Pertempuran besar itu terus berlanjut. Berkat tiruan Pedang Intan Gerbang Semesta yang digenggam para prajurit siluman burung dan juga siluman ular bawahan Ratu Kameswari dan Yudhayaksa, perlahan-lahan posisi para pendekar golongan putih mampu mendesak golongan hitam siluman. Padahal mereka kalah jumlah.
Iblis Naga alias Byakta mendengus geram melihat gabungan siluman jahat yang mulai terdesak. Ketika dia melihat pada Indradhanu karena ingin meminta pendapat, dia melihat Indradhanu sedang bertarung melawan Lintang Arganata.
Byakta tak dapat menahan sabar, dia harus terjun langsung ke dalam pertempuran. Tapi sebelum itu dia berteriak mengatakan sesuatu pada Indradhanu.
"Dhanu, jangan buang-buang waktu dengan budak hina itu! Lekas kutuk dia jadi makhluk tak berguna. Lalu bantu kami membantai musuh!" Selesai berucap lantang, Byakta langsung melompat ke tengah pertarungan, sosoknya melayang di udara sambil menendangi kepala beberapa siluman golongan putih. Yang kena tendang langsung roboh dengan kepala rengkah.
Ketika dia ingin menendang sekali lagi tiba-tiba dua bayangan berkelebat. Satu bayangan putih dan satu bayangan biru. Tendangannya terpaksa ditarik mundur karena dia melihat ada tebasan pedang yang ingin memotong kakinya.
Tiga tubuh mendarat, Byakta menatap bengis pada dua orang yang tadi menghalangi tendangannya. Ternyata Ratu Kameswari dan juga Yudhayaksa. Pasangan kekasih itu tegak sambil menghunuskan tiruan Pedang Intan.
Byakta mendengus, "Baguslah Yudha! Kau datang sendiri mengantarkan nyawa. Adapun untuk kekasihmu itu?"
Byakta melirik pada Kameswari, "Dia cocok jadi pelacur di istanaku!"
Menggelatuk rahang Kameswari. "Iblis Naga jahanam! Kau telah membantai habis orang-orang di istanaku, kali ini aku tak akan mengampuni!"
Kameswari putar pedangnya sejenak untuk mengumpulkan daya hantam, ketika pedang ditusukkan segulung sinar putih yang di kelilingi asap menyambar.
Byakta tertawa remeh, "Jurus Gelugut Ular Putih? Apa hebatnya?"
Byakta alirkan tenaga dalam, di tangan kanannya kini tergenggam sebilah pedang berwarna hitam. Pedang itu diterabaskan hingga mengeluarkan sinar ungu berbentuk kipas yang menebar hawa panas. Ajian "Kipas Ungu Sayap Naga."
Ledakan keras terdengar dahysat saat dua jurus sakti itu saling bertabrakan. Beberapa siluman yang bertarung di dekat mereka jatuh roboh karena terpapar pecahan hawa sakti. Sri Kameswari sendiri terlempar, beruntung Yudhayaksa cepat menangkap.
Adapun Byakta mundur beberapa langkah dengan tangan kesemutan. Dari adu jurus tadi Byakta menyadari bahwa tenaga dalamnya jauh unggul dari Ratu Ular Putih itu. Maka senyum sombong pun mengembang.
"Sepertinya takdir memang menetapkanmu harus menjadi pelacurku, Kameswari! Tapi sebelum itu biar ku bunuh dulu Yudha kekasihmu itu."
Ratu Kameswari meludah, "Kau kelewat sombong! Kakang, ayo kita serang dia bersama!"
Ratu Kameswari serahkan Pedang Intan miliknya pada Yudhayaksa. Kini lelaki berpakaian biru itu membekal sepasang pedang. Adapun Kameswari mulai komat-kamit, di keningnya muncul menempel sebuah batu mustika. Itulah benda sakti bernama Mustika Agung Ular Khayangan.
Tak hanya itu, di kedua telapak tangan Kameswari menjulur keluar sepasang ular putih bermata merah yang bagian ekornya tak terlihat karena ada di dalam tangan Sri Kameswari. Sepertinya panjang ular itu tak memiliki batas
Sepasang ular putih itu mendesis lalu menyambar cepat ingin mematuk Byakta.
Bersama dengan melesatnya sepasang ular itu, maka Yudhayaksa turut bergerak. Sosoknya menerjang dengan terabasan dua pedang. Sepasang pedang itu buat gerakan seperti ingin menggunting pinggang Byakta.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
Fantasia"Hridaya pravahita anugraha" Cinta adalah anugerah yang mengalir dari hati. Lintang Arganata seorang murid cekatan dari padepokan Linggabuana mendapatkan tugas memberikan undangan adu tanding Kanuragan ke Padepokan Kembang Dewa. Di sana Lintang Arg...
