Kelopak 80 - Perintah Yang Dibantah (1)

205 17 1
                                        

Dhanu yang telah menjadi siluman akibat kutukan Dewi Ular menggunakan Bunga Pahit Lidah berdiri dengan sikap garang sambil menatap pada Wisnu Dhanapala yang terbaring tepat di bawah kakinya.

"Apa yang akan kita lakukan dengan manusia ini?" Tanya Byakta pada semua orang. Di sebelahnya mendampingi dengan setia Dharmaji yang telah berhasil disadarkan dari pingsan.

"Aku merasa manusia ini akan menjadi penghalang cita-cita kita, lebih baik kita bunuh dia dari pada bikin susah kelak!" Ratu Peri berucap, lalu siap menyerang Wisnu yang tengah roboh pingsan dengan jurus Jarum Dewi Merajut Langit.

Jurus telah dilepaskan, ratusan jarum mengarah pada Wisnu Dhanapala, jika itu terjadi bisa dipastikan Wisnu akan mati detik itu juga. Namun tiba-tiba Dhanu hentakkan kaki, dengan cepat di sekitar tubuh Wisnu berkeluaran akar-akar tanaman kokoh yang membentuk pagar pelindung. Jarum-jarum sakti milik Ratu Peri menancap dan tertahan di pagar akar itu.

"Jangan kalian coba-coba menyentuh tubuh orang ini! Nyawanya hanya aku yang boleh menentukan," ujar Dhanu dengan dingin. Setelah itu dia menunduk dan meraih tubuh Wisnu. Kini sosok pendekar penguasa Hutan Kayu Wangi itu berada dalam panggulan bahu Dhanu.

Dhanu menatap lurus ke seberang Hutan Kayu Wangi, dia ingin menyebrang ke hutan itu. Satu seringai bengis mengembang, setelah itu dia meniup. Dari dalam mulutnya berhamburan keluar kelopak-kelopak bunga mawar begitu banyaknya laksana ombak samudra.

Kelopak-kelopak mawar itu membentuk seperti hamparan awan yang membentang sepanjang jurang. Dengan enteng Dhanu menjejak melangkah menuju seberang jurang dengan menginjak kelopak-kelopak itu.

Iblis Naga dan Dewi Ular, serta Ratu Peri saling melirik.
"Apa kita harus mengikutinya?" Tanya Ratu Peri.

Iblis Naga terdiam tak mampu mengambil keputusan, Dewi Ular juga ragu buat menjejakkan kaki ke atas hamparan kelopak mawar, kalau jebol bisa-bisa dia amblas ke dalam jurang.

"Mengapa kalian diam saja? Lekas ikuti aku, tolol!" Tegur Dhanu.

Karuan saja semua orang terkejut, rahang Byakta langsung bergemelatuk karena marah dikatai tolol.

"Jangan marah, Sayang! Kelak aku akan meminta Dhanu untuk lebih menghormati kita. Jangan lupa, aku telah mengutuk Dhanu menjadi budak penurutku." Dewi Ular buang keraguan, dia mendahului melangkah menyebrangi jurang dengan melangkah di atas hamparan kelopak mawar yang menggantung.

Kini semua orang melangkah masuk ke Hutan Kayu Wangi. Cukup aneh, biasanya Hutan Kayu Wangi akan memberi penolakan keras jika ada manusia sembarangan yang memasuki kawasan ini, semua harus seijin Wisnu. Hal ini kepikiran juga di otak Dewi Ular.
"Aneh, setahuku pohon-pohon di sini bisa bergerak menyerang jika didatangi pengacau, tapi kenapa sekarang adem ayem, apa karena Wisnu berhasil kami lumpuhkan dan kami tawan?" Pikir Dewi Ular.

Kelima orang itu semakin jauh ke dalam hutan hingga mereka tiba di pondok kediaman Wisnu. Ratu Peri memasuki pondok guna memeriksa. Dhanu mengacuhkan perbuatan Ratu Peri, dia terus melangkah menuju halaman belakang di mana ada pohon-pohon berbunga lebat.

Dhanu tegak berdiri di depan barisan pohon-pohon yang sebenarnya merupakan kuburan itu. Di belakangnya berdiri Iblis Naga dan Dewi Ular dengan hati bertanya-tanya.

Tampak sepasang mata Dhanu berkilat-kilat saat melihat satu persatu pohon makam itu. Lalu dia tertawa terbahak-bahak, "Pohon-pohon itu mengandung kekuatan besar. Aku harus mendapatkannya."

Dewi Ular dan Iblis Naga terkejut bukan main. Mereka baru tahu akan rahasia terpendam dalam pohon itu.

Dhanu baringkan sosok Wisnu di atas tanah, lalu dia melangkah mendekati satu batang pohon yang berbunga putih. Dia tempekkan telapak tangan. Mendadak pohon itu menjadi gugur dan kering. Jelas sudah Dhanu menyedot kekuatan yang terkandung dalam pohon itu. Pohon berbunga putih itu adalah makam Laruni dan suaminya, salah seorang murid Wusnu Dhanapala dulu.

MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang