9

1.5K 183 41
                                        

Jeongwoo menatap foto kedua orang tuanya yang terpampang besar di ruang tengah rumahnya.

Dirumah besar ini hanya ada dirinya.

Tidak ada siapapun sejak ia berusia 15 tahun. Sesekali hanya ada pembantu yang datang untuk membersihkan rumahnya.

Keluarga lainnya? Ada, tentu saja.

Jeongwoo masih memiliki kakek, nenek, om, tante bahkan sepupu. Namun semakin bertambah dewasa, Jeongwoo sadar. Mereka memiliki kehidupannya sendiri, dimana Jeongwoo bukanlah bagian inti dari mereka.

Jadi, daripada Jeongwoo harus melihat dan merasa iri ketika keluarganya yang lain tengah berkumpul. Ia memilih hidup sendiri.

Terdengar sepele. Namun bagi Jeongwoo, melihat interaksi dari sebuah keluarga utuh itu cukup menyakitkan.

"Selamat ulang tahun Jeongwoo" kata Jeongwoo kepada dirinya sendiri.

Hari ini tepat dirinya berusia 21 tahun. Usia menuju kedewasaan.

"Ayah ibu, Jeongwoo udah 21 tahun. Dan sampai sekarang masih bisa bertahan. Terimakasih" 

Jeongwoo kemudian memilih untuk kembali ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya ke tempat tidur. Hari ini hari Rabu.

Jeongwoo ada mata kuliah namun,

Jeongwoo akan memilih untuk mengasingkan diri. Kenapa?

Entahlah. Yang Jeongwoo rasakan ketika hari ulang tahunnya maupun peringatan kematian orang tuanya adalah kesedihan dan kesepian yang amat sangat. Dan Jeongwoo lebih memilih mengasingkan diri daripada harus berkerumun dikeramaian.

Kemudian,

Satu hari.

Dua hari.

Satu minggu kemudian.

Jaehyuk hanya diam melihat lalu lalang mahasiswanya yang mulai beranjak pergi. Pulang. Karena memang hari sudah menunjukan pukul 5 sore.

Sudah satu minggu ini, Jaehyuk tidak melihat keberadaan Jeongwoo. Bahkan Jeongwoo jarang sekali masuk kelasnya.

Jaehyuk hanya merasa sedikit aneh saja. Atau sepi?

Karena sudah satu bulan ini, ia hampir setiap hari bertemu Jeongwoo dan tiba-tiba anak itu menghilang seperti ditelan bumi.

Tanpa jejak. Tanpa kabar.

Sampai,

"Hai"

Jaehyuk langsung menoleh saat ia merasa akrab dengan suara berat itu.

Itu dia.

Park Jeongwoo. Si remaja tengil yang baru saja memasuki rooftop.

Ah benar. Jaehyuk berada di rooftop gedung teknik ini.

Jeongwoo dengan senyuman khasnya datang menghampir. Mendekat.

"Ngapain disini pak? Saya cariin ke perpustakaan"

Jaehyuk masih terdiam. Ia menatap Jeongwoo.

Anak itu terlihat baik-baik saja.

"Kamu.." Jaehyuk terlihat cukup ragu bertanya.

Jeongwoo menaikkan kedua alisnya.

"Saya apa?"

Jaehyuk kemudian menggeleng. Dan kembali membalikkan tubuhnya. Melihat lalu lalang mahasiswa.

Jeongwoo? Hanya mengendikan bahunya. Kemudian ikut berdiri disamping Jaehyuk.

"Rokok ngga, pak?" tawar Jeongwoo.

The OlderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang