Kelopak 89 - Kembali Ke Para Pendekar

227 22 5
                                        

Ajian Lingkaran Suci Membawa Budi laksana pintu yang membawa setiap insan menuju ke tempat lain. Kali ini Wisnu Dhanapala yang merasakannya. Lingkaran cahaya itu membawanya menembus ruang dan waktu. Tahu-tahu saja kini dia jatuh terjerembab di tepi sebuah sungai yang di kelilingi oleh hutan.
Wisnu sadar ada seseorang yang menyelamatkannya.

"Uhukk!" Terdengar suara seseorang batuk. Wisnu mengedarkan mata menuju arah asal suara batuk itu. Ternyata di atas sebuah batu tak jauh darinya sedang duduk dengan sikap semedi Raja Peri. Pria itulah yang tadi terbatuk.

Wisnu terkejut melihat banyaknya darah yang menodai batu di mana Raja Peri duduk, darah itu kehitaman dan mengeluarkan asap tipis.

"Raja Peri, kau kenapa?" Bergegas Wisnu menghampiri dan memeriksa keadaan Raja Peri.

"Wisnu, aku tadi, demi melepaskan diri dari jeratan akar dan kabur rela mengorbankan kesucianku dengan ditiduri Dewi Ular. Aku menyedot kekuatan kekuatan perempuan itu untuk memulihkan tenaga. Namun, siapa sangka ternyata tenaga dalam perempuan ular itu terlalu hitam dan jahat, tubuhku jadi tercemar racun yang dikandungnya. Selain itu, aku...." Raja Peri hentikan ucapan karena saat itu mulutnya mengerang seolah menahan rasa sakit yang hebat. Kembali darah menyembur dari mulutnya.

"Raja Peri, aku akan menolongmu, akan ku kuras habis racun di tubuhmu!" Wisnu ambil posisi semedi di belakang Raja Peri, kedua tangan ditempelkan di punggung Raja Peri. Wisnu salurkan tenaga dalam.

Anehnya, Raja Peri malah rasakan tubuhnya semakin panas.
"Percuma Wisnu! Dewi Ular itu darahnya penuh racun birahi. Untuk menawarnya harus ada cairan inti birahi orang lain yang masuk ke dalam tubuhku. Tapi aku tak ingin berbuat dosa kembali, aku tak mungkin bersetubuh dengan..." Belum sempat Raja Peri menuntaskan ucapan, tubuhnya telah ambruk di pelukan Wisnu dengan nafas tersengal-sengal antara sadar dan tidak sadar. Otaknya dipenuhi oleh gairah birahi.

"Raja! Kau jangan mati dulu! Keberadaanmu sangat dibutuhkan." Wisnu jadi kalang kabut. Dia bersusah payah untuk mengeluarkan tenaga dalam Dewi Ular yang mencemari tubuh Raja Peri, namun gagal.

Wisnu jadi teringat ucapan Raja Peri, tenaga dalam Dewi Ular yang teramat jahat itu bisa dinetralkan dengan persetubuhan. Tidak ada orang lain di sini, hanya ada dia dan si sakit.

"Apa boleh buat, Kakang Kelana maafkan aku, semua ini ku lakukan karena terpaksa." Wisnu teringat pada sang suami.

Dengan kedua tangan gemetar Wisnu menarik turun celana Raja Peri. Matanya pun nanar karena silau oleh tubuh pria itu. Begitu bagus dan indah.

Wisnu pun jatuhkan diri di atas tubuh Raja Peri. Yang ditindih, karena sedang dilanda nafsu yang hebat lekas menyambut tubuh Wisnu dengan ganas. Sekejap saja Raja Peri sudah menciumi wajah Wisnu. Menjilati leher dan juga menyedot puting dada.

Wisnu merinding geli tatkala merasakan tangan Raja Peri menelusup ke kain merah yang menutupi area pinggang. Tangan kokoh itu berhasil menggenggam anggota terlarangnya. Meramas-ramas dengan lembut hingga menciptakan percikan nikmat yang menggelitik.

"Wisnu, maafkan aku! Biarkan ini menjadi rahasia di antara kita." Bisik Raja Peri sebelum mencopot kain merah pemberian Dhanu. Setelah kain itu lepas maka bisa dipastikan tubuh Wisnu telah polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi.

Tanpa ragu, Raja Peri langsung saja membenamkan wajahnya ke bagian bawah perut Wisnu. Mencium, menjilat dan menghisap. Wisnu tak kuasa buat melawan, selain karena mulai dikuasai kenikmatan yang tiada tara, persenggamaan ini juga yang menjadi satu-satunya cara menangkal racun yang memicu birahi.

Kini dua tubuh telanjang itu telah saling bertindihan dan berguling di atas tanah beralas daun kering, keduanya ingin menunjukkan siapa yang paling liar dalam bercinta. Pelukan tak terlepas, ciuman di wajah juga saling menghujani bergantian.

MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang