Kelopak 97 - Maut

174 16 0
                                        

Dua tubuh yang sedang bersatu badan itu terkulai lemas. Baru saja keduanya  mencapai puncak kenikmatan. Lelah sudah pasti, itu dibuktikan dengan banyaknya peluh di sekujur badan.

Giri hembuskan nafas lega, nafsu birahi yang tadi meracuni aliran darahnya telah berhasil redam dan punah. Dia melirik tubuh pria yang tadi dicumbui. Terbaring tengkurap, begitu indah dengan pahatan gagah, sosok itu adalah Hanggara. Giri tersenyum melihat tubuh itu. Kini dia sadar bahwa pria yang tadi dicumbunya begitu sempurna. Giri memainkan jarinya menuruni tulang belakang lelaki itu.

"Terima kasih, Hanggara. Jujur, sekarang baru kusadari bahwa dirimu begitu indah." Puji Giri.

Namun tak ada suara jawaban. Jangan sebaris kalimat, suara nafas yang memburu khas orang yang sedang mencapai surgawi dunia saja tak terdengar.

"Hangga! Kau kenapa?" Tanya Giri saat melihat Hanggara tak bicara sepatah katapun, tubuh itu masih tengkurap.

Saat itu tiba-tiba Giri teringat akan sesuatu, yakni kutukan bawaannya yang sangat mengerikan. Kini jantungnya tiba-tiba disergap seribu kekhawatiran.

"Hanggara!" Teriaknya. Dengan lekas dia membalikkan tubuh tengkurap itu. Tampak sepasang mata Hanggara telah terpejam dengan wajah pucat. Ada darah yang meleleh di sudut bibir. Lalu perlahan-lahan hangat ditubuh itu menurun, menjadi dingin.

"Hanggara, bangun! Kau jangan menakutiku!" Giri dengan cemas menepuk-nepuk pipi Hanggara. Dia benar-benar dilanda rasa takut yang hebat. Sungguh dia tak ingin Hanggara menjadi korban kutukannya.

Harapan Giri mendadak terbit tatkala sepasang mata Hanggara yang terpejam membuka pelan. Giri menatap mata itu dengan tersenyum haru. Air mata Giri meluncur jatuh.
Hanggara dengan kekuatan tersisa melebarkan bibir, membalas senyum Giri dengan sebuah senyuman kecil.

"Syukurlah, kau sembuh." Ucap Hanggara dengan suara kecil.

Giri mengangguk-angguk dengan haru, dia kehilangan kata-kata.

"Gi-ri, a-aku....mencin..." Namun belum sempat kata-kata itu terucap kepala Hanggara telah jatuh terkulai. Kekuatan tubuhnya telah runtuh. Nyawanya lepas.

"Hanggara!" Raung Giri sekencang mungkin. Dipeluknya dengan erat tubuh pria itu.
"Jangan pergi, Hanggara! Jangan buat aku dihantui penyesalan dan rasa bersalah seumur hidup! Hanggara, kenapa kau lakukan ini? Bukankah aku sudah menyuruhmu pergi, kenapa kau kembali? Maafkan aku, Hanggara!" Sedu sedan suara Giri berkata sesenggukan.

Andai saja Hanggara patuh untuk meninggalkannya di saat dia dilanda nafsu beracun, tentu Hanggara tidak akan mati seperti sekarang.

Giri terisak-isak, pria itu terkejut saat merasa bobot Hanggara yang sedang dipangkunya mendadak berubah enteng dan ringan. Giri cepat-cepat hapus air matanya. Dia terkejut saat melihat sedikit demi sedikit tubuh Hanggara sirna layaknya taburan cahaya kembang api berwarna ungu.

Seperti yang kita ketahui, Hanggara sebenarnya sudah lama mati. Dia bisa berkeliaran dalam wujud manusia berkat kuasa Dewata dengan tugas khusus untuk menebus dosa. Sekarang tugas itu telah selesai. Dia harus kembali melebur dengan semesta.

Giri kembali memeluk erat tubuh itu sebelum Hanggara benar-benar sirna menyatu dengan cahaya. Ketika Hanggara benar-benar hilang maka Giri pun tak dapat menutupi rasa sedih karena kehilangan. Dia terduduk diam seperti orang linglung. Air mata tak hentinya menetes.

Saat itu tiba-tiba terdengar suara mengiang di telinganya.
"Jangan bersedih, Giri Prawara! Hanggara telah melakukan pahala besar yang belum tentu bisa dilakukan oleh kebanyakan orang, yakni berkorban demi orang yang dia cintai. Dia tidak mati. Dia akan terlahir kembali. Semoga di kehidupan selanjutnya kalian dapat bertemu kembali."

MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang