Kelopak 95 - Duel Para Peri

195 22 1
                                        

Dhanu memandangi wajah Ki Kamandaka dan Wisnu Dhanapala secara bergantian. Kedua pria paruh baya itu sama-sama mengakui diri sebagai ayah kandungnya.

"Dhanu, kembali kepada Paman! Paman adalah ayahmu, Dhanu. Ayo kita pulang! Di sini bukan tempatmu." Wisnu membujuk Dhanu sekali lagi guna menghalau keraguan di dada anak itu.

"Bohong! Aku lah ayahmu, ibumu adalah Dewi Ular, setelah kami menikah barulah ibumu hamil. Itu sudah cukup buat menjadi bukti." Keras Ki Kamandaka.

Lagi-lagi hati Dhanu dilanda kebimbangan. Dia menatap dalam sepasang mata para lelaki itu. Lewat mata Ki Kamandaka dia melihat ambisi dan nafsu akan kekuatan serta kekuasaan. Sorot mata yang sama seperti yang dipancarkan oleh sang ibu, Dewi Ular.

Namun, tatkala dia melihat pada sepasang mata hijau milik Wisnu Dhanapala, Dhanu merasa tentram. Ada limpahan kasih sayang serta kerinduan yang tak terperkirakan.

Dhanu melangkah tanpa sadar, nurani menuntunnya mendekati Wisnu Dhanapala. Namun baru bergerak beberapa langkah terdengar bentakan garang Dewi Ular.

"Jangan dengarkan dia, Dhanu! Patuhi perintahku! Jauhi Wisnu Dhanapala! Ini perintah ibumu!" Teriak Dewi Ular. Dari mulutnya yang telah menelan Bunga Pahit Lidah menyembur keluar sebaris asap hitam begitu pekat. Asap itu melesat secepat kilat dan tahu-tahu amblas masuk ke dalam batok kepala Dhanu.

Dhanu berteriak kencang, kepalanya laksana meledak. Sesaat tubuhnya ambruk dan bergulingan di tanah. Sekujur tubuhnya diselimuti asap hitam yang begitu pekat.

"Anakku!" Kejut Wisnu. Lelaki ini lekas melompat ingin mendekati. Namun tiba-tiba asap di tubuh Dhanu pecah, membawa terbang kelopak-kelopak bunga mawar merah. Kelopak-kelopak yang telah dialiri kekuatan jahat itu tak ubahnya seperti senjata rahasia yang tajam.

Tanpa ampun, Wisnu Dhanapala langsung tergores dan tersayat-sayat di beberapa bagian. Tubuhnya langsung dipenuhi darah. Wisnu lekas kerahkan Ajian Penyembuhan Alam buat menutupi luka.

Setelah berhasil menguasai diri, maka kagetlah dia saat melihat sosok Dhanu kembali ke wujud mengerikan. Sepasang mata hitam pekat, kulit kemerahan dan dipenuhi oleh duri-duri.

Dhanu sekali lagi berteriak, ketika dia gerakkan tangan seolah ingin mencengkram Wisnu Dhanapala, dari dalam tanah keluar akar-akar menjalar yang ingin menjerat Wisnu Dhanapala.

Wisnu pun lakukan hal yang sama, kini dua lelaki itu menggunakan jurus yang sama, mengeluarkan akar-akar yang saling membelit hingga.

"Bukan aku yang harus pulang, Paman! Tapi kau!" Teriak Dhanu. Dia hentakkan kaki.

Wisnu berseru kaget, di sekelilingnya mendadak tumbuh tanaman mawar raksasa, total ada delapan pohon. Yang hebatnya di tiap pohon ada bunga mawar-mawar raksasa yang laksana mulut hidup yang ingin menelan Wisnu.

Sehebat apa pun Wisnu dalam menghindar, namun kekuatan Dhanu jauh lebih besar dan hebat. Dalam langkah ke dua puluh tujuh kaki Wisnu terjerat akar, lalu tanpa ampun lelaki itu di telan sekuntum mawar raksasa. Mawar raksasa itu langsung menguncup hingga membuat sosok Wisnu tak ubahnya berada di dalam penjara bunga.

Wisnu kerahkan pukulan sakti untuk menjebol bunga raksasa itu, namun saat itu pula jatuh berguguran serbuk-serbuk kuning yang membuatnya lemas kehilangan tenaga.

Dhanu tertawa terbahak-bahak penuh kekejian. "Sekarang kau tak bisa kemana-mana lagi, Paman. Tunggu aku membereskan semua musuh baru aku akan membebaskanmu dari bunga."

Dhanu tepuk-tepuk tangan untuk menghalau debu. Tampak Ki Kamandaka mendekatinya.

"Kau memang hebat anakku, untuk merayakan keberhasilanmu mendapatkan Wisnu kembali. Ayah punya hadiah untukmu." Ki Kamandaka keluarkan sebuah kantung air dari balik baju.

MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang