34. Meet Again

147 23 1
                                        

"Saya akan membantu kamu, tapi dengan satu syarat—kamu harus meninggalkan Justin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Saya akan membantu kamu, tapi dengan satu syarat—kamu harus meninggalkan Justin."

Kalimat itu terus bergema di kepala Asteria, tak henti memukul-mukul kesadarannya. Ia seperti rekaman rusak yang tak kunjung berhenti berputar, seolah ingin memastikan Asteria mengingatnya setiap saat. Itu kalimat yang Mama Diana ucapkan dengan nada dingin saat Asteria datang mengetuk pintu rumah mewah itu, memohon pertolongan demi nyawa Justin.

Justin terluka parah hingga tidak sadarkan diri. Dokter bilang dia harus segera dioperasi, tapi rumah sakit menolak melanjutkan prosedur sebelum biaya yang begitu besar dilunasi. Nominal yang tertera di tagihan membuat lutut Asteria lemas. Semua tabungannya tak ada artinya dibandingkan angka itu.

Ia sudah mencoba meminjam uang pada Javas, satu-satunya orang yang masih ia percaya. Tapi Javas hanya bisa menatapnya dengan mata penuh penyesalan, sambil menggeleng perlahan. Dia tidak punya uang sebanyak itu.

Jadi Asteria nekat. Dia titipkan Justin pada Javas dan pergi sendiri ke Jakarta. Dalam kepalanya, orang tua Justin adalah satu-satunya harapan. Tapi kenyataan jauh lebih kejam dari yang pernah ia bayangkan.

Mereka tidak peduli. Mereka hanya akan membantu dengan satu syarat: ia harus meninggalkan Justin.

Saat itu, dengan napas yang tercekat dan dada yang serasa pecah, Asteria menjawab pelan namun mantap, suaranya bergetar di ambang tangis,
"Maaf, Tante, Om... kalau syaratnya seperti itu, saya tidak sanggup. Justin selalu ada untuk saya, di saat sedih maupun bahagia. Saya tidak akan pernah meninggalkannya."

Ia tidak bisa mengerti. Bahkan ketika nyawa anak mereka sendiri sedang dipertaruhkan, hati mereka masih juga keras dan penuh perhitungan.

Justin tidak pernah meninggalkan Asteria di keadaan apapun, maka Asteria pun akan melakukan hal yang sama untuk Justin. Selamanya Asteria tidak akan pernah meninggalkan Justin.

Kini langkah Asteria terayun gontai di trotoar, seolah kakinya berjalan sendiri sementara pikirannya terperangkap dalam pusaran panik dan keputusasaan. Matanya kosong, namun kepalanya penuh ribut pertanyaan—bagaimana ia harus membayar semua itu? Bagaimana menyelamatkan Justin?

Tin... tin...

Suara klakson memecah lamunannya.

"Belle!"

Asteria mendongak, tersentak. Mobil yang berhenti di tepi jalan itu begitu familiar. Ia mematung ketika melihat sosok yang turun dari dalamnya. Vian.

Dalam kebisuan yang menyiksa, Vian berlari menghampirinya, napasnya memburu.
"Belle, kamu ngapain di sini? Justin mana?" tanyanya cepat, nada suaranya penuh cemas.

"Vi... Vian..." Asteria tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya berdiri di sana, menatap Vian dengan mata memerah, lalu pecah dalam tangis yang akhirnya tak bisa lagi ia tahan.

"Eh, Belle... kenapa? Kamu jangan nangis kayak gini... ada apa?" Vian menatapnya panik, kedua tangannya ingin meraih, namun ragu.

"Vian... Justin... Justin kecelakaan..." suara Asteria serak, patah di tengah isak yang kian membesar.

Hi, Husband!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang