Wisnu Dhanapala dengan dibantu Dhanu berhasil menyembuhkan luka para pendekar yang masih hidup.
Para pendekar yang selamat kini berkumpul. Jumlahnya tak seberapa. Yakni Wisnu Dhanapala, Indradhanu, Lintang Arganata, Gilang Kusuma, Raja Peri, Pangeran Chandra, Peri Kasih, Satra Dirgantara, Raja Merak, Pangeran Esa Kanagara, Anggun, Ringgita, Priyandhana juga Giri Prawara serta Elang Timur. Tak lupa pula masih ada Ratu Kameswari dan Yudhayaksa. Dua orang terakhir ini selamat karena di saat-saat terakhir pertempuran, keduanya memutuskan mengundurkan diri karena Ratu Kameswari cedera berat dan Yudhayaksa berusaha mengobatinya.
Mereka semua bersedih, terutama Priyandhana dan Anggun. Priyandhana kehilangan empat orang sekaligus, yakni kakek nenek serta ayah ibu. Ringgita tampak merangkul lelaki itu mencoba memberikan semangat. Anggun juga sama, terisak-isak di pelukan Pangeran Esa Kanagara.
Dhanu gigit bibirnya karena merasa bersalah. Dia lah penyebab kematian orang-orang terdekat itu. Lelaki ini langsung bersimpuh.
"Semuanya, tolong hukum aku! Aku rela mati menebus semua kesalahanku."
Wisnu terpekur, ingin rasanya dia membela sang anak. Tetapi dia sadar meski sang anak melakukan kejahatan itu di luar sadar, namun Dhanu tetap harus mempertanggungjawabkan.
Anggun dan Priyandhana menoleh pada Dhanu. Anggun lekas mendekati Dhanu dan memeluknya.
"Bicara apa kau, Dhanu. Kau adik Yunda. Satu-satunya keluarga Yunda yang masih tersisa. Jangan salahkan dirimu sendiri. Kalau ada orang yang patut dipersalahkan maka Dewi Ularlah orangnya."
Dhanu terharu, dia pun menangis sesenggukan di bahu Anggun. Di dalam benaknya melintas bayangan Ki Cipta Reksa dan Nyai Jinggan, bahkan saudara-saudara seperguruannya yang lain yang telah menjadi korbannya.
"Yunda, dosaku besar sekali." Ratap Dhanu.
Anggun berlapang hati, dia memeluk berusaha meyakinkan sang adik bahwa itu bukan mutlak kesalahannya.
"Dhanu, apa yang dikatakan Anggun itu benar. Dewi Ular lah penyebab semua ini." Celetuk Priyandhana.
Lelaki itu lekas mendekat, lalu bersama Anggun dia memeluk Dhanu penuh rasa persaudaraan.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Paling utama ialah mengurus jasad para sahabat yang gugur." Sahut Wisnu Dhanapala.
Semua mengangguk setuju. Dengan bahu membahu mereka pun menyiapkan upacara pemakaman.
*****
Beberapa hari setelah upacara pemakaman, semua orang berkumpul di depan sebuah rumah kayu kecil. Rumah yang dibangun dengan darurat oleh para pendekar. Sekarang mereka siap untuk saling berpamitan.
Yang paling awal pamit adalah Satra Dirgantara dan Raja Merak. Mereka ingin kembali ke Pulau Bambu Hijau.
"Kita berpisah lagi, Wisnu! Kuatkan hatimu! Jika kau kangen, kau boleh berkunjung ke pulau kami, demikian pula sebaliknya. Kami akan sering mengunjungimu ke Hutan Kayu Wangi." Ucap Satra saat memberi pelukan perpisahan.
"Kau juga, semoga pulau yang kau pimpin menjadi semakin makmur dan ramai disinggahi para pedagang lintas Negari." Ucap Wisnu.
Satra beralih pada Dhanu, dia juga memeluk keponakan angkatnya itu, "Jaga-jaga ayahmu ya, Dhanu! Jangan kecewakan dia lagi."
Satra dan Raja Merak juga berpamitan pada yang lainnya. Diikuti oleh tatapan dan lambaian tangan para sahabat, dua pendekar dari Pulau Bambu Hijau itu pun pergi meninggalkan Lembah Air Mata yang telah porak poranda.
"Sahabat semua, sekarang giliran kami pula." Sebut Ratu Kameswari, tampak kening perempuan itu diikat oleh sehelai kain guna menutupi luka akibat pecahnya mustika ular. Mengenai mustika sakti itu, Ratu Kameswari dengan kesaktiannya berhasil mengumpulkan seluruh pecahan. Dengan kesaktian sekaligus tapa brata, dia ingin memperbaiki mustika itu agar kembali menjadi utuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
Fantasi"Hridaya pravahita anugraha" Cinta adalah anugerah yang mengalir dari hati. Lintang Arganata seorang murid cekatan dari padepokan Linggabuana mendapatkan tugas memberikan undangan adu tanding Kanuragan ke Padepokan Kembang Dewa. Di sana Lintang Arg...
