Wisnu Dhanapala melihat Dhanu yang menyerang pada Byakta dan Dewi Ular tak tinggal diam, dia pun melayang dengan ilmu meringankan tubuh dengan bergantungan pada sebuah payung hijau, di sekelilingnya sepuluh payung lainnya mengikuti.
"Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Anggun.
"Jika kita mengikuti menyerang maka kita akan kesulitan, tempat ini telah dipenuhi oleh tanaman mawar berduri!" Ucap Wiladi.
Lintang yang belum kesampaian buat membalas dendam pada Dewi Ular tak mau berdiam diri saja.
"Maaf, aku akan turut menyerbu!" Lintang alirkan ajian petir ke kedua kaki, di telapak kakinya muncul pijaran halilintar, sosoknya menjadi ringan dan turut pula melesat menyusul Dhanu dan Wisnu Dhanapala.
Giri Prawara juga telah terbang dengan sayap elang, disusul oleh Iblis Kabut yang melayang dengan berpijakan pada awan hitam.
Pangeran Esa Kanagara lekas kerahkan ajian Sukma Alam, dengan ilmu itu dia bisa menyerap kekuatan alam dan membentuknya menjadi senjata tak terlihat, entah itu untuk bertahan maupun untuk menyerang. Esa Kanagara tempelkan kedua tangannya ke tanah, terdengar suara gemerisik, tanaman-tanaman mawar bergoyang-goyang lalu tersedot perlahan-lahan ke dalam tanah.
"Sekarang sudah aman! Kita bisa bergerak bebas tanpa takut terkena duri!" Ucap Pangeran Esa setelah seluruh tanaman mawar berhasil disedot masuk ke dalam tanah.
Maka semua pun turut menyerbu.
Dewi Ular tampak gelisah, dengan kalap dia kerahkan ajian Ular Emas Penembus Tulang sepuluh ekor sekaligus. Ular-ular emas itu laksana anak panah melesat ke sana kemari mencari mangsa.
Dua murid padepokan Kembang Dewa kembali jatuh gugur karena ditembus ular sakti itu. Dhanu pun kembali murka melihat kematian dua sahabatnya. Dia sentilkan berkali-kali jarinya ke arah ular-ular yang melesat, tiap sentilan akan mengeluarkan mawar merah dengan tangkai runcing. Setiap mawar selalu tepat mengenai sasaran hingga satu persatu ular emas jatuh tertembus tangkai yang tajam.
"Edan! Ular paling tangguh milikku bisa dikalahkan semudah itu?" Geram Dewi Ular.
Dia siap pasang jurus Sorot Iblis Mata Ke Tiga. Namun belum sempat mata ketiga muncul di kening, selusin mawar merah berujung runcing mengarah hampir ke seluruh tubuhnya.
"Jahanam!" Maki Dewi Ular, cepat dia putar tongkat guna menangkis. Berhasil menangkis, Dewi Ular kembali menghadapi bahaya, lima buah payung hijau telah mengurungnya dan bersiap menyerbu dari arah depan, belakang dan samping. Dewi Ular lekas melompat ke atas, namun dua buah selendang warna merah muda dan jingga menghantam ke dua bahunya. Dewi Ular jatuh terjengkang. Kemudian datang pula satu pedang berwarna biru ingin menembus dahinya. Dewi Ular terpaksa bergulingan guna menghindari tusukan pedang Malaikat Biru.
Tampak Dhanu, Wisnu Dhanapala, Anggun, Lintang dan Nyai Jinggan telah mengurung rapat sosoknya dengan menggenggam senjata andalan masing-masing.
Dewi Ular lekas bangkit sambil meludah.
"Bersiaplah Dewi Ular! Riwayatmu akan tamat sekarang!" Ucap Nyai Jinggan.
Dewi Ular tertawa, "Jangan kelewat sombong, nenek peot! Aku belum kalah. Benarkan anakku?" Dewi Ular melirik pada Dhanu. Kemudian dia melirik pada Byakta yang telah dikeroyok habis-habisan oleh banyak pendekar.
"Bedebah!" Maki Dhanu, dia tak sudi dipanggil anak oleh Dewi Ular.
Dewi Ular mundur beberapa tindak guna menciptakan jarak agar bisa menghimpun jurus selanjutnya. Di keningnya muncul sebuah mata berwarna merah angker.
"Hati-hati! Itu jurus Sorot Iblis Mata Ketiga! Jika ditubuh kalian muncul titik-titik merah maka sekali mata di kening Dewi Ular berkedip maka tubuh kalian akan meledak." Ucap Wisnu Dhanapala.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
Fantasy"Hridaya pravahita anugraha" Cinta adalah anugerah yang mengalir dari hati. Lintang Arganata seorang murid cekatan dari padepokan Linggabuana mendapatkan tugas memberikan undangan adu tanding Kanuragan ke Padepokan Kembang Dewa. Di sana Lintang Arg...
