Tanah masih mengepulkan asap tipis karena baru saja padam dari kebakaran. Dua lelaki muda usia tegak saling berhadapan. Terpisah beberapa belas langkah. Anggun dan Ringgita memandang kedua lelaki itu dari kejauhan.
Priyandhana dan Dharmaji saling memandang tajam. Mulai dari ujung rambut ke ujung kaki. Keduanya seolah-olah mengukur kemampuan lawan masing-masing sekaligus mencari titik lemah.
Dharmaji sunggingkan senyum. "Aku ingat pada sayembara adu silat lalu. Kau kalah dengan mudah di babak delapan besar oleh murid Dewi Ular. Bahkan orang tuamu sampai merengek-rengek hampir menangisi kematianmu." Dharmaji keluarkan ucapan untuk menjatuhkan mental Priyandhana.
Wajah Priyandhana langsung menegang dan memerah.
"Jangan dengarkan ocehannya, Priyan! Dia hanya ingin mengacaukan pikiranmu." Imbau Ringgita dari kejauhan.
Dharmaji melirik pada Ringgita dan Anggun, dua gadis itu tampak masih kelelahan karena pertarungan melawan Putri Cempaka yang baru usai.
Dharmaji arahkan telapak tangan kanan pada Ringgita. Dari pertengahan telapak tangan itu menyambar sebuah lidah api.
Ringgita terpekik, Anggun memucat , keduanya masih lemah dan tak kuasa buat menyalurkan tenaga dalam. Sesaat lagi lidah api akan mengenai mereka, satu bayangan merah memotong. Dengan terabasan pedang dia berhasil meredam dan membengkokkan arah lidah api. Lidah api itu melilit di sebuah pohon besar yang separuh hangus. Pohon itu kembali terbakar dan langsung tumbang menjadi potongan bara.
Dharmaji tertawa terbahak-bahak melihat Priyandhana menyelamatkan Ringgita barusan.
"Hahaha, agaknya kalian benar-benar berjodoh. Sayang, pernikahan kalian kelak hanya akan dirayakan oleh setan neraka."
Wusss, tubuh Dharmaji telah diselimuti pijaran api. Murid Empu Bhumantara sekaligus adik seperguruan Lintang ini memang menguasai jurus-jurus dan pukulan berintikan api. Saat ini dia tengah mengerahkan ajian Raga Geni.
Priyandhana tahu kehebatan ajian api milik Dharmaji. Dia pernah menyaksikannya, yakni saat Dharmaji melawan mendiang Gunadi di arena adu silat. Saat itu Gunadi berhasil menang karena memiliki ajian kebalikan dari ilmu api Dharmaji, yakni menguasai jurus-jurus air.
"Sial, aku tak punya tenaga dalam berintikan Air maupun hawa dingin. Agak sulit bagiku melawan ajian api orang ini." Keluh Priyandhana dalam hati, namun dia telah siap sedia menghunuskan sepasang pedang. Tangan kanan memegang pedangnya sendiri, sedangkan. Tangan kiri memegang tiruan Pedang Intan Gerbang Semesta.
"Kenapa berdiam diri? Ayo serang aku!" Tantang Dharmaji yang pongah dan percaya diri akan kehebatan zirah api yang membungkus tubuhnya.
Priyandhana masih berdiam diri, namun otaknya memutar akal mencari cara buat menang.
"Baik, jika kau tak mau menyerang, biar aku duluan." Dharmaji lemparkan dua pedangnya ke udara, dua pedang itu mendadak lenyap. Sebagai gantinya, Dharmaji meniup, dari mulutnya menjulur keluar sebuah tali api yang panjang. Kini di tangan kanannya tergenggam sebuah cambuk api. Cambuk itu menjadi senjata andalan menggantikan dua pedang yang disimpan lelaki itu di ruang ghaib.
Dharmaji langsung menyerbu, cambuk itu berputar di udara menebar hawa panas yang menyengat kulit. Cambuk api itu melesat ke arah Priyandhana, siap melilit pinggangnya.
Priyandhana melompat tinggi ke udara guna menghindar. Namun, laksana hidup, cambuk itu turut mengejar ke atas. Saat ujung cambuk ingin menyentuh tubuhnya, Priyandhana lekas babatkan pedang. Satu sinar ungu melesat melabrak cambuk.
Cambuk itu meliuk seperti seekor ular yang menggeliat-geliat. Namun hanya sebentar, sesaat kemudian kembali senjata itu memburu.
Priyandhana hanya bisa menghindar dengan cara melompat dan melayang di udara, sosoknya tak ubahnya seperti seekor burung yang menghindari jeratan bertubi-tubi.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
Fantasy"Hridaya pravahita anugraha" Cinta adalah anugerah yang mengalir dari hati. Lintang Arganata seorang murid cekatan dari padepokan Linggabuana mendapatkan tugas memberikan undangan adu tanding Kanuragan ke Padepokan Kembang Dewa. Di sana Lintang Arg...
