Kelopak 96 - Gugurnya Ratu Cangkangea

275 27 8
                                        

Di antara dua kubu pasukan yang sedang bertarung, melesat bayangan hitam yang begitu cepat dan gesit. Setiap bayangan itu menyambar sosok siluman golongan putih, maka siluman putih itu akan jatuh roboh dengan luka koyakan yang mengerikan. Bukan kena tebasan pedang, melainkan seperti terkena cakaran binatang buas.

Tak mengherankan, karena bayangan hitam itu adalah sosok Ratu Cangkangea, Ratu Siluman Serigala Hitam yang juga salah satu sekutu Dewi Ular.

Ratu Cangkangea lagi-lagi melompat gesit layaknya seekor serigala sungguhan, sasarannya ada tiga siluman golongan putih yang baru saja berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Tiga siluman itu tampak lengah karena merayakan keberhasilannya mengalahkan lawan.

Jari-jari tangan yang menjulur panjang laksana sabit siap dicabik-cabikkan ke kulit lawan. Namun, satu bayangan ungu berkelebat menerjang. Satu tendangan mengenai pinggul kiri Ratu Cangkangea. Sosoknya pun terpental ke kanan siap menghantam sebuah pohon. Ratu Cangkangea mampu mengimbangi diri, sosoknya tak menghantam pohon, malah dengan lincah dia mencengkram batang pohon dan memanjatnya. Perempuan sakti itu kini berdiri di sebuah cabang.

Di bawah pohon muncul tiga perempuan yang tak lagi muda, yaitu Candrika Dewi dengan menggenggam sebilah pedang, lalu Nyai Jinggan dengan senjata sehelai selendang jingga, dan terakhir Nenek Lembah Air Mata, di tangan kiri kanan tergenggam sebuah usuk konde yang panjangnya lebih dari sejengkal.

Ratu Cangkangea tertawa cekikikan.
"Perempuan-perempuan tua ternyata. Apa kalian sudah bosan hidup makanya berani cari mati melawanku?"

"Cuih, sombong sekali kau wanita durjana!" Candrika Dewi meludah.

"Kalau aku sombong, itu sudah wajar. Tapi kalau kalian bertiga apa tidak salah memilihku sebagai lawan kalian? Minggirlah, lebih baik kalian melawan para keroco saja." Ucap Ratu Cangkangea yang benar-benar meremehkan. Padahal Candrika Dewi dan Nenek Lembah Air Mata bukanlah tokoh sembarangan. Nyai Jinggan juga, perempuan ibu angkat Dhanu ini adalah istri seorang pemilik padepokan, juga dialah yang mengajari Anggun jurus-jurus Selendang Bidadari.

Nyai Jinggan mendongkol bukan main, "Kawan-kawan! Kita jangan banyak bicara, langsung saja kita serbu!"

Perempuan berkepandaian tinggi ini pun kebutkan selendang jingga. Selendang itu pun melesat menabrak lurus ke depan. Laksana sebilah senjata maha tajam selendang itu menghantam batang pohon.

Kraakkk! Luar biasa, pohon itu langsung terbelah dua mulai dari akar sampai ke pucuk. Pohon terbelah itu pun tumbang ke kiri dan ke kanan menimbulkan suara gemuruh yang menggidikkan.

Ratu Cangkangea sendiri tidak bodoh, saat sadar betapa jurus selendang itu sangat berbahaya dia telah melompat turun. Perempuan ini pun tak mau lagi anggap remeh. Tiba-tiba paras cantiknya berubah. Daun telinganya berubah runcing dan panjang, mirip telinga serigala. Begitu pula mulutnya yang telah berubah menjadi moncong binatang lengkap dengan taring. Yang paling mengejutkan ialah, di tulang ekornya menjulur keluar sepuluh buah buntut serigala. Buntut-buntut itu dikibas-kibas di udara.

"Bersiaplah untuk mampus!" Gaungnya. Kemudian mulutnya melolong mengeluarkan suara raungan serigala yang membuat bulu kuduk merinding. Sepuluh buntut menyebar panjang, semuanya mencari sasaran.

Candrika Dewi gunakan pedang untuk membabat saat melihat tiga buah buntut menyerbu padanya. Namun alangkah kagetnya dia saat mendapati pedangnya tidak sanggup menebas putus ekor itu.
"Seumur-umur baru kali ini pedangku tak sanggup memutus ekor binatang."

"Hahaha, dengan pedang tumpul saja kau mau jual lagak di hadapanku."

Candrika Dewi terpekik saat tiga ekor tersebut ingin menjerat kedua tangan serta leher. Candrika lekas melompat setinggi mungkin ke udara. Parasnya pucat saat melihat kaki celananya robek besar sampai ke lutut kena sambar ekor.

MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang