Barisan prajurit pemanah di Megapura terdiri dari empat lapis, mereka berjaga di depan pintu gerbang negeri di atas angin itu.
Barisan lapis pertama terdiri dari lima puluh peri bersenjatakan panah api, lalu lapis kedua dan seterusnya ialah lima puluh prajurit panah angin, lima puluh prajurit panah petir, dan lima puluh panah air.
"Apa itu?" Seru seorang prajurit pemanah yang melihat munculnya satu awan aneh berwarna merah. Gerakan awan merah itu begitu cepat, dan tahu-tahu saja angin kencang melanda membawa taburan kelopak-kelopak mawar.
Belum sempat para prajurit bergerak, tubuh kesemuanya telah terbungkus kelopak-kelopak mawar laksana mumi.
Barisan prajurit lain yang belum terpapar kelopak mawar langsung tanggap. Puluhan anak panah aneka warna dengan kekuatan masing-masing melesat ganas menuju awan merah yang ternyata di atasnya tampak tegak berdiri empat orang, yaitu Indradhanu, Byakta, Dewi Ular dan Wisnu Dhanapala.
Indradhanu hanya tertawa terbahak mengejek anak-anak panah yang datang menyerbu itu. Dengan satu hentikan jari, seluruh panah mendadak punah dan lebur tanpa bekas.
"Bagaimana paman? Ajian Hamparan Mawar Pelebur Debu milikku hebat, bukan?" Ucap Indradhanu pada Wisnu Dhanapala.
"Apa gunanya ilmu yang hebat jika digunakan untuk kejahatan," jawab Wisnu dengan prihatin akan nasib para prajurit peri.
"Kurang ajar!" Dewi Ular menampar Wisnu karena dianggap mencoba mempengaruhi pendirian Dhanu.
Melihat Dewi Ular menampar Wisnu, Indradhanu pun marah, dia ganti menampar Dewi Ular.
"Dhanu! Kau berani menampar ibumu sendiri?" Kaget Dewi Ular.
"Jangan ganggu pamanku!" Bentak Dhanu dengan dingin. Dewi Ular rasakan kuduknya merinding ketika melihat sepasang mata Dhanu berubah menjadi hijau.
"Ma-maafkan ibu, Dhanu." Dewi Ular mengalah.
Dhanu pencongkan mulut, lalu dia kembali menatap barisan prajurit pemanah Megapura yang telah siaga memegang busur. Anak panah pun kembali melesat laksana hujan.
Indradhanu kembali tertawa terbahak-bahak, kembali jarinya menjentik mengeluarkan Ajian Hamparan Mawar Pelebur Debu.
Seluruh panah langsung musnah menjadi butiran debu.
Para prajurit langsung merasakan tengkuknya merinding.
"Lekas, melapor pada yang mulia Raja Peri!" Suruh seorang kepala prajurit.
Dua orang prajurit langsung melesat masuk menembus gerbang. Hanya sesaat setelah dua prajurit itu masuk melewati gerbang, maka Sambaran topan yang membawa terbang kelopak mawar kembali menyerbu. Satu persatu para prajurit peri jatuh terbaring dengan tubuh dibungkusi kelopak mawar.
"Cuma segini kemampuan para peri ini? Byakta! Kau bilang barisan pemanah ini sulit dilumpuhkan, tapi nyatanya cuma pepesan kosong." Seru Dhanu.
Byakta alias Iblis Naga merasa tak senang saat namanya disebut tanpa rasa hormat sedikitpun oleh Dhanu.
"Itu semua karena kau terlalu sakti, anakku." Dewi Ular yang cepat menyahuti.
Kini mereka bersiap menembus gerbang, tetapi tiba-tiba pintu gerbang terbuka lebar, namun dari celah gerbang itu mendadak muncul satu tabir cahaya berwarna kuning dihiasi corak-corak aneh.
Indradhanu sipitkan wajah melihat tabir cahaya itu.
"Kedatangan kita telah diketahui."
Saat itu pula terdengar suara bentakan garang penuh wibawa, "Kalian semua! Hentikan langkah! Bergerak sedikit saja maka tabir cahaya itu akan menghabisi kalian!"
"Jurus apa itu?" Tanya Dhanu sambil memperhatikan tabir cahaya yang berbentuk pintu itu.
"Kalau tak salah itu adalah jurus Tabir Bulan Mutiara Dewa." Byakta yang menjawab.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
Fantasy"Hridaya pravahita anugraha" Cinta adalah anugerah yang mengalir dari hati. Lintang Arganata seorang murid cekatan dari padepokan Linggabuana mendapatkan tugas memberikan undangan adu tanding Kanuragan ke Padepokan Kembang Dewa. Di sana Lintang Arg...
