satu. Dan lainnya didominasi A dan B.

Hari ini keduanya memiliki rencana penting.

"Sayang, ayo" kata Jeongwoo setelah selesai memakai pakaiannya.

Jaehyuk menaikkan pandangannya. Ia tersenyum dan mengangguk.

Memakai mobil hitam milik Jeongwoo, keduanya menempuh perjalanan hampir satu jam.

"Kenapa dulu milih tempatnya sejauh ini?" tanya Jaehyuk berdiri disebelah Jeongwoo setelah turun dari mobil.

Jeongwoo menoleh dan menggenggam tangan Jaehyuk.

"Biar aku ngga keseringan kesini"

Jaehyuk menatap Jeongwoo yang berjalan didepannya. Masih dengan saling menggenggam.

Jaehyuk merasakan hawa yang semakin dingin. 

Area pemakaman ini habis diguyur hujan.

Dengan sisa tetesan air dan angin sore semakin membuat tubuh menggigil. 

Perasaan merana mulai melingkupi hati.

Sejauh raga berjalan, selama waktu berjalan. Tidak ada yang bisa menyembuhkan kesedihan di hati.

Semua hanya semakin terbiasa untuk menahan agar tidak memecah.

Begitu pula Jeongwoo.

Jaehyuk berdiri disamping lelaki itu. Menatap wajahnya yang sendu.

Jeongwoo melepas kacamata hitamnya. Menyimpannya disaku celana hitamnya.

Pandangannya turun. Menatap dengan dalam kearah dua batu nisan yang berjejer.

Nama ayah dan ibu Jeongwoo terpampang dengan jelas.

Jaehyuk ingin melepaskan tangannya. Namun Jeongwoo menahannya.

Jeongwoo membawa genggaman kedua tangannya ke depan dada. Ia mulai memejamkan matanya dan menunduk.

"Demi zat yang menciptakan kehidupan. Aku meminta kepada Tuhan untuk memberi tempat terbaik untuk ayah dan ibu"

Jaehyuk melihat bagaimana Jeongwoo berdoa. Berucap dengan lirih.

Namun suaranya sangat membuat hati bergetar.

"Berikan kehidupan yang lebih baik pada kematian ayah dan ibu"

"Biarkan ayah dan ibu bahagia selamanya pada dunia yang berbeda denganku"

"Tuhan, terimakasih untuk ayah dan ibuku"

Jaehyuk melangkahkan diri. Mendekat.

Satu tangannya yang kosong ikut bergabung menggenggam tangan keduanya yang berada didepan dada Jeongwoo.

The OlderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang