Di Lembah Air Mata, para pendekar terlibat pertarungan besar. Namun, ternyata tak hanya di tempat itu terjadi pertempuran. Karena ternyata Dewi Ular telah menyebarkan anak buahnya untuk menyerbu pula ke beberapa kerajaan di sekitar, terutama ke Rahuning, Panca Arga, Talawi dan Nusa Mutiara.
Di empat kerajaan itu juga terjadi pertempuran dahsyat yang sepertinya tidak berimbang. Hal itu disebabkan karena sebagian besar para prajurit yang memiliki tenaga dalam rendah sudah jatuh tertidur saat terpapar kelopak-kelopak mawar merah yang menghiasi udara.
Di Rahuning, Prabu Arya Dygta dan Danum Suarga dengan dibantu para petinggi dan ksatria istana bertempur mati-matian melawan gerombolan siluman ular, siluman kera dan juga siluman buaya.
Di Talawi, Prabu Kumbaraka dengan sang Permaisuri Ingga, juga turut bergabung dengan para ksatria pilih tanding buat menghalau para pengacau.
Begitu juga di Panca Arga dan Nusa Mutiara, para Raja turun langsung memimpin pasukan.
Namun ketimpangan kekuatan memang terasa jomplang. Apalagi di sekitar tempat pertempuran bermunculan pohon-pohon mawar merah raksasa yang bunganya tak henti-hentinya menyemburkan serbuk sari berwarna kuning yang ternyata memiliki daya ampuh menyembuhkan lawan.
"Kakang, siluman-siluman ini kuat sekali! Sudah berulang kali pedang ku berhasil menebas tubuh mereka, namun bukannya mati, malah luka mereka sembuh tanpa bekas." Keluh Danum Suarga.
"Jangan menyerah, Danum! Dewa di Swargaloka pasti melindungi kita." Arya Dygta menyemangati Danum.
Sepasang kekasih itu pun menerobos musuh dengan gagah berani. Walau lama kelamaan tenaga mereka mulai terkuras. Para prajurit yang mampu bertahan dari jurus penidur mulai jatuh berguguran. Mereka tak kuasa menahan gempuran musuh.
Begitu pula yang terjadi dengan kerajaan lain, mereka jatuh berguguran sedangkan pihak lawan justru tidak terluka bahkan malah semakin kuat.
Saat semua negeri mulai putus asa, maka pertolongan Dewata pun datang.
Dari dalam tanah muncul keluar makhluk-makhluk aneh dengan rupa manusia berpakaian serba coklat kemerahan.
"Jangan khawatir! Kami pasukan Peri Bumi, penghuni kehidupan bawah tanah. Kami diutus Dewata buat membantu kalian!" Seru seorang Peri Bumi dengan pakaian paling agung, dia lah Raja Bhumi.
Berkat bantuan Peri Bumi, maka pertempuran pun mulai berimbang.
*******
Kita kembali ke Lembah Air Mata, yang menjadi lokasi pertempuran utama. Dewi Ular tampak murka saat pasukan peri yang mereka perdayai malah tumbang saat menghadapi pasukan siluman baik bersenjatakan pedang Intan.
"Apa yang terjadi? Kenapa pasukan peri itu bisa dikalahkan dengan mudah?" Cemas perempuan itu.
"Itu Pedang Intan Gerbang Semesta! Pedang itu memang sakti, selama pedang itu di tangan lawan, maka para prajurit peri kita akan kalah dengan mudah!" Jawab Dhanu dingin.
"Apa yang harus kita lakukan anakku?" Dewi Ular benar-benar tak percaya bahwa pasukannya tak berdaya dibuat pasukan musuh.
"Cari Pedang Intan Gerbang Semesta yang asli! Hancurkan benda itu!" Ucap Dhanu.
Dewi Ular ingin menjawab namun dia malah menjerit saat melihat dari satu jurusan menyambar tujuh buah petir berwarna biru.
"Tujuh petir milik Lintang! Dhanu, menyingkir!" Teriak Dewi Ular karena diserbu serangan petir.
"Menyingkir? Tidak ada kata menyingkir dalam hidupku, ibu!" Selesai berucap Dhanu meniup ke arah datangnya tujuh halilintar biru.
Satu semburan asap merah disertai hamburan kelopak mawar menghadang tujuh halilintar. Ledakan dahsyat terjadi saat dua jurus sakti saling bentrok, gompalan api raksasa berkobar-kobar.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
Fantasy"Hridaya pravahita anugraha" Cinta adalah anugerah yang mengalir dari hati. Lintang Arganata seorang murid cekatan dari padepokan Linggabuana mendapatkan tugas memberikan undangan adu tanding Kanuragan ke Padepokan Kembang Dewa. Di sana Lintang Arg...
