Para pendekar golongan putih berpencar menjadi tiga kelompok, masing-masing memilih lawan yang memang berjumlah tiga.
Giri Prawara, Ki Cipta Reksa, Hanggara, Kelana serta Ratu Kameswari memilih menghadapi Byakta, si Iblis Naga.
Lintang, Anggun, Dhanu, dan Wisnu Dhanapala menyerbu pada Dewi Ular.
Sedangkan Pangeran Esa Kanagara, Wiladi serta murid padepokan lainnya mengeroyok Yudhayaksa. Agaknya para murid padepokan Kembang Dewa sengaja menjadikan Yudhayaksa sebagai sasaran karena menganggap lelaki itu tidak sesakti Dewi Ular maupun Byakta. Padahal dugaan mereka itu salah.
Hidung Dewi Ular kembang kempis karena gusar dikeroyok para pendekar hebat, yang paling ditakutinya adalah Wisnu Dhanapala, namun karena sifatnya yang keras maka Dewi Ular masih saja unjukkan sikap garang.
"Hahaha, begini rupanya tabiat para pendekar golongan putih. Dari jaman dulu sampai sekarang selalu main keroyokan." Ejek Dewi Ular.
"Tutup mulutmu! Terhadap wanita iblis sepertimu seluruh cara diperbolehkan, yang penting kau harus mati!" Sergah Nyai Jinggan. Perempuan segera loloskan senjata utamanya, yakni sehelai selendang berwarna jingga. Sama seperti Anggun, Nyai Jinggan juga memiliki jurus Selendang Bidadari. Bersama sang putri dia kebutkan selendang, Anggun juga lakukan hal yang sama. Laksana jerat dua selendang beda warna itu mengincar kaki dan leher Dewi Ular.
"Licik!" Maki Dewi Ular, dia lekas mundur sejauh mungkin ke belakang dengan kaki kanan menggores tanah. Tanah terbelah, dari belahan tanah itu berhamburan ular-ular aneka warna begitu banyaknya. Ular-ular itu segera menjelma menjadi para prajurit ular.
"Bunuh mereka!" Titah Dewi Ular. Alhasil Anggun dan Nyai Jinggan tak leluasa bergerak menghadapi keroyokan prajurit itu.
Meski para prajurit ular memiliki ilmu kanuragan yang rendah namun jumlah mereka sangat banyak. Dewi Ular menyaksikan pertarungan para prajuritnya sambil mencari-cari kesempatan buat merampas Dhanu. Sialnya Wisnu selalu bertarung tak jauh dari Dhanu.
Saat Dewi Ular sedang memikirkan cara untuk merampas Dhanu tiba-tiba satu bayangan putih berkelebat dan berdiri lima langkah di hadapan. Lintang Arganata.
"Akulah lawanmu!" Ujar Lintang dengan dingin, matanya mendelik penuh dendam dan benci. Dewi Ularlah yang telah membunuh ayahnya.
Dewi Ular berkacak pinggang lalu tertawa cekikikan.
"Anak masih bau kencur berani menantang Dewi Ular? Hikhikhik, lelucon seperti apa ini? Kencing saja belum lurus."
"Bedebah! Jangan banyak bacot!" Dengan cepat Lintang lepaskan Pedang Malaikat Biru yang melilit di pinggang, pedang itu terhunus dengan memancarkan aura berwarna biru yang angker. Selain itu Lintang juga keluarkan Ajian Halilintar Biru. Tubuhnya kini berpijar-pijar laksana mengenakan zirah perang yang terbuat dari halilintar.
Dewi Ular mau tak mau gentar juga, "Sial, kenapa aku lupa jika bocah ini punya pedang sakti yang hebat?" Keluhnya di dalam hati. Dewi Ular hentakkan kaki ke tanah, dari tanah melesat keluar satu ular panjang berwarna hijau. Begitu ular itu ditangkap oleh tangannya langsung berubah menjadi sebuah tongkat berbentuk ular. Dengan tongkat itu dia akan menghadapi Lintang.
Suara beradunya senjata pun terdengar riuh.
Pangeran Esa Kanagara menatap tak berkedip pada Yudhayaksa, dia tahu lelaki baju biru ini tak dapat dianggap remeh, dia bukan tandingan para murid padepokan Kembang Dewa.
"Kalian mundurlah! Bantu Nyai guru menghadapi para prajurit ular, biarkan lelaki ini menjadi bagianku!"
"Baik," sahut Prayetno, bersama Wiladi dan lainnya mereka pun menyerbu para prajurit ular yang mengeroyok Anggun dan Nyai Jinggan.
Yudhayaksa bersiul salut pada Esa Kanagara, "Hebat juga! Ku kagumi keberanianmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
Fantasy"Hridaya pravahita anugraha" Cinta adalah anugerah yang mengalir dari hati. Lintang Arganata seorang murid cekatan dari padepokan Linggabuana mendapatkan tugas memberikan undangan adu tanding Kanuragan ke Padepokan Kembang Dewa. Di sana Lintang Arg...
