36. Welcome back, justin

81 18 1
                                        

Asteria menatap wajah Justin dengan harap yang tak pernah padam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Asteria menatap wajah Justin dengan harap yang tak pernah padam. Kelopak mata lelaki itu masih tertutup, napasnya teratur, namun suaminya belum juga siuman. Operasi telah berjalan lancar—dokter mengatakan semuanya baik-baik saja—kini Justin hanya membutuhkan waktu untuk pulih. Meski begitu, waktu terasa berjalan terlalu lambat bagi Asteria.

Ia tetap duduk di sisi ranjang, jemarinya menggenggam tangan Justin yang dingin, seolah takut lelaki itu akan menghilang jika dilepaskan. Tidak ada keluhan, tidak ada air mata—hanya kesabaran yang dipaksakan.

Hingga akhirnya, sesuatu terjadi.

Asteria melihatnya dengan jelas—jemari Justin bergerak, sangat samar, namun nyata. Napas Asteria tertahan. Tatapan yang semula penuh cemas berubah menjadi berbinar, seakan ia baru saja menyaksikan sebuah keajaiban kecil yang telah lama ia nantikan.

Tak lama kemudian, kelopak mata Justin bergerak. Terbuka perlahan, seolah berat, sedikit demi sedikit hingga akhirnya benar-benar terbuka.

Asteria tersenyum. Senyum hangat yang penuh kelegaan.

"Justin?" panggilnya lirih, takut suara itu hanya akan memecah harapannya sendiri.

Asteria menutup mulutnya dengan tangan, air mata langsung menggenang.

"Ya Tuhan..." bisiknya tak percaya.

"Justin?" ulangnya, kali ini lebih pelan, takut suara itu membuat semuanya lenyap.

Tatapan Justin sedikit kosong pada awalnya, lalu fokus perlahan tertuju pada wajah Asteria. Bibirnya bergerak, membentuk senyum kecil.

"Long time no see, my wife," katanya lirih, hampir tak terdengar.

Saat itu juga, pertahanan Asteria runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh begitu saja, membasahi pipinya. Suara itu—suara yang selama ini hanya ia dengar dalam doa dan ingatan—kini benar-benar terdengar kembali.

Justin menggerakkan tangannya dengan sisa tenaga, menggenggam tangan Asteria dengan lemah.
"Maaf, ya? Gue tidurnya kelamaan," katanya tulus.

Asteria langsung membungkuk dan memeluk tubuh Justin yang masih terbaring.

"Gue takut banget, Tin..." suaranya bergetar.  "Lo jahat banget. Lo bikin gue ketakutan. Gue takut kehilangan lo," lanjutnya, isaknya semakin pecah.

Justin mengelus kepala Asteria perlahan, sentuhannya penuh kehati-hatian.

"Maaf, sayang... maaf. Gue di sini sekarang," ucapnya lembut.

"Gue enggak akan bikin lo takut lagi. Gue enggak akan ninggalin lo. Gue enggak akan biarin lo ngadepin dunia sekejam ini sendirian."

Asteria menjauh sedikit, menatap wajah Justin. Matanya memerah, hidung dan pipinya ikut berwarna merah, namun ada kelegaan yang perlahan tumbuh.

"Iya. Lo enggak boleh ninggalin gue, Tin," katanya tegas, seolah mengikat janji itu di udara.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 08 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Hi, Husband!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang