Di dalam rumah kayu itu tampak telah duduk beberapa tokoh silat ternama. Sebahagian telah dikenal oleh Lintang, yaitu Satra Dirgantara dan Raja Merak, juga Nenek Lembah Air Mata, Iblis Pantun, Candrika Dewi dan Kandito.
Namun ada pula beberapa tokoh silat yang belum pernah dia lihat sebelumnya, yaitu yang pertama seorang pendekar yang seluruh rambutnya berwarna putih, nyaris seputih salju, berpakaian serba biru. Di punggungnya tergantung sebilah pedang yang hulunya berbentuk kepala Naga Biru. Meski rambutnya putih keseluruhan, tetapi wajahnya tak tampak tua, mungkin usianya sekitar 40an, dia adalah Gilang Kusuma. Seorang pendekar sakti yang sempat menjadi murid Wisnu Dhanapala.
Lalu di sebelah Gilang, ada pula seorang pemuda yang berusia sekitar tiga puluhan berpakaian serba merah, parasnya tampan, dan di punggungnya juga tergantung sebilah pedang dengan tangkai berbentuk kepala naga berwarna merah. Dia adalah Prana, murid terakhir Wisnu Dhanapala yang dipersunting oleh Gilang Kusuma.
Namun perhatian utama mereka ialah pada tiga orang yang duduk berdampingan, yakni Elang Timur dan Peri Kasih, serta seorang tua yang tampak sudah teramat sepuh, berpakaian kuning compang-camping dan membawa sebuah tongkat bambu berwarna kuning, dialah Pengemis Cinta. Konon kakek satu ini merupakan tokoh silat golongan putih yang paling tua.
"Yang Mulia!" Seru Elang Timur tatkala melihat kemunculan Giri Prawara, pria itu langsung jatuhkan diri berlutut.
"Timur!" Seru Giri kaget mendapati anak buahnya itu juga ada di sana. Giri serta merta memegang kedua bahu salah seorang anak buah kepercayaannya itu. Ada haru yang membungkus hatinya. Giri menarik bahu Elang Timur mengajak berdiri. Begitu kedua orang itu berhadapan, Giri langsung memeluk pria itu.
Elang Timur kaget, seumur-umur menjadi salah seorang pengawal utama Giri, baru kali ini sang pemimpin memeluknya.
"Bagaimana kabarmu, Timur? Kenapa bisa sampai ke sini?" Tanya Giri Prawara.
Sebelum Elang Timur menjawab, Nenek Lembah Air Mata mempersilahkan sluruh tamunya buat duduk. Semua orang duduk bersila di lantai karena jumlah kursi yang tidak memadai.
Candrika Dewi, Kandito, Ringgita dan Nini Palupi kebagian tugas untuk menyajikan minuman dan hidangan ringan.
"Setelah kami menduga Yang Mulia tiada dan jasad Yang Mulia dibawa oleh para peri ke Megapura, saya dan Elang Selatan selalu berusaha mencari celah menuju Megapura untuk merebut kembali jasad Yang Mulia. Namun, penjagaan di Megapura teramat sangat ketat." Elang Timur menjawab pertanyaan Giri tadi.
"Aku belum mati, Timur! Dewata masih menyayangiku, oh iya, di mana Elang Selatan?" Ujar Giri sambil ajukan pertanyaan.
"Elang Selatan saat ini yang bertugas menjaga Negeri Elang Putih," jawab Elang Timur.
"Semuanya, saat ini dunia benar-benar sudah kisruh dan carut marut. Tak hanya dunia persilatan, tetapi juga dunia para Peri di Megapura," sela Peri Kasih.
Beberapa orang yang belum mengenal perempuan ini serta merta memandang lekat karena ingin tahu, bahkan beberapa di antara mereka mengagumi kecantikan peri ini.
Tahu arti pandangan itu, Peri Kasih pun tersenyum manis, "Maaf, saya terlanjur bicara tanpa sempat memperkenalkan diri, Saya Peri Kasih, salah seorang penghuni Megapura, namun sekarang saya lebih suka dipanggil dengan nama asli saya, yakni Wulandari."
"Pantas saja dia cantik jelita, ternyata seorang peri, toh?" Bisik Raja Merak di telinga Satra Dirgantara.
Satra tak menjawab, hanya saja diam-diam tangannya mencubit perut Raja Merak karena jengkel. Bisa-bisanya sang kekasih malah membahas sesuatu yang tidak penting.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi?" Tanya Ki Cipta Reksa. Lelaki ini sebenarnya sedang bercabang-cabang pikirannya. Pertama dia menghawatirkan keadaan Dhanu yang berhasil dikuasai Dewi Ular, lalu kedua dia juga mencemaskan keadaan sang putri kandung, Anggun Sasmita yang dikutuk menjadi seekor anjing, lalu keadaan sang istri yang masih mengidap luka dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
Fantasy"Hridaya pravahita anugraha" Cinta adalah anugerah yang mengalir dari hati. Lintang Arganata seorang murid cekatan dari padepokan Linggabuana mendapatkan tugas memberikan undangan adu tanding Kanuragan ke Padepokan Kembang Dewa. Di sana Lintang Arg...
