Kelopak 90 - Perang Pun Di Mulai

196 21 1
                                        

"Dhanu anakku?" Tanya Wisnu dengan suara bergetar.

"Benar Wisnu. Dhanu anakmu! Hasil hubungan terlarangmu dengan Dewi Ular. Kau ingat sewaktu kau menyerbu Padepokanku delapan belas tahun silam? Kau waktu itu masih dikuasai kekuatan Bayi Setan, saat kau sedang tertidur Dewi Ular diam-diam menidurimu. Dari hubungan itu dia hamil, anak yang dikandungnya adalah Indradhanu, anakmu!" Beber Kelana lagi.

Wisnu rasakan kakinya goyah, untung Prana lekas memegangi, kalau tidak dia pasti sudah jatuh.

"Tapi, bukankah Dewi Ular sudah tidur dengan banyak lelaki...?" Wisnu masih merasakan ruwet di kepalanya. Keterangan ini terlalu mengejutkannya.

"Dewi Ular tidak akan pernah bisa hamil, karena kesaktiannya mensyaratkan itu. Tetapi ternyata benihmu terlalu kuat." Ratu Kameswari turut meyakinkan.

"Jangan lupa Wisnu! Sewaktu Dhanu mengutukmu menjadi bunglon di tepi jurang hari itu, kutuk itu tidak mempan, bukan? Itu semua kutukan Dhanu tak akan mempan terhadap orang tua kandungnya." Tambah Ki Cipta Reksa pula.

Wisnu pun terhenyak diam, kini dia dapat menerima penjelasan itu, otaknya pun mencerna dengan cepat.
"Pantas saja di awal bertemu aku merasa dekat sekali dengan anak itu.  Aku juga ingin selalu melindunginya, selalu menghawatirkan keselamatannya, ternyata dia anakku!" Air mata pun merembes dari kedua pipi Wisnu.

"Dewi Ular! Kau telah membuat anakku menjadi sejahat ini, berani kau memanfaatkannya? Aku bersumpah akan mencincang lumat tubuhnya sampai menjadi bubur!" Murka Wisnu.

Dia pun lekas berpaling pada Raa Peri.
"Raja, tolong bawa aku kembali ke Lembah Kayu Wangi, aku harus merebut anakku kembali!"

"Sekarang sudah tak mungkin lagi, Wisnu! Anakmu sudah bergerak mengerahkan seluruh kekuatan dan juga pasukannya. Saat ini dia sedang dalam perjalanan menghancurkan dunia persilatan!" Ujar Raja Peri.

"Seberapa kuat pasukan yang dipimpin Dhanu?" Tanya Pangeran Esa Kanagara.

"Sangat kuat! Terdiri dari pasukan peri dan juga pasukan berbagai golongan siluman!" Jawab Raja Peri sambil mata terpejam, dia sedang mengerahkan aji kesaktian untuk merasakan pergerakan Dhanu. Saat itu pula hujan kelopak mawar yang gugur dari awan-awan merah di langit sampai ke tempat mereka, Lembah Air Mata.

"Aku akan kirim pesan pada ayahanda untuk mengirim pasukan bantuan!" Ucap Pangeran Esa, dia siap melakukan sambung rasa dengan sang ayah, Prabu Arya Dygta.

"Jangan gegabah, pangeran! Bukan aku merendahkan kemampuan prajurit kerajaan, namun mengerahkan mereka untuk melawan pasukan peri dan siluman itu sangat berbahaya. Sama saja mengantar nyawa, mereka akan jadi korban yang sia-sia." Ucap Raja Peri.

Giri Prawara lekas berpaling pada Elang Timur, anak buahnya.
"Apa prajurit elang di istana kita masih ada?"

"Masih, Yang Mulia. Mereka belum bubar!" Jawab Elang Timur.

Giri Prawara lekas salurkan tenaga dalam ke tangan kanan kemudian dipukulkan ke langit, satu sinar putih melesat ke angkasa, sampai di ketinggian sinar putih itu meledak dan membentuk gambar seekor elang putih membentangkan sayap.

Hanya selang beberapa detik tiba-tiba di langit bterdengar suara bergemuruh kepakan sayap dan juga kulikan elang, juga suara riuh burung-burung lain. Laksana gerombolan kabut burung-burung itu luruh dari langit turun ke bumi. Kini di seluruh pepohonan di sekitar lembah air mata telah bertengger burung-burung luar biasa banyaknya. Termasuk juga yang hinggap di atas atap rumah kayu milik Nenek Lembah Air Mata.

"Sahabat semua, burung-burung itu adalah jelmaan siluman bawahanku. Mereka akan menjadi prajurit kita." Ucap Giri dengan mantap. Sikapnya yang gagah mengundang rasa kagum semua orang. Lintang sendiri diam-diam merasa iri akan sikap ksatria Giri itu.

MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang