14

1.7K 175 43
                                        

Jeongwoo melempar dokumennya dengan kasar.

Membuat karyawan yang mengantarkan dokumen itu tersentak. Bukan, bukan karyawan itu yang salah.

Namun,

Jeongwoo meremat rambutnya kasar.

"Pergi" kata Jeongwoo. Membuat karyawan itu undur diri.

Jeongwoo memandang dokumen yang berserakan.

Pekerjaannya semakin berantakan.

Kenapa harus ada pembagian perusahaan jika sebenarnya hampir semuanya Jeongwoo yang kerjakan?

Om? Kakek?

Kenapa semua pekerjaannya hampir diberikan pada Jeongwoo semua?

Tapi bahkan Jeongwoo tidak memiliki saham semua perusahaan itu secara total?

Jeongwoo bekerja keras. Ia benar-benar melakukannya dengan baik. Tapi bukan berarti karena title keluarga, Jeongwoo harus mengerjakan pekerjaan keluarganya?

Bahkan gaji dibagi rata, kenapa tidak dengan pikiran dan tenaganya?

Kenapa berlindung dengan title keluarga, harus membuat Jeongwoo lembur, lupa makan dan sering tidur hanya tiga jam dalam satu hari?

Kenapa?

Jeongwoo menatap ruang kerjanya dengan muak.

Ia sangat kesal. Ia ingin marah dan berteriak.

Namun pada siapa?

Dan alasan apa yang bisa melandasi kemarahan Jeongwoo?

Jeongwoo berjalan keluar.

Menginjak semua dokumen yang berserekan dilantai.

Hati dan pikiran Jeongwoo sudah penuh dengan rasa kesal.

Namun pada kenyataannya hanya hal itu yang bisa ia lakukan. Tanpa tau bagaimana dan kemana harus meluapkan perasaannya.

.

.

.

Jaehyuk menghela nafas. Ia meremat ponselnya dengan sedikit tidak sabar.

Kenapa?

Masalahnya,

Sudah empat hari ini, Jeongwoo tidak membalas pesan dan telfonnya. Jaehyuk mengira memang sedang sibuk dan Jaehyuk tidak begitu mempermasalahkannya karena Jeongwoo memiliki kegiatan dan dunianya sendiri yang tidak bisa Jaehyuk masuki juga.

Namun yang mengganggunya adalah Jeongwoo tidak masuk ke dalam kelasnya. Tanpa keterangan.

Bahkan Haruto, teman dekatnya menjawab tidak tau ketika Jaehyuk bertanya.

Haruto juga mengatakan bahwa ia tidak bisa menghubungi Jeongwoo beberapa hari belakangan ini. Tapi,

"Biasanya kalau Jeongwoo lagi stress  atau tertekan sama suatu hal pasti anaknya suka susah di reach out"

"Tapi ngga pernah kemana-mana kok pak, paling juga ngurung diri dirumah"

Itulah yang Jaehyuk dapat dari Haruto.

Membuatnya sekarang,

Benar-benar sudah berada dihalaman rumah Jeongwoo.

Jaehyuk memarkirkan mobilnya dan kemudian keluar. Masih dengan kemeja putih dan celana hitamnya.

Tidak lupa dengan tas ransel yang ia bawa. 

Jaehyuk langsung kesini setelah selesai mengajar.

Jaehyuk melirik ke parkiran disamping rumah besar ini.

The OlderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang