31. Pamit

161 25 8
                                        

"Lo gila ya, Tin? Maksud lo apaan nitipin gue ke Javas?" Asteria menatap Justin dengan mata yang berkilat marah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lo gila ya, Tin? Maksud lo apaan nitipin gue ke Javas?" Asteria menatap Justin dengan mata yang berkilat marah.

Kini di ruangan itu hanya tersisa mereka berdua. Javas dan Cassandra sudah pergi, sadar bahwa ini adalah percakapan yang harus diselesaikan tanpa campur tangan orang lain.

Justin menghembuskan napas dengan berat, "Bel, gue benar – benar udah enggak punya apa – apa lagi. Tempat tinggal pun gue udah enggak punya. Gue enggak bisa, Bel, bawa lo untuk hidup tanpa tujuan kayak gini,"

Asteria mendengus, menatap Justin dengan sorot tajam. "Oh, maksud lo, lo merasa terbebani kalau gue ikut sama lo gitu?" potongnya cepat.

"Enggak gitu, Bel. Gue enggak punya tempat tinggal, gue enggak mungkin biarin lo kesusahan dengan hidup sama gue. Maka dari itu gue titipin lo ke Javas, hanya sementara, setelah itu gue akan kembali lagi kalau gue udah punya penghasilan dan punya tempat tinggal." Jelas Justin, berharap perempuan yang dia cintai mengerti akan alasannya.

"Lo bilang begitu, seakan – akan gue ini cewek manja. Justin, gue enggak peduli dengan keadaan lo. Gue enggak masalah mau tinggal di mana pun, bahkan kalau gue harus tidur di pinggir jalan sama lo pun, gue mau. Asalkan itu sama lo!" Tegas Asteria.

Justin terdiam. Rasa sesak menggelayuti dadanya. Dia tahu Asteria tulus, tapi dia tidak bisa membiarkannya hidup dalam kesulitan.

"Bel, tolong hargai keputusan gue..." lirihnya, nyaris memohon.

Asteria menggeleng. Nada suaranya mereda, tapi keteguhannya tak goyah. "Enggak, Tin. Lo suami gue. Mau lo hidup senang atau susah, gue bakal nemenin lo. Apalagi lo kehilangan semua harta lo gara-gara gue. Tolong, jangan tinggalin gue."

Justin menatapnya, ragu. Hatinya ingin mempertahankan Asteria di sisinya, tapi logikanya menolak. "Kalau lo ikut gue, lo mau tidur di mana, Bel?"

"Apa seluruh harta yang lo kasih ke Jinan, udah termasuk dengan Apartemen tersembunyi lo di Bandung?" Tanya Asteria.

Justin tertegun. Otaknya berputar cepat, lalu matanya membulat seolah baru mendapat pencerahan. "Enggak, Bel. Enggak ada yang tahu soal apartemen itu."

"Kita tinggal aja di sana, Tin. Memulai hidup baru di Kota lain," ujar Asteria tanpa ragu. Perempuan itu benar – benar tidak mau di tinggalkan Justin.

Justin mengerutkan kening. "Tapi, Bel, kalau kita tinggal di sana, lo bakal jauh dari Javas."

Justin tahu orang yang dekat dengan Asteria, selain dirinya, ada Javas juga. Apalagi hubungan Javas dan Asteria sudah seperti kakak beradik.

Asteria hendak menjawab ketika suara dari balik tembok membuat mereka menoleh. "Sorry, gue ikut nimbrung." Javas muncul dengan santai. "Kalau kalian pindah ke Bandung, gue sama Cassandra bakal sering kunjungin. Jakarta-Bandung itu deket."

"Tapi, Jav—"

"Udah, Tin," potong Javas sambil menepuk bahu Justin. "Istri lo kecintaan banget sama lo. Dia mau tinggal sama lo. Kalau pindah ke Bandung adalah solusi terbaik, gue dukung. Yang penting, Abel bahagia."

Hi, Husband!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang