Ki Kamandaka, pria yang sebelumnya diduga sebagai ayah kandung dari Indradhanu sedang bercengkrama di dalam sebuah goa bersama Ratu Cangkangea, perempuan penguasa siluman serigala. Keduanya baru saja selesai memadu birahi.
"Kakang, dari kabar yang ku dapat dari anak buah serigalaku, beberapa waktu yang lalu para pendekar golongan putih mengadakan pertemuan di Lembah Air Mata." Ujar Ratu Cangkangea sambil memainkan pelir Ki Kamandaka yang sudah melemah dan tampak basah dengan jari-jari lentiknya.
"Ada apa mereka berkumpul di sana?" Tanya Ki Kamandaka sambil merem melek menikmati belaian Ratu Cangkangea di selangkangan.
"Sepertinya membahas masalah anakmu, sayangnya anak buahku tak bisa terlalu dekat hingga tak dapat mencuri dengar apa saja yang mereka bicarakan." Jelas Ratu Cangkangea.
"Anakku, maksudmu Indradhanu?"
"Ya."
"Hemm sejak menyepi dari dunia persilatan aku benar-benar buta dengan dunia luar. Apa saja yang kau ketahui, Cangka?" Tanya Ki Kamandaka.
"Dewi Ular dengan Bunga Pahit Lidah telah berhasil mendapatkan bahkan memperbudak anakmu."
"Apa?!"
"Kau pasti tidak tahu apa itu Bunga Pahit Lidah, baiklah akan aku ceritakan terlebih dahulu tentang bunga itu..." Ratu Cangkangea pun menceritakan asal-usul Bunga Pahit Lidah beserta keampuhannya pada Ki Kamandaka.
Ki Kamandaka yang mendengar itu semua merasa takjub sekaligus ngeri.
"Jika anakku telah dikutuk lewat perantara Bunga itu, apakah akan membahayakan dirinya?"
Ratu Cangkangea cepat menggeleng, "Tidak, malah anakmu akan memiliki satu kesaktian yang paling mengerikan."
"Apa itu?"
"Tiap kutuknya terhadap manusia akan menjadi kenyataan. Misal dia bisa mengutuk salah satu dari kita menjadi binatang atau apapun itu, maka hal itu benar-benar akan terjadi."
"Luar biasa!" Ki Kamandaka menyahuti, lalu tampak seperti berpikir keras.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aku hanya berpikir, Dewi Ular pasti akan memanfaatkan anakku untuk melakukan banyak kejahatan, aku tak mau itu terjadi."
"Ku dengar, kutuk anakmu akan lebur jika dia meminum darah dan air mata orang tua kandungnya yang berbangsa manusia." Ujar Ratu Cangkangea.
"Berarti itu adalah aku, hemmm aku tiba-tiba punya rencana." Ki Kamandaka menyeringai licik.
"Apa rencanamu?"
"Aku akan kembali pada Dewi Ular. Lalu setelah dia menerima kita, aku akan cari cara buat memberi Dhanu darah dan air mataku, begitu dia lepas dari kuasa Dewi Ular. Maka aku akan ambil alih anak itu untuk menjadi pengikutku. Walau ilmu penyesatku tak sekuat Dewi Ular, tapi aku rasa cukup ampuh buat mencuci otak Dhanu."
Ratu Cangkangea tertawa cekikikan, "Kau pintar juga! Aku akan ikut rencanamu."
"Kau tahu di mana Dewi Ular sekarang berada?"
"Hutan Kayu Wangi." Jawab Ratu Cangkangea.
"Baiklah, besok pagi kita ke sana." Ajak Ki Kamandaka.
****
Dengan menunggang dua ekor serigala raksasa, Ki Kamandaka dan Ratu Cangkangea tiba di tepi jurang Hutan Kayu Wangi. Keduanya yang masih duduk di punggung serigala tunggangan masing-masing menatap ke seberang jurang.
"Itulah Hutan Kayu Wangi!" Seru Ratu Cangkangea.
Ki Kamandaka menatap ke seberang jurang, lelaki paruh baya itu menghirup nafas dalam-dalam.
"Pantas saja dinamakan Kayu Wangi, aku memang mencium bau harum yang menyegarkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
Fantasy"Hridaya pravahita anugraha" Cinta adalah anugerah yang mengalir dari hati. Lintang Arganata seorang murid cekatan dari padepokan Linggabuana mendapatkan tugas memberikan undangan adu tanding Kanuragan ke Padepokan Kembang Dewa. Di sana Lintang Arg...
