"Isih adoh."
-Areksa Mahendra-
🌾
Halo semuaa...makin rame aja cerita ini🥺
Terima kasih atas antusiasme kalian buat kapel satu ini. Terima kasih atas kritik sarannya juga, termasuk tentang alur yang lambat. Mulai dua atau tiga bab kemarin udah aku usahain biar sat set yaa, semoga nggak keliatan terlalu ngebut. Nanti takut dikira aku juga pengikut Bu Ningrum sama Pak Sutardi, padahal kan aku gebetannya Kipli😇
Dah, itu dulu. Pokoknya kalau ada yang kurang mohon masukannya ya. Selamat membaca💚
[Bantu koreksi salah ketik ya!]
🌾
"Ibuku bilang gitu pa, Nin?" tanya Areksa di sambungan telepon itu.
"Iya, Mas. Sampe bingung aku mau jawab apa tadi. Untungnya udah keburu pulang." Nindya menempelkan ponselnya ke telinga. Ia duduk di tepi kasur dengan mengayun-ayunkan kakinya yang masih terjulur ke bawah.
Di malam yang sudah larut ini, sepulangnya Nindya dari rumah Areksa, ia tidak bisa tertidur karena memikirkan perkataan Bu Ningrum tadi. Akhirnya, ia mutuskan untuk mengirim pesan singkat pada Areksa dan tanpa ia duga, Areksa pun menelponnya hingga keduanya berakhir melakukan panggilan suara di saat orang-orang rumah sudah tidur.
"Jangan dijadiin beban, ya," pesan Areksa.
"Kalian sekeluarga hobi bikin aku kaget ya?" tuduh Nindya.
"Enggaklah." Areksa mengelak.
"La itu lho, mulai dari Kipli, terus kamu, sekarang Ibu. Jantungku bisa rontok beneran deh kalau gini."
Areksa berdecak tak suka. "Jangan ngomong gitu."
"Guyon, Mas."
"Besok Ibu tak bilangin, biar nggak kayak gitu lagi," putus Areksa.
"Eh, nggak usah!" Nindya buru-buru mencegah.
"Nggak enak aku, Mas. Bukannya gimana ya..." Nindya menjeda ucapannya untuk minum sejenak. "Bingung aja, gitu," keluhnya.
"Emang umur-umur segini udah harus ngadepin pertanyaan kayak gitu ya?" Nindya merebahkan tubuhnya dan mendekap guling erat-erat.
"Ibu sebenernya udah tahu, Nin, niatku ke kamu. Udah tak bilangin juga buat jangan apa-apa panggil kamu dulu."
"Ya ampun..." Respon Nindya yang semakin tidak enak dengan Bu Ningrum.
Nindya merubah posisinya menjadi tengkurap. Di gelapnya kamar tidurnya, hanya ponselnya yang masih menyala. Ia menyandarkan ponsel ke bantal dan lanjut berbicara. "Jangan digituin deh, Mas, ibunya..."
"Kalo nggak gitu kasihan kamu, Nin. Udah, aku aja yang deketin kamu. Ibu bisa belakangan," balas Areksa, mencoba memberi pemahaman untuk Nindya.
Nindya menggeram kecil sambil menghentakkan kakinya ke kasur. "Gombalmu smooth banget, Mas."
Areksa menanggapi dengan kekehan kecil. Laki-laki itu tadi bercerita jika ia sudah siap tidur di awal percakapan mereka dan tidak merasa terganggu dengan aduan Nindya.
"Tenan ta, Nin. Aku ora gombal."
"Iya deh, Mas. Tapi, jangan bilang ke ibumu ya kalau aku cerita ini ke kamu!" pinta Nindya. "Janji, omongan ibumu tak lupain, Mas."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Любовные романы[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)