Kelopak 77 - Pertarungan Di Hutan Kayu Wangi (1)

195 20 1
                                        

Hutan Kayu Wangi masih sama seperti dulu, penuh dengan pepohonan menjulang juga semak belukar yang berbunga, hingga harumnya menyebar terbawa angin.
Di tengah hutan legendaris ini berdiri sebuah rumah kayu berukuran cukup besar. Rumah inilah yang menjadi tempat kediaman Wisnu Dhanapala dan juga Kelana. Tak jauh dari rumah itu tumbuh berjajar pohon-pohon besar yang berbunga lebat dan tak kenal musim. Pohon-pohon itulah yang menjadi makam dari orang-orang terdekat Wisnu Dhanapala, yaitu kedua orang tua, lalu ayah kandungnya, Dewa Iblis. Kemudian tiga orang muridnya dan terakhir makam seorang lelaki yang dulu sempat dia cintai, Pradipto Diprabhumi.

Saat itu Wisnu sedang melihat sang suami, Kelana yang berlatih silat dengan Pedang Semesta Batin.
Diam-diam Wisnu takjub karena tak menyangka sang suami bisa mengembangkan jurus-jurus yang dia ajarkan hingga memiliki cabang jurus baru. Begitu melihat sang suami selesai berlatih dengan lekas Wisnu menyodorkan teko air. Kelana langsung meneguk air dari mulut teko itu.

Wisnu mengambil sehelai kain guna mengelap keringat di tubuh Kelana.

"Jurusmu semakin hebat saja, Kang." Puji Wisnu saat sedang mengelap keringat di punggung Kelana.

"Sehebat apa pun aku, tetap saja tak akan bisa mengalahkanmu. Lagi pula pamor Pedang Semesta Batin begitu kuat, kalau aku tidak berlatih jurus-jurus baru dan meningkatkan tenaga dalam, bisa-bisa aku kalah oleh pamor pedang hingga pedang itu tak mau menurut padaku." Kelana meneguk kembali teko itu, bahkan hampir menghabiskan isinya.

"Kalau pun kita bertarung, tak akan ada yang menang mau pun kalah, kita seri. Aku tak mungkin mengalahkanmu, karena bagaimana pun kau adalah pemimpinku." Celetuk Wisnu.

Kelana mengusap rambut Wisnu dengan sayang.

"Tapi Kang, tidakkah kakang ingin mengangkat murid? Sangat disayangkan jika jurus-jurus hebat kita tak memiliki pewaris." Wisnu selesai membersihkan keringat Kelana. Kedua pendekar ini duduk di tangga belakang rumah.

"Rencana sih ada, tapi mencari murid yang cocok itu yang sulit." Keluh Kelana.

"Kenapa harus dicari lagi? Bukankah kita sudah menemukannya? Apa kakang lupa kalau saya sudah berjanji akan mengangkat Dhanu sebagai murid?" Wisnu mengingatkan Kelana karena sepertinya lelaki itu lupa pada Indradhanu.

"Kau terlalu mengistimewakan anak itu, Sayang. Kakang jadi cemburu." Kelana kembali mengeluh, dia takut perhatian Wisnu nanti akan terbagi.

"Bukan mengistimewakan! Kakang aneh, masa cemburu pada calon murid sendiri? Lagi pula entah mengapa setiap bersama Dhanu, di hati saya terbit rasa ingin menyayangi dan melindungi, tapi bukan berarti saya mau cari daun muda. Saya merasa antara saya dan Dhanu ada kesamaan, seperti ikatan batin."

Kelana mengangguk mengerti, "ya sudah, bagaimana kalau kita ke padepkan Kembang Dewa menjemput calon murid kita itu?"

"Benarkah? Saya akan bersiap-siap!"

"Tidak sekarang juga, lusa kita berangkat. Sekarang badan kakang pegal, tolong pijitin ya?" Kelana menepuk-nepuk pundaknya. Dengan wajah cemberut Wisnu memijat pundak itu.

Lagi asyik-asyiknya bercengkrama tiba-tiba ada seekor kupu-kupu berwarna merah yang terbang ke dekat mereka, dan tanpa ada sebab serangga bersayap cantik itu hinggap di kening Wisnu.

Wisnu kibaskan lengannya buat mengusir kupu-kupu itu. Hewan itu terbang berputar-putar kembali, namun tetap saja dia hinggap di kening Wisnu. Hal itu terjadi hampir lima kali.

"Kakang, mungkinkah ini suatu pertanda? Kupu-kupu ini selalu menempel di dahi saya." Keluh Wisnu.

Kelana mau tak mau jadi heran juga, "mungkin karena parasmu yang indah dan manis seperti madu, makanya kupu-kupu itu salah alamat." Tapi Kelana justru menggombal.

MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang