Dewi Ular mendesah dan mengerang dengan cabul, dia sedang melahap dan mempermainkan benda keras dan panjang milik Wisnu dengan mulutnya. "Milikmu memang asyik, Wisnu. Ah belum pernah aku menemui pelir seindah milikmu. Aku betah menjilatnya." Ucap Dewi Ular. Kembali dia membenamkan kemaluan Wisnu itu ke dalam mulut.
Wisnu pejamkan mata dan tenangkan aliran darah untuk membendung rangsangan yang diberikan Dewi Ular. Namun Dewi Ular tak mau mengalah, dia kerahkan Ajian Nafas Birahi yang bisa membuat Wisnu terpanggang nafsu.
"Tenaga dalam Wisnu memang hebat, dia sanggup membendung rayuanku yang sudah ku barengi dengan ajian pemikat. Tapi dia juga dalam keadaan tak berdaya, ahhh ini saatnya, sudah lama aku ingin mencicipi miliknya ini lagi!" Dewi Ular sudahi acara jilat-jilatnya. Kini dia ambil posisi jongkok tepat di atas selangkangan Wisnu.
Wisnu pentang mata lebar-lebar, "Apa yang mau kau lakukan, Perempuan Ular!" Bentaknya tak senang.
Dewi Ular cuma cekikikan, dia basahi bibir dengan lidah, "Tentu saja ingin membenamkan kejantananmu ini ke dalam liang surgaku."
"Tidak! Jangan!" Teriak Wisnu, dia alirkan tenaga dalam berharap dapat memutuskan jeratan tanaman menjalar di sekujur tubuh. Namun sia-sia.
"Tak usah munafik. Begitu kejantananmu menancap, aku jamin kau akan ketagihan." Dewi Ular raih batang jantan itu lalu di arahkan ke jalur liang kewanitaan. Dewi Ular siap berjongkok menduduki batang daging hangat itu.
"Dhanu! Tolong Paman!" Teriak Wisnu.
Sesaat lagi kepala kelamin Wisnu amblas ke dalam kemaluan Dewi Ular, tiba-tiba dari sudut kamar melesat satu sinar merah menghantam sisi kiri Dewi Ular. Perempuan itu menjerit dan langsung terlempar dari ranjang lalu jatuh bergedebuk di atas lantai.
"Apa yang terjadi?" Kejut Dewi Ular, lekas dia bangkit. Ketika dia melihat ke sudut kamar tampak Dhanu telah bangkit dengan sekujur tubuh di keliling kelopak-kelopak mawar.
"Anakku? Kau yang menyerang ibu?"
"Jangan sentuh dia, Ibu!" Bentak Dhanu dengan mata berkilat.
"Kenapa anakku? Dia musuh kita. Dia tahanan kita. Ibu bebas melakukan apapun terhadapnya."
"Tidak! Dia milikku, bukan ibu! Aku yang meringkusnya!" Keras Dhanu, wajahnya tampak menegang.
Dewi Ular kertakkan rahang karena tak senang, "Dengar Dhanu! Kau anakku, kau harus patuh padaku!"
"Aku akan patuh semua perintahmu kecuali menyakiti lelaki itu!" Dhanu berkata dengan lantang dan yakin.
"Kurang ajar!" Dewi Ular tudingkan jari telunjuk kanan, sebaris sinar hijau melesat.
Dhanu cuma tertawa terbahak-bahak, sekali dia menjentikkan jari, serangan Dewi Ular lenyap tak berbekas entah ke mana.
"Dengar Ibu! Jika ingin aku tetap patuh pada perintahmu maka kau harus penuhi syarat dariku!" Tawar Dhanu, tampak wajahnya menegang dan keras, urat-urat di pipi dan mata bahkan leher bertonjolan. Dewi Ular bergidik ngeri, terlebih-lebih tampak sepasang mata Dhanu yang melotot berubah-ubah warna, dari hitam menjadi hijau dan kembali hitam.
Dewi Ular gentar melihat hal itu.
"Jangan menyentuh apalagi menyakiti lelaki itu! Jika tidak, kau dan kerocomu akan ku jadikan bangkai dan pupuk tanaman mawarku!" Selesai mengancam Dhanu tertawa keras, terasa rumah kayu itu bergoncang, dari dalam lantai merayap tanaman menjalar yang merambat ke seluruh dinding.
Byakta, Ratu Peri dan Dharmaji yang berada di luar juga terkejut, lekas mereka sudahi kegiatan mesum masing-masing dan berlari ke kamar di mana Dewi Ular dan Dhanu berada.
Pintu terbuka, ketiganya terkejut melihat aura jahat yang memancar jelas dari tubuh Dhanu. Ketika Dhanu melirik ke arah mereka, Byakta, Ratu Peri dan Dharmaji langsung tercekat. Apalagi melihat sepasang mata Dhanu yang berubah-ubah warna itu. Hitam lalu hijau, demikian berulang-ulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
Fantasi"Hridaya pravahita anugraha" Cinta adalah anugerah yang mengalir dari hati. Lintang Arganata seorang murid cekatan dari padepokan Linggabuana mendapatkan tugas memberikan undangan adu tanding Kanuragan ke Padepokan Kembang Dewa. Di sana Lintang Arg...
