Gerombolan pendekar golongan hitam itu kembali ke Hutan Kayu Wangi diikuti barisan para peri yang telah berhasil mereka taklukkan.
"Kalian semua menyebar ke delapan penjuru hutan ini! Tugas kalian menjaga kawasan ini! Jangan sampai ada penyusup yang berhasil masuk!" Titah Dhanu kepada para peri.
Seluruh peri yang berjumlah ratusan itu pun menyebar ke seluruh penjuru hutan. Dewi Ular bangga sekaligus puas pada kinerja anaknya.
"Anakku benar-benar dapat diandalkan. Kaum peri yang konon lebih tangguh dari golongan siluman dapat dia taklukkan semudah membalikkan telapak tangan. Dunia benar-benar berada dalam genggaman tanganku sekarang." Dewi Ular bahagia bukan main. Dia kini balikkan tubuh buat melihat anak buahnya.
Di belakang Dewi Ular memang ada empat siluman ular yang sedang memanggul sebuah tandu yang terbuat dari kayu. Di atas tandu itu terikat tanpa daya sosok Raja Peri. Pria yang sebenarnya berusia hampir 50 tahun itu tetapi masih tampan dan gagah itu tampak pejamkan mata, mulutnya berkomat-kamit membaca doa sekaligus mantra. Dia berusaha menghimpun tenaganya yang melemah agar dapat lepas dari jeratan akar-akar sakti. Namun usahanya sia-sia, kesaktiannya benar-benar lumpuh.
Dewi Ular tersenyum simpul melihat Raja Peri itu. Dia benar-benar takjub akan ketampanannya. Jika dibandingkan dengan Byakta si Iblis Naga tentu saja jauh lebih tampan Raja Peri. Lelaki ini berkulit bersih, wajahnya selain tampan juga begitu sejuk buat dipandang.
"Ratu Peri goblok! Dapat suami seganteng ini masih saja cari pelir lain buat bercinta." Dewi Ular berkata-kata dalam hati sambil melirik pada Ratu Peri yang bergandengan tangan pada Byakta. Di dekat Byakta ada juga Putri Cempaka yang ternyata merupakan anak dari hubungan terlarang Ratu Peri dan Byakta.
"Atau jangan-jangan, Raja Peri anunya kecil." Berpikir demikian, maka Dewi Ular beri isyarat pada anak buahnya buat merendahkan tandu.
Dewi Ular mendekati tandu sambil tersenyum mesum.
"Duh, gantengnya."
Raja Peri buka kedua mata, pandangannya langsung membentur wajah Dewi Ular yang memang cantik.
"Mau apa kau? Perempuan laknat!"
Dewi Ular hanya tertawa halus, "Jangan kelewat benci, Sayang! Tidakkah kau tergoda oleh kecantikan dan kemolekan tubuhku?" Dewi Ular menggoda sambil belai-belai leher dan payudara sendiri.
"Cih! Secantik apapun dirimu, kau tetaplah seekor ular!" Cerca Raja Peri.
Dewi Ular hanya tertawa cekikikan. "Kali ini kau memang bisa mencerca dan memakiku, tapi setelah kau rasakan nikmatnya jepitan kewanitaanku, kau pasti ketagihan di siang dan malam."
Raja Peri pejamkan matanya kembali sambil mulut memohon ampun dan pertolongan Dewata.
Dewi Ular semakin blingsatan melihat paras Raja Peri yang sedang terpejam, ternyata malah bikin makin ganteng. Dewi Ular pun gerakkan tangan mengelus-elus dada bidang Raja Peri, lalu turun ke perut dan tak terduga langsung menelusup ke balik celana. Sepasang mata Dewi Ular membulat lebar tatkala tangannya berhasil meraih dan menggenggam segumpal daging kenyal yang dihiasi bulu-bulu kasar, kelamin Raja Peri. Dari genggamannya itu Dewi Ular yakin kalau milik Raja Peri berukuran besar.
Buat meyakinkan diri, Dewi Ular enak saja menarik turun celana Raja Peri yang memang telah lusuh itu. Sepasang mata Dewi Ular terbelalak melihat kelamin jantan itu. Ternyata benar, besar menggairahkan dihiasi bulu-bulu jembut. Kulitnya cerah, baik di selangkangan maupun di paha. Dewi Ular merasakan matanya silau seolah melihat harta Karun paling berharga.
Ratu Peri yang melihat tingkah jalang Dewi Ular langsung saja membentak.
"Dasar Ular jalang! Jangan pelototi milik suamiku!"
KAMU SEDANG MEMBACA
MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
Fantasi"Hridaya pravahita anugraha" Cinta adalah anugerah yang mengalir dari hati. Lintang Arganata seorang murid cekatan dari padepokan Linggabuana mendapatkan tugas memberikan undangan adu tanding Kanuragan ke Padepokan Kembang Dewa. Di sana Lintang Arg...
