"Huaaaaaa!" Teriakan Dhanu itu seolah merobek langit, menggema dahsyat ke segala penjuru.
Para pendekar yang sedang bertarung, termasuk Dewi Ular langsung menutup liang telinga. Ketika semua orang menatap ke ketinggian udara, tampak Indradhanu telah tegak menggantung di udara dengan kedua merentang. Di bawah sepasang kakinya ada awan merah yang terbuat dari kelopak-kelopak mawar. Sekujur tubuh Dhanu tampak berwarna merah dan melelahkan cairan darah. Tiap cairan merah itu mengenai tanah maka akan muncul tanaman mawar merambat dengan duri-duri runcing.
"Paman Dhanu! Kau melukaiku, Paman! Kau tidak lagi peduli dan sayang padaku, aku akan membunuh semua orang yang menjadi sahabatmu agar kau tak lagi memiliki orang-orang terdekat. Aku akan menjadi satu-satunya orang yang akan kau pedulikan." Selesai berucap Dhanu membuka mulut lebar-lebar.
Seluruh pendekar berseru kaget, terasa ada kekuatan yang menyedot mereka. Hanya ada dua orang yang tak kena pengaruh kekuatan menyedot itu, yaitu Wisnu Dhanapala dan Dewi Ular. Tak heran, karena dua orang itu adalah orang tua kandungnya yang tak dapat disakiti oleh ajian yang bersumber dari Bunga Pahit Lidah.
"Celaka!" Seru Raja Peri.
"Apa yang terjadi?" Tanya Kandito dengan kalut. Tubuhnya juga telah terangkat.
Pun demikian dengan pasukan peri dan siluman di kedua kubu.
Setelah seluruh tubuh para pendekar terangkat ke udara. Tiba-tiba Dhanu berteriak.
"Aku mengutuk kalian semua menjadi mayat, namun sebelum mati kekuatan kalian harus masuk ke dalam tubuhku!"
"Blarrr!" Langit mendadak mendung, petir menyambar kemerahan.
Terdengar teriakan kesakitan.
Dari tubuh para siluman dan peri ada puluhan bahkan ratusan cahaya aneka warna yang keluar dan masuk satu persatu ke mulut Dhanu. Itulah kekuatan dan kesaktian milik para siluman dan peri. Begitu sinar-sinar itu ditelan, maka sosok peri dan siluman yang kekuatannya tersedot langsung merosot jatuh ke tanah dalam keadaan mati.
Raja Peri pucat pasi, seluruh pasukan peri miliknya benar-benar telah tewas. Dia pun meraung menahan gejolak kesedihan. Kini hanya tersisa dirinya, sang putra juga Peri Kasih sebagai keturunan bangsa Peri Megapura.
Kutukan itu ternyata tidak mempan terhadap para pendekar golongan putih karena di telinga mereka telah menempel bunga mawar. Dhanu yang tak tahu akan hal itu pun heran. Dengan kesal dia jentikkan jari, sosok para pendekar yang melayang di udara jatuh bergedebuk di tanah.
Bammmm! Terdengar suara hentakan dahsyat, bumi goncang sesaat ketika Dhanu mendarat ke tanah. Pertanda kekuatannya sudah teramat hebat karena menyedot tenaga dalam dari beratus peri dan siluman.
Dewi Ular lekas menghampirinya.
"Kau hebat anakku! Ibu bangga padamu!" Dewi Ular memeluk dan mengelus-elus bahunya. Tiga ekor ular yang masih menempel di tubuh perempuan itu tampak bergerak-gerak mengerikan.
Hanya Wisnu yang masih tegak dengan tatapan kosong penuh kecewa. Dia menatap Indradhanu dengan perasaan campur aduk, sedih, kecewa, kangen, dan juga cinta. Dia tak menyangka anak kandungnya bisa sejahat itu, membunuh makhluk-makhluk tak bernyawa sebegitu mudahnya. Air mata pria bermata hijau ini pun jatuh berguguran. Dan itu berhasil menarik perhatian Dhanu. Mendadak hati Dhanu bergetar, ada kesedihan dan pilu yang menyergap batinnya saat melihat air mata bercucuran sang ayah.
"Paman, kau menangis?" Tanya Dhanu.
"Paman kecewa padamu, kau jahat, Dhanu. Jahat sekali! Aku tak sudi punya anak sejahat iblis sepertimu! Kau bukan manusia, tetapi kau setan! Bahkan rajanya setan!" Murka Wisnu dengan tubuh menggigil karena amarah.
Dhanu tersentak, dia melihat amarah Wisnu itu. Hatinya mendadak gentar, dirinya merasa begitu kecil di hadapan amarah Wisnu itu. Persis seperti apa yang dirasakan seorang bocah kecil yang dimarahi seorang ayah karena nakal.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
Fantasy"Hridaya pravahita anugraha" Cinta adalah anugerah yang mengalir dari hati. Lintang Arganata seorang murid cekatan dari padepokan Linggabuana mendapatkan tugas memberikan undangan adu tanding Kanuragan ke Padepokan Kembang Dewa. Di sana Lintang Arg...
