Sosok dengan kulit dipenuh duri mawar itu tergeletak dengan pusar ditancapi mawar merah. Anehnya semakin lama menancap mawar merah itu warnanya semakin memudar pucat bahkan mendekati putih. Pertanda kekuatan jahat di tubuh Dhanu sedang dikuras habis oleh bunga itu. Tak hanya kekuatan yang akan lebur, tetapi juga nyawa.
Wisnu meraung menyaksikan keadaan sang anak. Naluri seorang ayah yang akan kehilangan anak membuatnya berbuat nekat. Wisnu pun menghambur, dia memeluk tubuh Dhanu dengan erat. Dia tak peduli bahwa duri-duri di tubuh Dhanu mulai menembus kulitnya hingga berdarah.
"A..yah.." ucap Dhanu lemah.
Serrr!
Berdesir darah Wisnu mendengar panggilan itu. Untuk pertama kali di seumur hidupnya ada seseorang memanggil ayah padanya.
"Iya, Dhanu. Aku ayahmu!" Ucap Wisnu terbata-bata.
"Jangan peluk aku! Tubuhku berduri, nanti kau terluka."
"Ayah tidak peduli! Sekalipun ayah mati, ayah juga tidak peduli! Ayah hanya punya kau sekarang. Jika kau mati ayah juga akan mati!" Ucap Wisnu dengan putus asa. Kata-kata itu memang benar. Wisnu telah kehilangan orang tuanya sejak dulu. Lalu baru saja kehilangan Kelana sang suami, dan kini, apakah dia harus kehilangan Dhanu juga.
Dalam hati Wisnu merinding teringat masa lalu. "Dulu aku membunuh ayah kandungku sendiri (Dewa Iblis), sekarang aku membunuh anakku sendiri. Dewata Agung, dosa apa aku hingga memiliki takdir seburuk ini?" Racau Wisnu dengan hati kacau. Dia semakin erat memeluk hingga duri-duri Dhanu semakin dalam menancap. Darah semakin bercucuran, tak hanya dari perut dan dada, tetapi juga dari bibir dan wajah.
Tiiikkk! Tesssss!
Secara tak sengaja, air matanya jatuh di pipi dan bercampur dengan gan darah di wajah itu. Dua cairan yang menyatu itu jatuh dan masuk ke mulut Dhanu yang sedang sekarat di pelukannya. Langsung tertelan.
Terjadilah keajaiban. Tubuh keduanya memancarkan sinar hijau yang begitu terang. Satu persatu duri-duri di tubuh Dhanu rontok berguguran. Tak hanya sebatas itu, luka demi luka di tubuh Dhanu bahkan Wisnu juga mengecil dan menutup bahkan hilang tanpa bekas sedikitpun. Darah berhenti menetes, bahkan bekas bercak-bercaknya juga sirna.
Wisnu terperanjat saat melihat paras Dhanu di dalam pelukannya berubah normal kembali layaknya manusia. Bersih dan tampan. Yang menakjubkan ialah, ternyata sepasang mata Dhanu sama seperti sepasang mata miliknya. Berwarna hijau laksana zamrud dikelilingi salju. Indah.
"Anakku! Apa yang terjadi?" Seru Wisnu kaget.
Dhanu sendiri kebingungan, rasa sakit sekarat tak lagi ada. Apakah dia sembuh? Dhanu perhatikan sekujur tubuhnya, duri-duri jahanam tak lagi menempel.
"Ayah, aku sembuh!" Ucapnya kaget.
Karuan saja Wisnu langsung menghambur memeluk tubuh anaknya. Menciumi wajah Dhanu sebanyak mungkin. Tak peduli ciuman itu mendarat di mana. Di kening, di hidung, di pipi, bahkan di bibir. Wisnu bahagia sekali. Untuk sejenak duka nestapa karena kehilangan Kelana terlupakan.
"Ayah, nanti dulu! Kita harus membantu mereka." Ucap Dhanu sambil menunjuk pada pertempuran Dewi Ular yang dikeroyok Raja Peri dan lainnya.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Wisnu Dhanapala.
Sepasang mata Dhanu tertuju pada Mawar Putih yang tadi menancap di pusarnya, mawar yang awalnya berwarna merah itu kini menyimpan kekuatan dahsyat.
"Tolong ambilkan mawar itu, ayah!" Pinta Dhanu.
Wisnu menurut. Dhanu menerima mawar putih dari tangan Wisnu Dhanapala. Tampak Dhanu menatap Dewi Ular sambil mengukur kekuatan. Lalu laksana anak panah, mawar putih itu dilemparkan ke arah Dewi Ular.
****
Saat itu Dewi Ular telah berhasil mendesak lawan-lawannya. Giri menjelepok dengan bersandar di sebuah pohon, tampak di dada kanannya luka besar kena terabas Pedang Semesta Batin yang digunakan Dewi Ular. Raja Peri dan Pangeran Chandra berhasil dilumpuhkan dengan belitan-belitan ular. Untung saja keduanya cepat tanggap melindungi diri dengan ajian yang sanggup membuat mereka kebal dari racun ular.
