"Paman, bersabarlah! Aku akan menyembuhkanmu!" Seru Indradhanu dengan penuh kekhawatiran, dia membawa sosok Wisnu Dhanapala turun ke dasar jurang, ternyata di dasar jurang terdapat aliran sungai yang dihiasi bebatuan. Di atas sebuah batu besar yang landai dia membaringkan Wisnu Dhanapala yang tengah tak sadarkan diri dengan hidung, mulut, bahkan telinga yang mengeluarkan darah. Semua karena secara tak sengaja Dhanu melepaskan pukulan sakti buat menghabisi Raja Peri, namun Wisnu Dhanapala malah datang menghalangi. Jadilah pukulan sakti itu menghantam Wisnu Dhanapala.
"Paman, jangan mati! Jika kau mati, maka aku juga tak ingin hidup lagi!" Ujar Dhanu.
Pemuda yang sedang dikuasai kekuatan jahat akibat kutukan Bunga Pahit Lidah ini lekas memeriksa dada Wisnu, di sana ada tampak satu tanda memar kemerahan berbentuk mawar. Tanda itu tepat berada di atas jantung.
"Celaka! Jurus Mawar Penguras Darah telah mencapai jantung, aku harus cepat!"
Indradhanu lekas bangkit berdiri, kedua tangan membuat gerakan pembuka segel jurus, lalu jari telunjuk di tudingkan ke kening, telapak tangan dan juga kedua lutut Wisnu Dhanapala. Tubuh Wisnu Dhanapala tersentak sebentar. Ketika Indradhanu melakukan gerakan pembuka jurus tambahan, terdengar suara kain terkoyak, pakaian yang dikenakan oleh Wisnu Dhanapala cerai berai tersobek-sobek dan berhamburan ke segala arah, tubuh lelaki bermata hijau itu telah bugil.
Dhanu rasakan kedua kakinya goyah, dia melihat di paha Wisnu juga mulai muncul tanda mawar merah itu. Pertanda luka dalam Wisnu mulai menyebar pula ke wilayah kaki, jika terlambat lelaki itu bisa lumpuh tak dapat berjalan.
"Tidak! Apapun yang terjadi aku harus menyembuhkan pamanku!" Raung Dhanu, lekas-lekas dia tudingkan jarinya ke arah jantung, dari ujung jarinya melesat keluar sekuntum mawar merah, mawar itu jatuh melayang dan hingga tepat di atas dada kiri Wisnu Dhanapala di mana di bawah susunan tulang dada itu ada jantung yang bersemayam. Mawar itu berputar-putar seirama dengan aliran tenaga dalam yang sedang disalurkan oleh Dhanu.
Keringat memercik di dahi pemuda itu, bahkan lama kelamaan karena mengerahkan tenaga dalam secara berlebihan keringat itu telah bercampur dengan darah yang begitu jatuh menyentuh tanah langsung menumbuhkan tanaman mawar merah.
"Sembuh! Sembuh!" Ucap Dhanu penuh harap, sepasang matanya langsung berbinar-binar saat mawar yang menempel di dada kiri Wisnu warnanya berubah semakin gelap, dari merah cerah menjadi merah kecoklatan, lalu merah kehitaman dan akhirnya benar-benar menjadi mawar hitam.
Setelah hitamnya mencapai puncak kepekatan, mawar itu langsung mental ke atas dan langsung pecah menjadi debu berwarna kehitaman.
Dhanu hembuskan nafas lega, racun dan luka dalam Wisnu telah sembuh, hal itu ditandai dengan lenyapnya tanda mawar merah di tubuhnya.
Dhanu dengan sigap menciduk air segar dengan kedua telapak tangan lalu di usapkan ke wajah Wisnu.
Sepasang mata yang terpejam akhirnya terbuka, warnanya indah kehijauan.
"Dhanu..." Ucap Wisnu pelan.
"Paman! Syukurlah, paman sembuh, aku sudah takut kalau paman akan mati, jurus yang kulancarkan tadi itu sangat berbahaya." Dhanu langsung menubruk dan memeluk tubuh Wisnu.
Wisnu tersenyum getir, "Lebih baik paman mati daripada harus menyaksikan kau menjadi orang jahat."
"Tidak! Paman tidak boleh mati!" Raung Dhanu, dia mempererat pelukannya.
"Kalau begitu, kau harus dengarkan ucapan paman. Tinggalkan Dewi Ular!"
Dhanu tercekat, dia lepaskan pelukannya, dia menatap sepasang mata Wisnu dengan lekat. Ada rasa damai dan tentram saat melihat sepasang mata kehijauan itu.
Dhanu suka melihat mata itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
Fantasy"Hridaya pravahita anugraha" Cinta adalah anugerah yang mengalir dari hati. Lintang Arganata seorang murid cekatan dari padepokan Linggabuana mendapatkan tugas memberikan undangan adu tanding Kanuragan ke Padepokan Kembang Dewa. Di sana Lintang Arg...