Lintang Arganata dibuat ambruk tak bisa bergerak, kaki kirinya patah sedangkan beberapa tulang iganya retak. Ada pun Gilang terbujur di atas tanah dengan tubuh dililit akar-akar merambat. Dewi Ular menaklukkan lelaki itu dengan kekuatan Dhanu yang tadi disedotnya.
Dewi Ular juga berhasil menaklukkan Pangeran Esa Kanagara dengan satu totokan dahsyat yang membuat tubuh pangeran itu kaku tak dapat bergerak. Lalu dengan mudah dia merebut Pedang Intan Gerbang Semesta. Senjata itu dia timang-timang dan dilaga-lagakan dengan Pedang Semesta Batin.
"Aku merebut pedangmu, Pangeran! Akan ku hancurkan senjata pembawa sial ini! Setelah ini aku akan mencicipi kejantananmu. Dari dulu aku penasaran dengan kegegahan tubuhmu, bahkan juga tubuh ayahmu, si Arya Dygta." Dewi Ular cekikikan. Dia ingat keterangan Dhanu saat masih menjadi siluman jahat. Pedang ini akan hancur jika bersentuhan dengan kelamin perempuan yang sudah banyak ditiduri oleh lelaki.
Dewi Ular arahkan pedang itu ke liang senggamanya. Namun sebelum hal itu terjadi dari arah belakang tiba-tiba menyambar satu kekuatan hebat. Dewi Ular bukan tak sadar akan serangan itu. Namun saat dia ingin melompat mengelak, paras perempuan ini memucat. Kakinya kaku tak dapat bergerak. Ketika dia melirik ke arah kaki tampak tanaman merambat telah membelit sampai ke paha.
"Jahanam ini pasti perbuatan, Wisnu!"
Dia ingin melihat ke arah Wisnu dan Dhanu namun belum sempat itu terjadi, craassss! Mawar Putih yang tadi dilempar oleh Dhanu menancap telak di punggungnya.
Dewi Ular ambruk, punggungnya laksana ditikam oleh seribu pedang. Sakitnya luar biasa. Dia bergulingan di tanah dengan keluarkan suara mendesis. Menggeliat-geliat dan melejang-lejang.
Wujudnya berubah-ubah, kadang manusia kadang seekor ular hijau.
Saat itu pula Dhanu dan Wisnu dengan saling memapah tiba di dekatnya.
"Dhanu, tolong ibu!" Raung Dewi Ular.
Namun kejut perempuan ini bukan olah-olah saat Dhanu membantah.
"Dewi Ular, aku bukan anakmu lagi! Mawar Putih Pamungkas akan mengakhiri segala kejahatanmu."
"Tidak, kau tetap anakku!" Bantah Dewi Ular dengan terus menggeliat-geliat dirajam oleh rasa sakit.
"Perempuan terkutuk! Tamat sudah riwayatmu!" Melihat Dewi Ular dalam keadaan sekarat, maka para pendekar lainnya seolah mendapatkan kekuatan tambahan turun menyerbu.
Priyandhana merenggut Pedang Naga Merah yang teronggok di samping Gilang. Pedang itu langsung di tusukkan ke pinggul. Lintang juga lemparkan Pedang Malaikat Biru. Pedang itu menancap tepat di jantung. Wisnu sendiri dengan payung hijau menghantam kepala Dewi Ular.
Dhanu tak ketinggalan, dia merenggut Pedang Semesta Batin dan Pedang Intan Gerbang Semesta dari tangan Dewi Ular. Dua pedang itu diterabaskan berlawanan laksana gunting. Crassssss.
Kepala Dewi Ular menggelinding putus. Dada dan perutnya jebol. Nyawanya putus detik itu juga.
Gilang yang terbebas dari jeratan akar setelah Dewi Ular lekas pula menyerbu. Dia langsung hantamkan pedang Naga Biru ke pinggang tubuh yang sudah buntung kepala itu.
Perut Dewi Ular terbelah bahkan turut putus. Kini badan dan pinggang telah lepas. Tamat sudah nyawa Dewi Ular. Perempuan luar biasa jahat itu binasa dalam wujud tak karuan rupa.
Bahkan saking marahnya, Gilang belum puas. "Kau harus tebus nyawa Prana dengan kematian tanpa wujud!"
Gilang hantamkan dua pukulan sakti, tangan kanan mengeluarkan sinar api, sedangkan tangan kiri mengeluarkan semburan kabut es. Dua kekuatan itu melabrak bangkai Dewi Ular. Bangkai itu langsung lebur menjadi debu. Berhamburan di udara tanpa meninggalkan jejak sama sekali karena tersapu terbawa angin.
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
خيال"Hridaya pravahita anugraha" Cinta adalah anugerah yang mengalir dari hati. Lintang Arganata seorang murid cekatan dari padepokan Linggabuana mendapatkan tugas memberikan undangan adu tanding Kanuragan ke Padepokan Kembang Dewa. Di sana Lintang Arg...
